
Selepas dari tempat latihan Kultivasi Xu Chen tak langsung kembali ke kediaman Huang Ho, melainkan berjalan-jalan melihat-lihat desa, sedangkan Yan Yu yang biasa selalu ingin bersama Xu Chen langsung pulang karena kelelahan.
Xu Chen melihat sebuah warung sederhana yang berdiri di pinggir jalan. Meskipun warung itu terlihat sederhana, tetapi banyak orang yang memilih warung sederhana itu untuk makan.
"Kebetulan aku sedang lapar!" Xu Chen memegang perutnya dan segera berjalan menuju warung sederhana.
"Suka Maju!?" Xu Chen mengeja nama warung itu.
Tanpa pikir panjang Xu Chen langsung memasuki warung Suka Maju, pemuda itu langsung di sambut dengan antusias oleh semua orang yang berada di situ.
Suasana warung yang biasanya tenang, kini begitu berbeda akibat kehadiran Xu Chen yang tiba-tiba.
Xu Chen sebenarnya tidak suka dengan situasi itu. Jika disuruh memilih Xu Chen pasti memilih untuk tidak dipedulikan, pemuda itu tak terlalu suka menjadi pusat perhatian seperti saat ini, tetapi mau tidak mau Xu Chen harus menerima perlakuan seperti itu setiap harinya dimana pun ia berada.
Semua orang yang di warung itu meninggalkan makanan mereka dan segera menghampiri Xu Chen, ingin sekali mereka sekedar menyentuh Xu Chen, apalagi para ibu sangat gemas melihat ketampanan Xu Chen, namun rasa segan dan hormat lebih besar dari rasa itu.
"Eem, apakah aku boleh memesan?"
Perkataan Xu Chen membuat suasana hening seketika, hinggah seorang wanita paruh baya menghampiri Xu Chen dengan berlari.
"M-maafkan aku pahlawan!? aku tidak menyambut pahlawan," wanita paruh baya itu menundukkan kepalanya.
Xu Chen menganggukkan kepalanya menyuruh wanita paruh baya untuk menegakan kembali kepalanya.
"Tak apa, tidak usah dipikirkan. Aku ingin sesuatu yang bisa dimakan?"
Wanita paruh baya mengerti dengan ucapan Xu Chen segera menganggukkan kepala dan berjalan meninggalkan pemuda itu.
"Makan saja begitu merepotkan!" Xu Chen menghela nafas panjang.
***
"Apa ini? gedung Alkemis?" Xu Chen menyipitkan matanya membaca sebuah tulisan yang mulai rusak karena termakan usia.
Bangunan itu terlihat sederhana juga sudah tua dan ditumbuhi lumut di mana-mana. Letak bangunan itu juga terpisah dari bangunan lainnya dan agak terisolir.
"Aku tidak pernah tahu ada tempat seperti ini di desa!?"
Kaisar Kegelapan tersenyum lebar melihat itu. Tanpa pikir panjang Kaisar Kegelapan menyuruh Xu Chen untuk segera masuk dan melihat-lihta ke dalam.
Xu Chen yang mengerti dengan pikiran Kaisar Kegelapan tanpa basa-basi segera memasuki bangunan tua tersebut.
Suara pintu yang berderit membuat Xu Chen menutup telinganya. "Uh, bangunan ini sangat tua!?" batin Xu Chen.
__ADS_1
Namun, saat Xu Chen melihat pemandangan di dalam gedung, pemuda itu menjatuhkan rahangnya kaget. Bagaimana tidak, suasana di luar dan di dalam gedung sangatlah berbeda. Jika di luar terlihat sederhana, tua, kotor, dan kumuh. Maka di dalam adalah kebalikannya, bersih, nyaman, dan terawat.
Xu Chen sebenarnya ingin memperbaiki bangunan tersebut. Namun saat menyaksikan sendiri bagaimana suasana di dalam ia mengurungkan niatnya.
"Setidaknya itu bisa dilakukan nanti!" batin Xu Chen.
Xu Chen berjalan perlahan menyaksikan berbagai alat dan bahan untuk membuat Pil, pemuda itu memandang takjub semua yang ada di depannya. Xu Chen menyentuhnya, menggoyang-goyangkannya. Pemuda itu terlihat seperti bayi yang sedang mempelajari sesuatu.
"Aku sering membaca buku-buku tentang Alkemis, tapi aku tidak pernah melihat secara langsung barang-barang seperti ini!?"
Xu Chen memang menghabiskan waktunya dulu dengan membaca buku-buku di perpustakaan keluarganyanya.
Saat Xu Chen masih sibuk dengan pikirannya. Tiba-tiba sebuah suara khas kakek-kakek mengangetkan nya.
"Anak Muda, kau bisa memecahkannya jika terus menggoyang-goyangkan seperti itu."
Karena suara itu begitu tiba-tiba dan mengagetkan Xu Chen, kerena itu botol kaca lepas dari tangan Xu Chen.
Namun, dengan cekatan dan cepat Xu Chen langsung menyambar botol kaca itu kembali ke genggamannya.
"Huuhh, hampir saja!" Xu Chen bernafas lega.
Berbeda dengan Xu Chen seseorang yang mengagetkan Xu Chen tadi tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha, kau begitu lucu, anak muda!"
Xu Chen bingung kerena jika ada yang mendekatinya pasti ia bisa merasakan hawa keberadaanya.
Xu Chen diam mematung memandanginya kakek itu dari atas hingga ke bawah dan larut dalam pikirannya.
"Siapa kakek ini? mengapa aku tidak merasakan keberadaannya? apa dia hantu?" pikir Xu Chen.
Hal lain yang membuat Xu Chen bingung adalah panggilan anak muda yang dilontarkan kakak itu kerena biasanya ia dipanggil dengan sebutan pahlawan di desa ini. Namun, Xu Chen tak memikirkan itu lebih jauh, ia malah senang tidak dianggap selalu seperti pahlawan.
"Anak muda! apa yang kau cari di tempat tua ini?"
Xu Chen masih tak menjawab entah apa yang sedang dipikirkan oleh pemuda itu.
Melihat itu kakek tua mengulurkan tangannya dan memegang bahu Xu Chen.
Xu Chen bisa merasakan bahunya seperti tersengat listrik kecil, pemuda itu seketika tersadar "Ah, M-maafkan junior!?" Xu Chen sedikit menundukkan kepalanya.
Setelah menyaksikan semua itu Xu Chen yakin bahwa kakek yang tengah berdiri di depannya adalah seniornya.
__ADS_1
Kakek tua mengerutkan keningnya "Kau meminta maaf, tetapi tak menunjukan rasa bersalah!?" Menatap Xu Chen penuh makna. "Mana hormatmu?" Kakek tua itu meninggikan suaranya.
"Aku hanya menerima maaf dengan cara berlutut!?" lanjut kakek tua.
Xu Chen tak bergeming sama sekali, ia memang menatap kakek tua itu dengan rasa hormat, tetapi tidak sampai bisa membuatnya berlutut.
"Aku sudah meminta maaf dengan tulus kakek tua, lagipula benda itu tak pecah," Xu Chen berdalih. ia memang telah meminta maaf dengan tulus, ia bahkan menundukkan kepalanya, sesuatu yang sangat jarang ia lakukan.
"Begitukah? biar aku sebutkan kesalahan mu..." Kakek tua memasang seringai lebar.
Kakek tua itu lalu menggenggam bahu Xu Chen lebih erat mengalirkan Qi-nya, mencoba membuat Xu Chen untuk berlutut.
Xu Chen bisa merasakan tekanan seberat gunung bersarang di bahunya. Namun, Xu Chen tak menyerah begitu saja, ia mengalirkan Qi Gelapnya dalam jumlah yang besar untuk menahan tekanan itu.
Namun, meskipun Xu Chen sudah mengalirkan banyak Qi Gelap beban di bahunya tak berkurang sama sekali.
"Kesalahan pertama, masuk tanpa izin!" Kakek tua mulai menyebutkan kesalahan Xu Chen.
"Kesalahan kedua, menyentuh barang-barang ku tanpa izin!"
Setiap kakek tua menyebutkan kesalahan Xu Chen, semakin berat pula beban yang Xu Chen rasakan di bahunya.
"Kesalahan ketiga..." kakek tua menatap Xu Chen, "tidak hormat padaku!"
Lantai tempat Xu Chen berpijak seketika retak lalu pecah. Xu Chen terjerambah ke tanah hinggah kaki sampai lututnya tertanam dalam tanah.
Namun, Xu Chen tak berlutut sama sekali bagi pemuda itu lutut seorang pria adalah emas dan pantang untuk dijatuhkan ke tanah.
Xu Chen mulai merintih kesakitan, pemuda itu sudah tak merasakan bahunya sama sekali. Xu Chen sebenarnya sudah meminta bantuan kepada Gurunya, tetapi dengan tidak pedulinya Kaisar Kegelapan menolak mentah-mentah Xu Chen, Kaisar Kegelapan dengan santai dan tanpa berdosa mengatakan itu adalah salah satu latihan untukmu.
Saat Xu Chen sudah pada batas kemampuannya, tiba-tiba tekanan dahsyat yang di berikan kakek tua hilang tak berbekas.
Xu Chen kaget dengan hal itu, ia pikir kakek tua yang tengah berdiri tegak di depannya akan membunuhnya. Tapi apa sekarang kakek tua itu tersenyum lebar pada Xu Chen.
"Siapa namamu anak muda?!" Kakek tua memasang senyum lebar seolah tak terjadi apa-apa.
"Chen..." Xu Chen menjawab dengan ragu-ragu.
"Chen, berarti dermawan dan pemberani?!" kakek tua mengelus janggut panjangnya yang sudah memutih. "Pantas kau begitu berani!"
"Namaku Huang Po Sin, kau bisa memanggilku Po Sin"
...*****...
__ADS_1
Support author dengan Like/Komen dan Vote
Jangan lupa juga! yang belum memberikan rate pada novel ini, author mohon segera berikan rate tertinggi ya!!!