
Seminggu berlalu semenjak Xu Chen menghabisi tiga utusan Kaisar Qin, selama itu Xu Chen menfokuskan latihan pernapasan dan mengonsumsi banyak sumber daya berharga
untuk meningkatkan kultivasinya.
Hasilnya tidak mengecewakan Xu Chen telah mencapai ranah Master Bintang Lima, sebuah pencapaian yang amat luar biasa tidak pernah tercatat dalam dunia bela diri untuk pemuda sesusianya.
Dalam tempo seminggu itu juga, Xu Chen belajar tentang suatu ilmu yang dianggap tabu oleh para Kultivator yakni ilmu racun. Pemuda mempelajari ilmu racun tingkat tinggi dari Kitab Tujuh Racun salah satu Kitab Surgawi.
Xu Chen kini bisa menghadapi beberapa Kultivator dengan ranah yang lebih tinggi darinya, bahkan jika Xu Chen menggunakan seluruh kekuatan yang dia miliki, pemdua itu mungkin bisa menghadapi Kulitivator ranah Grand Master.
"Hahh," Xu Chen menghela nafas panjang, asap putih keluar dari mulutnya, pemuda itu baru saja melatih sebuah tehnik pernapasan tingkat tinggi, yang bisa membuat pikiran jernih dan berdampak pada penahan ilmu yang baik.
Seminggu ini juga Xu Chen tidak hanya berlatih, dirinya merancang sebuah rencana untuk memulai menjalankan tugasnya mendatangi kota Sinjin.
Perhitungan Xu Chen hari ini adalah hari yang tepat untuk bertamu di kediaman Walikota, karena sebagian tentara kota itu sedang dalam panggilan pemerintah, ditugaskan untuk mengatasi gejolak yang terjadi di perbatasan.
Xu Chen sebenarnya ingin mendatangi Keluarga Fei lebih dahulu untuk menyelidiki kasus jual beli budak, namun karena kejadian beberapa hari yang lalu yakni tiga orang utusan Kaisar, Xu Chen memutusakan untuk menghancurkan kediaman Walikota lebih dahulu.
Tidak ada yang rumit dari rencana Xu Chen, cukup menyelinap diam-diam dan membunuh Xu Qing atau lebih dikenal dengan nama Guan Xing.
Hal tersebut sebenarnya beresiko jika Xu Chen ketahuan ingin membunuh Walikota, selain pemerintah Sinjin memiliki militer yang cukup banyak Guan Xing juga dikenal sebagai Walikota yang cukup baik di mata warga.
Namun Xu Chen menduga sifat baik Guan Xing hanyalah sebuah topeng untuk menutupi sifat aslinya, jika dipikir-pikir lagi hal tersebut sangatlah marak digunakan oleh orang-orang yang hidup di dunia politik apalagi sebagai penjabat pemerintah.
Meski kematian Walikota akan menimbulkan gejolak yang besar, tetapi Xu Chen sudah memikirkan resikonya. Lagi pula jika semua berjalan lancar tidak akan yang akan mengetahui pemuda seperti Xu Chen pembunuhnya, karena setiap hari banyak orang yang keluar masuk kota Sinjin, sebab kota itu pusat bisnis.
Malam telah tiba, sesuai jadwal yang telah direncanakan oleh Xu Chen sendiri, saat ini adalah waktu yang tepat untuk beraksi.
__ADS_1
Xu Chen memakai jubah hitam seperti warna langit malam, dia juga memakai topeng berbetuk wajah setan dengan dua taring yang menyeramkan, serta Pedang Malam Abadi yang tersarung rapi di pinggangnya.
"Malam ini bulan bersinar terang, waktu yang tepat untuk melakukan pembantaian!" Xu Chen memandang bulan di langit malam yang bersinar terang sebelum hilang di dalam kegelapan malam.
Dengan ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi yang dimiliknya, Xu Chen tidak butuh waktu lama untuk sampai di kediaman Walikota, dia hanya membutuhkan waktu beberapa menit. Pemuda itu mendarat tepat di atas atap masions Walikota tanpa menimbulkan bunyi sedikitpun, tubuhnya seolah seiringan kapas.
"Xu Qing, hari ini aku Xu Chen akan membalaskan dendam saudara-saudaraku, aku akan membuatmu tersiksa hinggah berharap kematian akan lebih baik!" Xu Chen tersenyum dingin lalu menyembunyikan hawa keberadaanya dengan tehnik tertentu. Sekarang dirinya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menyelinap masuk.
**
"Malam ini sangat dingin! entah mengapa perasaanku sangat tidak enak!"
"Benar, aku juga merasakan yang sama, dingin sekali!
"Kalian berdua diamlah! ini sudah waktu untuk pergantian penjaga namun mereka tidak datang juga, sebaik salah satu dari kalian memeriksanya."
Swing!
Baru beberapa langkah penjaga pintu tersebut melangkah, tiba-tiba sesuatu menancap di lengannya. Karena menimbulkan sedikit rasa sakit penjaga tersebut memeriksa lengannya, dan dirinya menemukan sebuah jarum kecil menancap di lengannya.
"Jarum? mengapa bisa ada... Uhuk, Uhuk, Akh!" belum sempat penjaga tersebut menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba darah keluar dari lubang telinga, hidung, dan matanya. Sedangkan mulutnya mengeluarkan busa, beberapa detik kemudian penjaga tersebut menghembuskan nafas terakhirnya.
Keuda penjaga lain menyaksikan itu di depan mata mereka langsung kaget bukan main, salah satu dari mereka panik dan seorangnya lagi mendekati rekannya yang terbujur kaku di lantai.
"Racun! dia terkenal racun," penjaga senior tersebut melihat jarum kecil di lengan rekannya, dan darah serat busah yang keluar dari mulutnya, penjaga senior tersebut kemudian menyadari sesuatu, namun semuanya sudah terlambat,
"Penyusup!" Penjaga senior tersebut ingin berteriak namun....
__ADS_1
Slash!
Belum sempat penjaga senior tersebut bertindak lebih jauh, tiba-tiba sebuah pisau menancap di leher bagian belakangnya, bahkan saking kerasnya pisau itu melaju sampai menembus leher penjaga senior tersebut.
Penjaga senior tersebut mengeluarkan suara mengorok sebelumnya akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya, seperti rekan sebelumnya namun dengan cara berbeda.
Kini hanya tersisa satu penjaga lagi yang diam mematung menyaksikan kedua rekannya terbunuh di depan matanya.
Entah kerena takut, terkejut atau hal lain namun penjaga tersebut hanya diam mematung sampai akhirnya seorang yang memakai topeng berbetuk muka setan serta jubah hitam muncul berjalan pelan dari gelapnya malam.
Meskipun memakai topeng yang menutupi wajahnya namun sosok tersebut terlibat seperti seorang pemuda.
Penjaga tersebut akhirnya menyadari sesuatu, dirinya ingin berteriak, namun semua telah terlambat, seseorang yang memakai topeng berbentuk wajah setan tersebut telah berada di depannya hanya dalam sepersekian detik.
"Setan! setan!" penjaga tersebut berkata gemetar jatuh ke lantai, lalu merayap pelan menjauhi sosok tersebut. Namun karena rasa takut yang luar biasa dirinya tidak bisa mengendalikan tubuhnya seperti biasa, bahkan bersuara pun terasa sangat sulit.
"Mimpi, ini hanya mimpi!" Penjaga tersebut mengatur nafasnya meski masih merayap di lantai, saat dirinya sudah bisa lebih tenang, tiba-tiba dia merasakan sesuatu menyentuh bahunya.
Penjaga tersebut spontan berbalik pelan dan menemukan topeng wajah setan sangat dekat dengan wajahnya dan yang paling mengerikan mata dibalik topeng tersebut sangatlah menakutkan, seketika penjaga tersebut kehilangan kesadarannya.
"Pingsan!" sosok tersebut berkata sambil menggaruk kepalanya, sosok tersebut tidak lain adalah Xu Chen.
"Sial!" Xu Chen berdecak kesal sebelum menarik Pedang Malam Abadi dari sarungnya, karena pemdua itu merasakan beberapa orang menuju kearahnya.
**
Bagi kalian yang menyukai Legend Of Darknes pastikan untuk menekan tombol jempol untuk setiap chapter yang kalian baca dan memasukan Legend Of Darknes dalam list favorit kalian.
__ADS_1
See You.