Legend Of Darknes

Legend Of Darknes
Chapter 71. Istana Kekaisaran Qin


__ADS_3

Qin Wei-Quo membawa Hui Yin menuju istana Kekaisaran. Jika semua berjalan dengan lancar maka mereka akan sampai dalam waktu lima sampai enam jam lagi dengan kereta kuda, namun jika menggunakan ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja.


Selepas perginya pria bandit yang tidak lain adalah Xu Chen semalam, Qin Wei-Quo menginterogasi Hui Yin.


Setelah mengobrol beberapa lama Qin Wei-Quo akhirnya ingin siapa Hui Yin. Yaitu wanita budak yang dijual di Pelelangan Sinar Jingga Tempo hari diperebutkan banyak orang termasuk Qin Wei-Quo, namun dimenangkan orang yang tidak dikenal yang tidak lain Xu Chen.


Qin Wei-Quo kemudian mengatakan tentang identitas sebenarnya pemuda ruang dua sewaktu di pelelangan kepada Huo Yin, pangeran itu tentu belum lupa dengan penghinaan terhadapnya.


Hui Yin menjelaskan dengan wajah sedih yang dibuat-buat. Hui Yin mengatakan bahwa pemuda yang membelinya dulu bernama Ye Gan.


Hui Yin kemudian menjelaskan bahwa Ye Gan adalah salah satu orang ternama di Kekaisaran Tang, namun beberapa hari yang lalu saat dirinya dan Ye Gan mengunjungi Kekaisaran Qin mereka bertemu dengan pria bandit yang tadi, semua penjaga Ye Gan dibantai bahkan Ye Gan sediri meregang nyawa saat itu hanya dirinya lah yang selamat.


Qin Wei-Quo percaya dengan cerita karangan Hui Yin dan tidak menaruh sedikitpun rasa curiga, entah karena kecantikan Huo Yin atau memang karena dirinya bodoh.


Qin Wei-Quo semalam menggoda Hui Yin tidak bisa dipungkiri hasratnya terus bergejolak saat melihat Hui Yin terutama tubuh wanita itu yang berisi.


Namun Hui Yin terus menolaknya dengan alasan capek, lelah, dan lainnya. Qin Wei-Quo memakluminya hal itu namun hasratnya tidak bisa dilupakan begitu saja, sampai akhirnya Qin Wei-Quo melampiaskan hasratnya pada tiga wanita yang sebelumnya di depan Hui Yin.


Melihat itu Hui Yin hanya menelan ludahnya dengan berat melihat keagresifan Qin Wei-Quo melampiaskan hasratnya pada tiga wanita sekaligus.


Meski Hui Yin seorang budak, tetapi tubuhnya selalu dia jaga dan masih virgin. Semenjak bertemu Xu Chen, Hui Yin hanya ingin menyerahkan tubuhnya pada pemuda yang lebih muda tiga tahun darinya itu.

__ADS_1


Hui Yin akui bahkan jika dulu Xu Chen meminta tubuhnya dan hanya menjadi pemuas nafsu, maka dia akan dengan senang hati memberikannya.


Namun keadaan tidak berpihak padanya, Hui Yin sekarang sudah bersama dengan pangeran mesum yang hanya memikirkan sex, bahkan Hui Yin tidak tahu apa yang akan terjadi nanti saat sampai di Istana Kekaisaran.


Hui Yin sebenarnya dengan kemampuannya sekarang bisa kabur dengan mudah dari Qin Wei-Quo maupun Nian Zhen, namun semua itu dia lakukan untuk Xu Chen, karena rasa cintanya dan ingin membalas kebaikan Xu Chen yang melatihnya menjadi seseorang yang kuat.


Hui Yin tahu tidak akan bisa bersama pemuda itu dikehidupan ini. Harapannya hanya satu bisa bersama Xu Chen dikehidupan selanjutnya.


Setelah menempuh perjalanan lima jam lamanya dengan kereta kuda. Qin Wei-Quo dan Hui Yin tiba di kota Feng, ibukota Kekaisaran Qin.


Sambutan begitu meriah banyak warag yang ingin bertemu langsung dengan Qin Wei-Quo terutama para kaum hawa. Karena memang Qin Wei-Quo memiliki paras yang rupawan dari saudaranya yang lain namun tidak setampan Xu Chen.


Qin Wei-Quo melambai-lambaikan tangannya dari dalam kereta kuda sambil sesekali tersenyum menebar pesona kepada para gadis.


Namun kebingungan para warga segera terobati ketika melihat belasan prajurit mengenakan zirah besi menghampiri kereta kuda Qin Wei-Quo dengan terburu-buru.


"Maaf kami terlambat menyambut pangeran," ucap seorang prajurit yang terlihat lebih tua dari yang lainnya.


"Ya, tidak apa-apa. Sebaiknya kita segera bergegas ayah Kaisar dan ibunda pasti sudah menunggu," Qin Wei-Quo berkata ramah bahkan sambil tersenyum.


Prajurit itu mengangguk mengerti. Selain itu prajurit itu tahu ketika jauh dari para warga Qin Wei-Quo akan memarahinya karena terlambat menyambut. Prajurit tersebut tahu betul dengan sikap Qin Wei-Quo yang selalu terlihat ramah tebar pesona di depan para warga.

__ADS_1


Tanpa mereka semua sadari ada seorang pria berpakaian serba hitam menatap tajam ke arah kereta kuda Qin Wei-Quo serta mengawasi semuanya. Pria itu adalah Xu Chen, dia sudah mengawasi Qin Wei-Quo semenjak semalaman.


Setelah menyerang rombongan Qin Wei-Quo Xu Chen memang tidak pergi hanya mengawasi semuanya dari kejauhan. Xu Chen khawatir akan ada bandit sungguhan yang menyerang Qin Wei-Quo. Xu Chen tidak menghawatirkan Qin Wei-Quo atau Nian Zhen, tetapi menghawatirkan keselamatan Hui Yin.


Karena memang Xu Chen telah menghabisi para prajurit Qin Wei-Quo semalam dan membuat luka dalam bagi Nian Zhen, jika mereka bertemu bandit sungguhan maka mereka bisa dihabisi dengan mudah.


Berbeda dengan Hui Yin yang mencintainya, Xu Chen sama sekali tidak memiliki rasa terhadap Hui Yin. Xu Chen hanya menganggap Hui Yin sebagi alat untuk dirinya di Istana Kekaisaran tidak lebih.


Alasan Xu Chen melindungi Hui Yin adalah, hanya tidak ingin usahanya mendidik Hui Yin untuk menjadi mata dan telinganya di Istana Kekaisaran hilang begitu saja, tetapi untunglah perjalan lancar tanpa hambatan.


"Semua sudah aman, sekarang tinggal pergi dan menunggu informasi dari Hui Yin."


Xu Chen melesat pergi dari atap salah satu bangunan tanpa disadari oleh siapapun.


Tidak butuh waktu lama bagi rombangan Qin Wei-Quo tiba di Istana Kekaisaran terlihat para pelayan sudah siap melayani apapun yang Qin Wei-Quo butuhkan, namun perhatian mereka terfokus pada wanita yang berjalan di belakang Qin Wei-Quo yang tidak lain adalah Huo Yin.


Semua mata memperhatikannya terutama mata keranjang para lelaki, namun Qin Wei-Quo dengan tatapannya seolah mengklaim wanita tersebut adalah milikinya, membuat para pria tertunduk ketakutan.


Sementara para wanita menatap dengan tatapan kagum, mereka menilai meskipun penampilan Hui Yin saat ini berantakan dan kotor, tetapi jika dirias sedikit maka akan menjadi sangat cantik. Namun tidak sedikit juga yang menatap benci iri pada kecantikan Hui Yin, mereka mulai merencanakan hal buruk terhadap Hui Yin.


Qin Wei-Quo kemudian memangil beberapa pelayan wanita lalu memerintahkan untuk merawat Hui Yin dan meriasnya secantik mungkin. Qin Wei-Quo juga menambahkan untuk mendengar perintah Hui Yin selam meminta hal yang wajar.

__ADS_1


"Kau pergilah ke kamarmu dulu, rias dirimu secantik mungkin karena aku akan datang malam hari nanti," Qin Wei-Quo tersenyum lebar pada Hui Yin. Sementara Hui Yin hanya tersenyum canggung dengan perkataan Qin Wei-Quo.


...****...


__ADS_2