
Xu Chen terkekeh pelan, sebab sejauh ini ekspresi yang Huo Yin keluarkan sangat lucu.
"Kau tidak gila, tenang saja! Yang kau lihatlah itu adalah bayangan diriku."
"Bayangan?" Hui Yin mengerutkan dahinya.
Xu Chen kemudian menjelaskan tentang tehnik Bayangan Iblis. Hui Yin mendengar itu hanya berdecak kagum. Jika yang ia hadapi tadi adalah hanyalah bayangan Xu Chen maka bagaimana dengan Xu Chen yang asli.
"Mulai sekarang aku akan melatihmu."
"Ya."
Hui Yin sekarang sudah tidak meragukan kemampuan yang Xu Chen miliki.
"Mulai sekarang harimu tidak akan mudah," Xu Chen tersenyum penuh misteri.
***
Sebulan berlalu dengan cepat. Tidak disangka tingkat kultivasi Hui Yin meningkat dengan drastis, dari practitioner bintang tiga menjadi bintang lima, sebuah pencapaian luar biasa yang tidak lepas dari campur tangan Xu Chen.
Hui Yin setiap pagi mengonsumsi pil Harimau Emas untuk membantu meningkatkan kultivasi, sedangkan malam hari Hui Yin selalu mengonsumsi pil Bunga Teratai untuk membantu memperbanyak kapasitas Qi-nya. Semua pil-pil itu dibuat oleh Xu Chen sendiri.
Sementara Xu Chen juga sudah mengonsumsi pil Matahari Emas dan hasilnya sangat memuaskan, Xu Chen telah berada di ranah akhir Ekspert yaitu Eksper Bintan Sembilan sebentar lagi menjadi Master.
Xu Chen juga telah mengajari Hui Yin tehnik pedang Tiga Tarian Sang Dewi, yaitu tarian ilusi, tarian Kematian, dan tarian Mawar Merah.
Hui Yin sudah menguasai Tiga Tarian Sang Dewi hinggah tahap mahir, Hui Yin bisa mengeluarkan sembilan puluh persen dari kekuatan Tiga Tarian Sang Dewi.
Hui Yin juga mengalami berbagai latihan fisik yang sangat menyiksa dari Xu Chen, Hui Yin setiap bagi, siang, dan sore hari akan berlari naik turun gunung dengan tangan direntangkan dan setiap tangan memegang beban satu ember air dan setiap kaki Hui Yin diikat dengan beban sepuluh kilo gram, dan hal yang paling gila adalah jika air di ember yang di bawa Hui Yin berkurang setetes saja maka Hui Yin harus mengulangi semuanya dari awal.
Namun Hui Yin menjalani itu dengan tegar, ia sama sekali tidak pernah protes dengan semua latihan di luar nalar yang diberikan oleh Xu Chen.
Meskipun begitu Hui Yin juga hanyalah manusia biasa, dia kadang patah arah, mendapatkan jalan buntu dalam pelatihannya, dan kadang ada rasa ragu dalam hatinya, tetapi di saat seperti itulah Xu Chen selalu muncul dan menjadi dewa penolong bagi Hui Yin.
Xu Chen selalu membagikan pengalaman barlatihnya dan bertarungnya pada Huo Yin, membuatnya kembali menjadi semangat. Jika Hui Yin sedang mengalmi jalan buntu dalam pelatihannya, Xu Chen selalu mengarahkannya.
Cara pandang Hui Yin terhadap Xu Chen kini juga berbeda. Jika dulu ia memandang Xu Chen seperti pemuda lain, yang hanya ingin menikmati tubuhnya sekarang Hui Yin memandang Xu Chen dengan penuh rasa hormat dan kagum. Bagi Hui Yin, Xu Chen adalah panutannya.
Terlepas dari semua hal sulit itu kini kekuatan, kecepatan Hui Yin meningkat drastis.
Xu Chen berdecak kagum dengan pencapaian Hui Yin, Xu Chen mengakui mata gurunya sangat jeli dalam melihat bakat seseorang. Mendapatkan murid yang semangat, gigih, dan tidak pantang menyerahnya seperti Hui Yin merupakan sebuah berkah bagi Xu Chen.
"Sekarang dia sudah siap untuk itu," Xu Chen bergumam pelan namun didengar oleh Hui Yin.
"Siapa untuk apa tuan?" Hui Yin duduk di samping Xu Chen.
__ADS_1
Selama sebulan ini memang keduanya menjadi sangat akrab. Hui Yin bahkan terbuka menceritakan kisah hidupnya.
Hui Yin adalah seorang anak desa biasa seperti anak pada umumnya, namun pada suatu hari desa mereka dirampok. Seluruh warga desa dibantai hanyalah Hui Yin yang selamat.
Xu Chen memandang Hui Yin intens.
"Ini memang sudah saatnya kau mengetahuinya. Aku harap kau tidak marah!"
"Tidak marah?" Hui Yin mengerutkan dahinya.
Xu Chen kemudian menjelaskan tujuannya melatih Hui Yin hingga menjadi seperti sekarang. Hui Yin mendengarkan penjelasan Xu Chen dengan ekspresi yang berubah-ubah hinggah wajahnya menjadi kusut saat mendengar Xu Chen mengatakan ingin mengutusnya di istana Kekaisaran menjadi seorang selir atau pembantu disana.
Hui Yin tanpa kata bangun dari duduknya dengan mata yang berkaca-kaca, gadis itu kemudian berlari kedalam hutan dengan air mata yang berurai. Hui Yin tidak bisa memungkiri bahwa setelah bersama Xu Chen sebulan rasa cinta mulai tumbuh di hatinya.
Hui Yin mengaggap Xu Chen memiliki rasa yang sama seperti yang ia rasakan, sebab Xu Chen melatihnya memperlakukannya dengan baik dan selalu ada untuknya, namun saat ini Hui Yin mendengar sendiri Xu Chen ingin mengutusnya keistana Kekaisaran bahkan Xu Chen mengatakan ingin menjadikannya selir Kaisar. Betapa hancur hati Hui Yin saat ini.
Sementara Xu Chen memijat dahinya memandangi Hui Yin yang berlari pergi darinya.
"Berurusan dengan wanita memang hal yang sulit, mereka selalu saja terbawa dengan perasaan," Xu Chen menghembuskan nafasnya kasar.
"Hei, murid bodoh," Kaisar Kegelapan tiba-tiba bersuara.
"Ya, guru. Ada apa?"
"Sepertinya aku menemukan bakatmu yang lain," Kaisar Kegelapan mengelus dagunya serius.
"Hm, kau memilki bakat untuk menyakiti hati wanita."
Kaisar Kegelapan kemudian tertawa terpingkal-pingkal bahkan sampai memegangi perutnya. Sementara Xu Chen memasang wajah datar, ia mengira gurunya akan mengajarkan hal baru namun teryata dia hanya dikerjai oleh gurunya lagi.
Setelah tertawa beberapa saat Kaisar Kegelapan kembali menatap Xu Chen dengan dahi yang mengerut.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
"Apa yang aku lakukan di sini?" Xu Chen ikut mengerutkan dahinya bingung, "Tentu menunggu Hui Yin kembali," ucap Xu Chen santai.
Kaisar Kegelapan terdiam sejenak sebelum menepuk dahinya sendiri.
"Apa kau bodoh? kau akan membiarkan akan orang bunuh diri di dalam hutan sana? cepat susul dia," Kaisar Kegelapan menggelengkan kepalanya pelan.
Xu Chen berdecak kesal lalu menyusul Hui Yin dengan merasakan auranya.
**
Xu Chen memandang Hui Yin yang sedang mengais sendirian di atas batu sambil memandang bulan yang terlihat sempurna di langit, sebab malam ini adalah bulan purnama.
__ADS_1
Xu Chen melihat Hui Yin dari kejauhan lalu menghampirinya.
"Malam ini bulan sangat indah ya?" Xu Chen muncul dari belakang Hui Yin dan duduk di samping garis itu.
Hui Yin sama sekali tidak menolak kedatangan Xu Chen, namun dia tidak menjawab pertanyaan Xu Chen.
"Apa kau marah kepadaku?"
Hui Yin membuang muka sambil menggelengkan kepalanya pelan.
Xu Chen berdecak kesal dalam hati. Saat pertama kali bertemu Hui Yin dia begitu dewasa dan mandiri namun sekarang Hui Yin menjadi begitu manja.
"Baiklah," Xu Chen menghembuskan nafasnya, "Jika kau tidak ingin melakukannya tidak apa-apa, sekarang kau bebas melakukan apa yang kau inginkan."
Meskipun berkata seperti itu, Xu Chen jujur berat untuk melepaskan Huo Yin. Xu Chen memikirkan telah mengeluarkan banyak uang dan tenaga serta waktu untuk melatih Hui Yin.
Xu Chen berdiri dari duduknya hendak pergi namun Hui Yin menghentikannya.
"Apa jika seperti itu aku bisa terus bersamamu?"
Xu Chen menghentikan langkahnya lalu melirik Hui Yin.
"Tidak, aku akan menempuh jalanku sendiri dan kau dengan jalanmu."
Xu Chen sudah tidak ingin berurusan dengan wanita lagi karena setelah menghadapi Qin Meng-Yu dan Hui Yin, Xu Chen menarik kesimpulan bahwa wanita begitu rumit dan sulit dimengerti.
"Tapi aku hanya ingin bersamamu," Hui Yin menundukkan kepalanya lesu.
Xu Chen menghembuskan nafasnya kasar dia tidak tahu lagi ingin berbicara seperti apa pada Hui Yin.
"Apa jika aku melakukan apa yang kau suruh aku bisa bersamamu?"
Xu Chen mengaguk setuju, meskipun sebenarnya dia tidak terlalu mengerti kata bersama yang diucapkan Hui Yin.
Xu Chen kemudian menjelaskan bahwa Hui Yin hanya perlu memberikan berbagai informasi yang pihak Kekaisaran bahas padanya.
"Apa kau pemberontak?" Hui Yin memandang Xu Chen sulit diartikan.
Xu Chen menggaruk kepalanya dia tidak tahu ingin menyampaikan dengan kata apa pada Hui Yin.
Saat Xu Chen masih memikirkan kata-kata yang terdengar halus, tiba-tiba Hui Yin menghambur memeluk tubuhnya.
"Aku tidak peduli siapapun kau, pemberontak atau lainnya aku hanya ingin bersamamu," Hui Yin memeluk tubuh Xu Chen erat.
"Ya," Xu Chen membalas pelukan Hui Yin.
__ADS_1
...****...
Arc 1 end