
Hari ini tepat tiga puluh satu hari Xu Chen berada di desa dalam kabut itu berarti sudah sebulan lebih sehari Xu Chen tertahan dan sekarang saatnya Xu Chen melanjutkan perjalanan balas dendamnya.
Hari ini juga seluruh penduduk tua, muda anak-anaknya, orang dewasa, pemudi-pemudi dan semua murid Xu Chen kembali berkumpul di alun-alun desa, tepat di mana patung Xu Chen berdiri tegak sebagai ikon desa dalam kabut. Mereka semua berkumpul dengan satu tujuan, yakni mengantarkan kepergian Xu Chen dan Yan Yu.
Namun yang ditunggu-tunggu belum muncul warga desa mungkin sudah menunggu sekitar satu jam lebih.
"Lihat, pahlawan tiba!" teriak seorang warga.
Xu Chen muncul dengan menunggangi kuda hitam bertubuh besar dan gagah, sedangkan Yan Yu di samping Xu Chen dan sedikit kebelakang menunggangi kuda putih. Keduanya terlihat gagah dan senada.
Xu Chen dengan wajahnya yang di atas rata-rata begitu juga Yan Yu menghipnotis siapapun yang melihatnya, bahkan saat warga melihat mereka, para warga terdiam sejenak saking kagumnya.
Kedua ekor kuda itu adalah pemberian Huang Ho, kuda hitam bernama Mutiara Hitam. Meskipun Huang Ho tidak pernah memakainya untuk perjalananku, namun ia selalu memakainya untuk sekedar bermain-main dan ia merawatnya dengan baik, hal itu terbukti dari gagahnya kuda hitam itu.
Namun mereka segera tersadar dan mulai meneriaki Xu Chen dengan berbagai pujian.
"Pahlawan jaga diri baik-baik! kami akan selalu mengingatmu!"
"Pahlawan jika ada waktu kapan-kapan mampir kembali ke desa. Kami akan selalu melayani mu dengan baik."
"Pahlawan kami mencintaimu!"
Xu Chen hanya diam mendengar itu semua, pemuda itu tetap memasang wajah datar dengan sedikit senyuman yang agak di paksakan, sedangkan Yan Yu sangat narsis, gadis itu tersenyum lebar seraya melambai-lambaikan tangannya ke arah warga desa dengan wajah di angkat tinggi penuh kebanggaan.
"Mah, pahlawan sangat tampan. Aku ingin jadi seperti pahlawan!" seorang anak lelaki imut menunjuk-nunjuk Xu Chen dengan pandangan takjub.
Ibu anak itu menganggukkan kepalanya menyetujui perkataan anaknya, namun pandangannya tetap terarah pada Xu Chen.
"Mah, ayo kita ke sana!" anak kecil itu menarik-narik baju ibunya seraya menunjuk terus ke arah Xu Chen.
Karena tidak ada respon dari sang ibu, anak laki-laki itu akhirnya berlari sendiri menghampiri Xu Chen.
Mutiara Hitam yang ditunggangi Xu Chen seketika terhenti mengangkat kedua kaki depannya ke udara sambil berteriak.
Hal itu sangat tiba-tiba hampir membuat Xu Chen terjatuh dari Mutiara Hitam andai ia tidak bisa mengendalikan keseimbangan tubuhnya.
Xu Chen melihat ke dekan teryata ada seorang anak kecil kira-kira berusia tujuh tahun dengan berani menghalangi langkah Mutiara Hitam.
Melihat itu Huang Ho yang mengikuti Xu Chen dan Yan Yu dari belakang berteriak marah. Bagaimana tidak, ia bisa melihat Xu Chen hampir terjatuh dari Mutiara Hitam dan ia juga melihat wajah Xu Chen sedikit kesal.
__ADS_1
Huang Ho segera berlari menghampiri anak laki-laki tersebut. Namun tiba-tiba, seorang wanita paruh baya berlari menerobos kerumunan dan segera memeluk anak laki-laki itu.
"Maafkan anakku pahlawan!" wanita paruh baya itu segera sujud meminta maaf. "Dia hanyalah anak kecil yang tidak tahu apa-apa! jika ingin menghukum, hukum saja aku!?"
Xu Chen turun dari Mutiara Hitam yang ia tunggangi dan segera menghampiri pasangan ibu dan anak itu.
Seluruh kerumunan diam tak bergerak bahkan bernafaspun mereka lupa. Bagaimana tidak, Xu Chen berjalan menghampiri pasangan ibu dan anak itu tanpa ekspresi.
Wanita paruh baya menahan nafas ketika Xu Chen telah berdiri tepat di depannya, wanita itu menutup mata siap dengan segala konsekuensi yang akan ia terima.
Namun sesuatu yang menakutkan yang ia bayangkan tak terjadi, malah ia bisa merasakan bahunya disentuh oleh sesuatu yang membuat hatinya tenang.
"Apa aku sudah berada di surga!?" pikirnya.
Wanita paruh baya itu mengangkat kepalanya menengok gerangan apa yang membuatnya tenang itu.
Namun saat wanita paruh baya itu menengok, ia bisa melihat sebuah wajah tersenyum lembut kepadanya. Senyum yang sangat lembut dan hangat sampai bisa membuat jiwa dan raga seseorang yang melihatnya menjadi damai.
Yan Yu bahkan tak berkedip melihat itu, seolah jika ia berkedip semua itu akan hilang "A-apakah seperti itu jika si Chen itu tersenyum!?" Yan Yu diam menyaksikan dengan seksama, senyuman yang Xu Chen suguhkan untuk wanita paruh baya.
"Aku tahu sekarang mengapa ia begitu pelit dengan senyumannya. Karena jika ia terus terus tersenyum maka semua wanita akan bertekuk lutut padanya!"
"Bangunlah, tak pantas seorang ibu bersujud seperti itu!?" Xu Chen mengulurkan tangannya.
Meski kata-kata itu tak tertuju padanya, tetapi Yan Yu tak jauh dari situ bisa menangkap ada kesedihan di kata-kata yang Xu Chen lontarkan.
Wanita paruh baya itu menerima uluran tangan Xu Chen dan segera berdiri. "Terimakasih atas kemurahan hati pahlawan!" wanita paruh baya itu kembali menundukkan kepalanya, tetapi langsung ditanah oleh Xu Chen.
"Siapa namamu?" Xu Chen jongkok menyetarakan tingginya dengan tinggi anak laki-laki.
"Fang Biao, kakak pahlawan bisa memanggilku Biao'er" anak laki-laki itu menjawab dengan suara imut.
Xu Chen tertawa lantang mendengar itu "Anak Harimau? pantas kau begitu berani tadi!" Xu Chen mengusap-usap kepala Fang Biao. (Biao artinya anak harimau)
Yan Yu mengumpat kesal melihat itu "Cih, mengapa dia sangat aneh hari ini, tersenyum dan tertawa tidak jelas. Mengapa dia tak pernah melakukan itu saat bersamaku, huh!" batin Yan Yu menggelora.
Fang Biao hampir melompat saking senangnya karena kepalanya di pegang bahkan di usap-usao oleh Xu Chen.
"Aku mau jadi seperti kakak pahlawan, kuat dan berani!" Fang Biao kembali berkata dengan semangat.
__ADS_1
"Seperti kakak?" Xu Chen mengusap dagunya.
"Ya, seperti kakak!"
"Kalau begitu mengapa Biao'er ingin menjadi kuat dan berani seperti kakak?"
"Tentu, untuk melindungi ibu!" Fang Biao berkata dengan cepat tanpa berfikir.
Xu Chen kembali tertawa, namun ada kesedihan yang tak bisa Xu Chen tutupi terkandung dalam tawa tersebut. Xu Chen kemudian memanggil Wu Ming dan Li Cong kedua murid unggulannya.
Wu Ming dan Li Cong yang berada di barisan segera menghampiri Xu Chen secepat yang mereka bisa.
"Murid menghadap Guru!" Keduanya kompak menunduk memberi hormat pada Xu Chen.
Xu Chen tak menjawab hanya menganggukkan kepalanya lalu kembali berpaling pada Fang Biao "Sekarang kedua kakak ini adakah Guru Biao'er," Xu Chen menunjuk Wu Ming dan Li Cong.
Butuh waktu sebentar bagi Fang Biao mencerna situasi, "Benarkah?" Fang Biao melompat kegirangan "Yeah, sekarang aku punya Guru!"
Fang Biao ingin memeluk Xu Chen. Namun tangan seseorang menghentikannya. "Terimahkasih pahlawan, tetapi itu sepertinya...aku...?" Wanita paruh baya bingung menolak Guru yang Xu Chen berikan.
"Kau tidak perlu membayar untuk itu!" Xu Chen mengerti dengan keraguan wanita paruh baya itu.
Xu Chen sebenarnya ingin memberikan uang pada wanita paruh baya itu. Namun kerena uang milikinya adakah uang hasil jarahan setelah membunuh, ia mengurungkan niatnya.
Wanita paruh baya melebarkan kedua matanya ia tak mengeri lagu menggambarkan kebaikan Xu Chen seperti apa. Xu Chen kini bagaikan malaikat penolong baginya.
"Terimakasih! Terimahkasih pahlawan!" wanita paruh baya menjatuhkan air mata bahagianya.
Xu Chen membuka kedua tangannya ke arah Fang Biao "Apa kau tidak ingin memeluk kakak?"
Fang Biao yang tertunduk sedih karena sebelumnya dihalangi oleh ibunya untuk memeluk pahlawannya, segera melompat ke dekapan Xu Chen dengan perasaan senang.
Seperti itulah Xu Chen meskipun terlihat dingin dan kejam, namun pada orang-orang tertentu apalagi seorang ibu, hati Xu Chen pasti akan menjadi lunak.
Hal itu bukan tanpa alasan, bagi Xu Chen seorang ibu adalah pahlawan bagi anak-anaknya, sosok yang selalu dia hormati.
Cinta pertama seorang anak laki-laki pasti adalah ibunya dan akan selalu tertanam rasa ingin melindungi di hatinya.
...****...
__ADS_1
Support author dengan Like Komen dan Vote.