Legend Of Darknes

Legend Of Darknes
Chapter 40. Pahlawan


__ADS_3

Para warga kini telah berkumpul menuju tempat di mana Xu Chen dan Yan Yu berada, namun di tengah jalan para warga bertemu kepala desa mereka.


"Kepala Desa." panggil seorang warga.


"Ya." Huang Ho menjawab singkat, terlihat guratan kecemasan di wajah keriputnya.


"Apa yang terjadi dengan semua kabut-kabut ini?"


Huang Ho menjelaskan bahwa desa mereka terlah kedatangan dua orang yang ada di dalam ramalan, mendengar itu para warga mengerutkan kening tak mengerti, ramalan apa pikirnya. Warga desa memang tidak tahu soal ramalan, kerena ini adalah rahasia turun temurun keluarga Huang dan para para sepuh di desa itu. Itulah mengapa keturunan keluarga Huang selalu menjadi kepala desa.


Huang Ho yang mengerti dengan ketidak tahuan warganya segera menjelaskan mengenai ramalan. Reaksi para warga berbeda-beda saat mendengar penjelasan kepala desa mereka, ada yang takjub, ada yang ketakutan, ada yang marah memaki-maki leluhur mereka karena telah melakukan kesalahan yang membuat mereka harus terkurung dari dunia luar.


"Kalau begitu kepala desa di mana dua orang dalam ramalan? kami ingin mengucapkan terimakasih kepada mereka," ucap seorang warga yang disambut dengan sahutan persetujuan warga lain.


Huang Ho menyetujui itu, tetapi pria itu mewanti-wanti warga agar selalu menjaga sikap ketika bertemu dengan Xu Chen dan langsung disetujui dan disambut antusias oleh para warga.


"Kepala Desa! kami sudah tahu itu! kami akan menghormati mereka."


"Kita harus mengadakan pesta untuk mereka!" sahut seorang warga tiba-tiba. dan langsung disetujui oleh yang lain.


Namun ide itu ditentang oleh Huang Ho. Pria tua itu mengatakan meski tidak terlalu kenal dengan Xu Chen namun dari penilaiannya pemuda itu sepertinya tidak suka dengan pesta.


Namun meski begitu para warga tetap kekeh dengan keinginan mereka, mengadakan pesta untuk Xu Chen dan Yan Yu.


"Sudahlah! apa kalian tidak ingin bertemu dengan mereka?" Huang Ho mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Ya, tentu saja kami ingin bertemu pahlawan kami!"


Setelah itu Huang Ho mengantarkan warganya untuk bertemu langsung dengan Xu Chen dan Yan Yu.


***


"Akhirnya selesai! aku bisa keluar dari sini," Xu Chen berkata lega, akhirnya mereka ia bisa keluar dari desa terkutuk ini.


Namun berbeda dengan Yan Yu, gadis itu tak mendengarkan perkataan Xu Chen, ia takjub dengan pemandangan alam di sekitarnya "Woah! teryata desa ini sangat indah!"


Bagaimana tidak, saat ini mereka ada di tanah datar di dekat sungai dan kelilingi hamparan tinggi tinggi yang menciptakan benteng alam indah, ditebang-tebing itu ada air terjun tinggi yeng terbias dengan embun pagi yang cerah menciptakan pelangi-pelangi kecil di sekitar air terjun.


"Hei, Chen! bagaimana kalau kita memanjat tebing itu? pasti sangat indah melihat dari atas," Yan Yu berkata girang menunjuk-nunjuk tebing tinggi di depannya.

__ADS_1


Namun keinginan Yan Yu itu mendapatkan balasan tidak enak dari Xu Chen, pemuda itu mengatakan "Jika kau ingin berwisata maka tinggallah di desa ini."


Yan Yu mendengus kesal "Dasar pemuda dingin!" gumamnya.


Saat Yan Yu ingin berkata lebih jauh, tiba-tiba Huang Ho dari kejauhan memanggil mereka.


"Tuan Chen, nona Yu!" Huang Ho berteriak dari kejauhan sambil melambai-lambaikan tangannya.


"Bukankah aku menyuruhnya untuk menunggu?" Xu Chen berdecak kesal saat melihat Huang Ho bersama berjalan warga menghampirinya.


"Wah, jadi itu pahlawan kita!"


"Lihatlah, dia sangat tampan."


"Hei, lihatlah juga wanita di sebelahnya, dia sangat cantik."


"Wah, kau benar! dia bagaikan bidadari yang turun dari surga."


"Aku iri pada wanita itu! dia sangat cantik!"


"Aku sangat bersyukur! hari ini bisa melihat keindahan seperti mereka berdua"


Begitulah reaksi para warga saat melihat Xu Chen dan Yan Yu, ada yang kagum, iri, dan bersyukur.


"Tuan Chen maafkan aku. Mereka ingin melihat Tuan Chen secara langsung!" Huang Ho menundukkan kepala merasa bersalah.


"Tidak apa-apa! toh itu juga bukan salahmu." Xu Chen melirik Huang Ho penuh arti.


"Tuan, apa ada yang ingin Tuan katakan pada mereka?" Huang Ho menunjuk para warga yang berdiri di belakang.


Xu Chen menganggukkan kepalanya ringan dan maju satu langkah ke depan. Xu Chen menyampaikan rasa terimakasihnya karena telah diteriama di desa ini selama beberapa hari dan pemuda itu juga menasehati warga agar tidak melihat orang dari luarnya saja, seperti yang nenek moyang mereka lakukan, pemuda itu mengatakan untuk selalu menghargai orang dan memperlakukannya dengan baik, tidak membeda-bedakan siapapun.


"Kami akan mengingat yang pahlawan katakan!" seorang warga berucap.


"Pahlawan kami mencintaimu!" teriak para gadis, membuat Yan Yu mendengus kesal melihat kecentilan para gadis.


"Hei, lihatlah sekarang kau menjadi idola para gadis." Yan Yu menyimpangkan kedua tangannya di dada.


Xu Chen menanggapi itu bagai angin lalu. Xu Chen mengatakan karena semua sudah selesai maka ia akan segera pergi meninggalkan desa.

__ADS_1


Mendengar itu spontan para warga menjadi riuh. Mereka melarang Xu Chen untuk meninggalkan desa dengan berdalih mengadakan pesta untuk Xu Chen dan Yan Yu.


Xu Chen terlihat berpikir sejenak sebelum mengiyakan keinginan para warga.


"Aku pikir kau tidak akan menerimanya?" Yan Yu heran, setahunya Xu Chen tak menyukai hal-hal seperti ini.


Bukan hanya Yan Yu yang kebingungan, Huang Ho pun sama. Meskipun tidak kenal lama dengan Xu Chen, tetapi pria tua itu dapat sedikit melihat kepribadian Xu Chen, menurutnya Xu Chen sejauh ini adalah orang yang tidak suka keributan seperti pesta dan lain-lain, seseorang yang tidak suka basa-basi atau sejenisnya, dan seorang pekerja keras. Karana itulah kemampuan Huang Ho dapat melihat kepribadian seseorang dengan cepat.


Namun semua itu buyar, ketika Xu Chen mengatakan, "Tidak ada salahnya bersantai beberapa hari lagi di desa dan aku juga sedikit lelah," Xu Chen melirik Huang Ho penuh arti.


Huang Ho mengerti dengan lirikan itu segera mengajak Xu Chen untuk beristirahat dan memerintah warga untuk menyiapkan pesta besar untuk Xu Chen dan Yan Yu sekaligus untuk merayakan desa mereka yang telah terbebas dari kutukan.


***


"Pak Tua Ho apakah di desa ada ruang kultivasi?" Xu Chen bertanya setelah mereka sampai di kediaman Huang Ho.


"Ya Tuan, di tengah desa ini ada sebuah menara yang menjadi tempat pemuda pemudi di desa ini berlatih kultivasi," Huang Ho menjelaskan.


"Aku akan mengutus orang untuk mengantar Tuan Chen ke sana," lanjutnya.


Xu Chen segera menggelengkan kepalanya "Tidak perlu, aku bisa sendiri."


Huang Ho tak membantah lebih jauh, ia tahu kalau Xu Chen sudah berkata maka tak ada yang bisa membantahnya, karena itu adalah hal yang sia-sia.


"Baiklah jika itu yang Tuan Chen inginkan."


"Aku mau ikut?" Yan Yu memandang Xu Chen bagaikan seseorang yang memandang musuhnya.


Xu Chen mendengus kesal tetapi tetap mengiyakan keinginan Yan Yu.


"Kau boleh ikut tetapi kau dilarang untuk banyak bertanya." Pernyataan itu langsung disambut antusias oleh Yan Yu.


"Baiklah, Yang Mulia," Yan Yu menganggukkan kepalanya semangat.


*****


Maaf ya agak datar terapi memang ini di perlukan untuk kelangsungan cerita selanjut.


Ok jangan lupa Like and Vote.

__ADS_1


Hari ini satu chapter aja ya, soalnya author banyak kesibukan. See You


__ADS_2