
Perjalan Xu Chen dan Yan Yu ketempat latihan kultivasi berjalan lancar tanpa ada hambatan sama sekali, warga desa saat melihat Xu Chen mereka segera menyambutnya dan memberikan hormat terdalam mereka, bahkan ada warga yang menarik Xu Chen hanya untuk sekedar mampir dan makan atau minum di rumah mereka, bagi warga pahlawan mereka atau Xu Chen sekedar mampir di rumah mereka adalah suatu berkah yang luar biasa, ada juga warga yang menyerahkan anak gadis mereka untuk Xu Chen, tetapi Xu Chen tentu langsung menolak tegas hal itu.
Hah, lucu sekali memang. Dulu, saat pertama kali Xu Chen memasuki desa ini mereka seger menghindar dan menutup pintu rumah mereka rapat-rapat. Tetapi sekarang saat Xu Chen telah menyelamatkan mereka dan menjadi orang yang terhormat, mereka rela melakukan apapun untuk bisa menjilat Xu Chen.
Saat Xu Chen dan Yan Yu sedang asik berjalan, tiba-tiba belasan gadis menjadi antusias melihat kedatangan Xu Chen dan berlari kecil menghampiri Xu Chen.
Yan Yu seketika menjadi kesal ketika melihat belasan gadis berlari ke arah keduanya.
"Pantas saja kau ingin berlama-lama di desa ini," Yan Yu berkacak pinggang lalu melirik Xu Chen "Pati karena gadis-gadis, kan?"
Xu Chen tak menanggapi perkataan Yan Yu.
"Pahlawan, apa pahlawan kelelahan? ini sebotol air untuk anda."
"Pahlawan, malam nanti adalah perayaan! jika pahlawan punya waktu luang, aku siap melayani pahlawan."
"Pahlawan kita sangat tampan!"
Setiap wanita berusaha menarik perhatian Xu Chen dengan menawarkan sesuatu, tanpa memperdulikan gadis di sebelah Xu Chen yang ekspresi wajahnya sudah tertekuk kesal.
"Aku mau pulang!" Yan Yu berkata kesal.
Xu Chen tak menjawab hanya menggunakan kepala pelan tak peka dengan hal yang terjadi pada Yan Yu.
Yan Yu mendengus kesal dan berbalik meninggalkan Xu Chen.
Xu Chen tak menanggapi para gadis-gadis, pemuda itu hanya memilih diam dan berjalan menatap tegas ke depan, dan hal itu berhasil membuat para gadis tak berani untuk mendekatinya.
"Nona-nona sekalian, maaf tetapi aku sedang tidak bisa lama berbincang dengan kalian. Aku memiliki beberapa hal yang harus diselesaikan," Xu Chen berhenti sejenak memberi penjelasan.
Setelah mendengar itu, para gadis menganggukkan kepala mengerti dan segera memberi jalan untuk Xu Chen.
__ADS_1
"Hati-hati pahlawan! jangan lupa malam nanti pesta, pahlawan jangan sampai tidak datang."
Xu Chen menganggukkan kepalanya pelan dan kembali melanjutkan langkahnya.
***
Xu Chen telah sampai di tempat latihan kultivasi, pemuda itu memperhatikan sekelilingnya "Lumayan! meskipun sederhana ini cukup bagus!" Xu Chen tanpa basa-basi lebih jauh memasuki bangunan itu.
"Wah, lihatlah itu pahlawan kita," seorang pemuda menjadi antusias saat melihat kedatangan Xu Chen, pahlawan mereka.
"Mana? di mana?" pemuda lain menengok ke kanan ke kiri mencari tau kebenaran Xu Chen.
"Itu..!" menunjuk ke arah pintu.
"Wah, iya," pemuda itu segera berlari mendekati Xu Chen tanpa peduli dengan rekannya.
Rekan yang lain mengumpat kesal, saat melihat kelakuan rekan mereka yang begitu semena-menah tanpa memperdulikan mereka.
"Pahlawan mengapa anda ada di sini?" seorang pemuda bertanya sopan dan menundukkan kepalanya hormat.
"Kalau begitu..." seorang pemuda berkata ragu-ragu. Namun saat Xu Chen mempersilahkan untuk bicara, ia melanjutkan, "Bisakah aku latih tanding dengan pahlawan?" pemuda itu segera menundukkan kepalanya, takut Xu Chen marah dengan permintaannya yang terkesan lancang dan pemuda itu juga mendapat jitakan keras di kepala dari rekannya yang lain.
"Maafkan dia pahlawan!? dia memang bodoh," semua pemuda seketika membungkukkan badan meminta maaf atas kebodohan rekan mereka.
Para pemuda begitu menghormati Xu Chen sebagai pahlawan mereka, meskipun mereka tahu umur pahlawan mereka itu tidak jauh dari mereka tujuh belas tahun ke atas, bahkan di tempat itu ada beberapa pemuda yang lebih tua dari Xu Chen beberapa tahun mungkin dua sampai tiga tahunan, tetapi mereka tetap menaruh rasa hormat yang dalam terhadap Xu Chen.
Namun saat para pemuda menegakan kembali kepala, mereka bisa melihat Xu Chen tersenyum kecil seraya menganggukkan kepala ringan.
Pemuda yang berkata tadi mengucek-ngucek matanya berulang kali, memastikan apa yang dilihatnya adalah kenyataan. "Benarkan?" pemuda itu kembali memastikan.
"Ya, kau boleh latih tanding denganku, tetapi sebelum itu aku harus tahu namamu?" Xu Chen bertanya pada pemuda yang mengajukan latih tanding dengannya.
__ADS_1
Yang ditanya bukannya segera menjawab, malah mangap-mangap tak jelas. Hingga salah satu rekannya mendorong bahunya keras "Hei bodoh, sadarlah. Pahlawan kita bertanya padamu," pemuda itu masih tak habis pikir dengan kebodohan rekannya. Dia bukan temanku, itulah yang ingin pemuda itu katakan pada Xu Chen.
"Ah iya," pemuda itu tersadar. "N-namaku W-wu Ming," pemuda itu tiba-tiba diserang rasa gugup luar biasa, bahkan sampai tangannya gemetaran. Spontan hal itu membuat gelak tawa rekan-rekannya yang lain dan mencairkan suasana yang tadinya canggung menjadi gelak tawa.
"Baiklah Wu Ming, sekarang kau dan semua rekanmu bersiaplah."
Mendengar itu pemuda yang bernama Wu Ming mengerutkan keningnya tak mengerti "Pahlawan apa maksud anda?" Wu Ming bertanya hati-hati takut menyinggung perasaan Xu Chen.
"Bukankah kau ingin latih tandang?"
"Ya, pahlawan," Wu Ming menganggukkan kepalanya mantap.
"Kalian," Xu Chen melirik para pemuda yang berada di tempat itu.
"Ya, pahlawan. Latih tanding bersama anda adalah suatu kehormatan bagi kami," para pemuda berkata serentak.
"Aku akan berlatih tanding bersama kalian semua sekaligus," Xu Chen memasang senyum lebar.
Semua pemuda menjatuhkan rahang kaget dengan peryataan Xu Chen berlatih tanding bersama mereka semua sekaligus. Mereka tahu Xu Chen memang hebat tetapi untuk melawan mereka semua sekaligus, mungkin itu hal yang sulit untuk Xu Chen sekalipun, pikir para pemuda.
"Pahlawan kami tahu anda sangat kuat... tetapi melawan kami semua sekaligus...?" pemuda itu tak melanjutkan kata-katanya takut menyinggung perasaan pahlawan mereka, Xu Chen.
Keraguan para pemuda memang bukan tanpa alasan, mereka semua setidaknya berjumblah dua puluh orang dan rata-rata dari mereka telah mencapai ranah Beginner Bintang Delapan dan hanya beberapa orang diranah Beginner menengah dan juga ada yang telah mencapai ranah Beginner Bintang Sembilan. Meskipun mereka akui, tidak bisa membaca ranah Xu Chen saat ini, hal itu menandakan ranah Xu Chen lebih tinggi dari mereka. Tetapi para pemuda yakin, pahlawan mereka itu tidak akan lebih dari ranah Practitioner.
"Kalian tidak perlu menghawatirkan aku seperti itu," Xu Chen sedikit meninggikan suaranya dengan menggunakan Qinya.
"Tapi..." para pemuda masih ragu, takut-takut melukai Xu Chen.
Xu Chen mengerti dengan keraguan para pemuda segera membocorkan sedikit auranya. Xu Chen hanya mengeluarkan aura ranah Practitioner Bintang Dua agar tak terlalu menarik perhatian, tetapi itu cukup untuk menggertak para pemuda, bahkan membuat mereka ketakutan. Ranah seorang Practitioner memang bisa membuat sesak nafas seorang Beginner.
"Bagaimana? apa sekarang kalian siap?" Xu Chen menyeringai lebar.
__ADS_1
****
Maaf hari ini satu chapter lagi, author soalnya banyak tugas dari sekolah yang belum dikerjain. See you itu aja bye bye