Legend Of Darknes

Legend Of Darknes
Chapter 72. Emas


__ADS_3

Setelah Hui Yin pergi ke kamar yang di sediakan bersama para dayang di depannya tidak sengaja dia berpapasan dengan Qin Meng-Yu.


Spontan hal itu mengagetkan Qin Meng-Yu, dia masih ingin siapa Hui Yin, Qin Meng-Yu segera berbalik dan memanggil Hui Yin.


"Hei, bukankah kau yang bersama dengan Chen?" tanya Qin Meng-Yu tanpa menghampiri Hui Yin.


"Tuan Putri," Hui Yin memberi hormat, "Mohon maaf tetap aku tidak mengetahui orang yang bernama Chen," balas Hui Yin juga tanpa menghampiri Qin Meng-Yu.


Qin Meng-Yu terlihat berpikir sejenak, dia yakin Hui Yin adalah gadis budak sewaktu itu yang dibeli oleh Xu Chen.


Qin Meng-Yu tidak ingin ambil pusing dengan hal itu, dia kemudian menanyakan asal usul Hui Yin, Hui Yin menceritakan seadanya.


Setelah percakapan singkat tersebut, Qin Meng-Yu memilih berpamitan kepada Hui Yin lalu meninggalkannya.


Hui Yin memberi hormat seraya memandangi Qin Meng-Yu yang melengos pergi.


"Dia banyak berubah," gumam Hui Yin pelan.


Qin Meng-Yu memang terlihat berbeda akhir-akhir ini, Hui Yin bisa melihat jelas badan Hui Yin menjadi kurus, wajah gadis itu juga terlihat berbeda.


Hal ini sebenarnya juga sudah diketahui oleh Kaisar dan Permainsuri serta saudara-saudaranya, mereka juga sudah menanyakan sebab mengapa Qin Meng-Yu tidak bersemangat akhir-akhir ini, namun Qin Meng-Yu tidak mau bercerita apa-apa.


Kaisar juga sudah memangil tabib untuk memeriksa kondisi Qin Meng-Yu, mereka takut kalau Qin Meng-Yu menderita suatu penyakit, namun hasilnya nihil tabib tidak mendeteksi penyakit Qin Meng-Yu, membuat semua orang kebingungan.


"Ini kamar anda nona Yin," seorang dayang menunjukan sebuah kamar yang besar. Hui Yin bahkan belum masuk ke dalamnya tetapi sudah merasakan kemewahan, bahkan pintunya saja sangat mewah.


Hui Yin mengangguk pelan seraya tersenyum kecil lalu segera masuk ke dalam kamar, dia ingin cepat-cepat beristirahat.


Hui Yin membuka pintu kamar itu, dan benar saja di dalam sangat mewah banyak buah-buahan yang disediakan di atas meja. Hui Yin juga melihat tembok dilapisi emas.


Hui Yin tidak menduga akan semewah ini, dia dengan cepat berlari keluar berharap kedua dayang tadi masih ada karena.

__ADS_1


"Untunglah kalian masih di sini," Hui Yin menghela nafas lega.


Kedua dayang tadi mengerutkan dahinya melihat Hui Yin kembali, "Apa ada yang nona perlukan?" seorang dayang bertanya.


Hui Yin mengagunkan kepalanya lalu menjelaskan ingin pindah ke kamar lain, Hui Yin mengatakan juga tidak bisa tinggal di kamar semewah ini.


Kedua dayang itu terlihat saling berpandangan satu sama lain, keduanya takut melakukan suatu tanpa perintah langsung dari Qin Wei-Quo.


Hui Yin melihat keraguan di mata ke-dua dayang tersebut hanya tersenyum kecil lalu mengingatkan kata-kata Qin Wei-Quo kepada keduanya.


"Apa kalian lupa Pangeran mengatakan kalian harus mendengarkan perintahku?" Hui Yin tersenyum lebar seolah sudah menang.


Kedua dayang tersebut kembali berpandangan lalu mengangguk pelan bersamaan.


"Baiklah nona Yin, kamar seperti apa yang nona inginkan?"


Hui Yin tersenyum penuh kemenangan lalu menjelaskan kamar yang dia inginkan.


Setelah Hui Yin pergi, Qin Wei-Quo memutuskan untuk memberi laporan pada Kaisar yang tidak lain adalah ayahnya.


Qin Wei-Quo ingin melaporkan tantang kerjasama yang akan di jalin dua Kekaisaran. Qin Wei-Quo masuk ke aula tahta, disana sudah duduk Kaisar di singgasananya dengan penuh wibawa, lalu di sampingnya ada penasehat yang selalu bersamanya. Sedangkan para menteri berjajar rapi di kursi masing-masing.


"Yang Mulai, aku sudah kembali," Qin Wei-Quo memberi hormat. Meski mereka adalah pasangan ayah dan anak, tetapi jika dalam keadaan seperti ini hal itu tidak berlaku.


Kaisar Qin menganggukkan kepalanya pelan penuh wibawa menyuruh Qin Wei-Quo bangun dari hormatnya.


"Yang Mulia hamba ingin menyampaikan tentang kerjasama antara Kekaisaran Qin dan Tang."


"Ya, kami akan mendengarkan."


Qin Wei-Quo mulai menjelaskan bahwa mereka setuju dengan usulan Yang Mulia untuk menguasai wilayah Kekaisaran Meng, tetapi Kekaisaran Tang ingin bertemu langsung dengan Yang Mulia untuk membahas hal ini lebih lanjut.

__ADS_1


Kekaisaran Qin dan Kekaisaran Tang ingin menjadi wilayah Kekaisaran Meng bukan tanpa sebab, meski wilayah Kekaisaran Meng hanyalah padang pasir belaka tetapi banyak yang tidak tahu bahwa daratan pasir itu menyimpan segudang emas. Bahkan pihak Kekaisaran Tang sendiri tidak mengetahui hal ini.


Selain alasan emas atau kekayaan, Kekaisaran Qin dan Kekaisaran Tang menyerang Kekaisaran Meng kerena takut Kekaisaran tersebut akan menjadi Kekaisaran terkuat andai saja mengetahui emas yang terkubur di luas Padang pasir mereka.


Hal ini kurang lebih sama dengan kasus Keluarga Xu.


Yang mengetahui hal ini pertama kali adalah Kekaisaran Qin, Kaisar Qin sebenarnya sudah penasaran sejak lama tentang Padang pasir di Kekaisaran Meng. Entah mengapa suatu hari Kaisar Qin mengutus beberapa orang untuk menyelidiki wilayah Padang pasir milik Kekaisaran Meng.


Hal itu sebenarnya sudah berlalu dua tahun sejak Kaisar Qin mengutus orangnya ke Kekaisaran Meng, Kaisar Qin bahkan hampir melupakan hal itu, namun beberapa hari yang lalu orang-orang yang Kaisar Qin utus kembali.


Namun bukan hanya kembali, mereka membawa berita baik pada Kaisar Qin bahwa wilayah Padang pasir Kekaisaran Meng menyimpan emas yang sangat banyak.


Mendapati hal seperti itu Kaisar Qin senang bukan kepalang, apalagi Kekaisaran Meng hanyalah tidak sekuat Kekaisarannya, namun yang menjadi masalah adalah Kekaisaran Tang, Kekaisaran terkuat dari ketiganya.


Kaisar Qin tentu tidak ingin sembarangan dengan Kekaisaran Tang. Andai kata mereka berhasil merebut wilayah Kekaisaran Meng dan menambang emas-emas di sana pasti pihak Kekaisaran Tang akan mengetahuinya, dan akan terjadi peperangan besar.


Berbagai cara dipikirkan, Kaisar Qin mendiskusikan itu bersama semua Menterinya, namun hanya satu jalan yang ditemui yaitu berbagi wilayah Kekaisaran Meng dengan Kekaisaran Tang.


Setelah keputusan itu diambil, Kaisar Qin bahkan kandung mengirim putra Mahkotanya ke Kekaisaran Tang untuk mendiskusikan hal tersebut.


Itulah mengapa jumlah rombongan yang mengantar Qin Wei-Quo hanya sedikit, karena Kaisar Qin tidak ingin gerakannya terendus lebih dulu oleh Kekaisaran Meng.


"Baiklah, aku akan pergi menemui sendiri Kaisar Tang untuk mendiskusikan hal ini," Kaisar Qin berkata penuh wibawa namun Qin Wei-Quo memotong.


Qin Wei-Quo mengatakan bahwa tidak perlu repot-repot pergi ke Kekaisaran Tang karena Kaisar Tang lah yang akan datang kemari beberapa hari lagi, mungkin paling lama satu minggu.


Kaisar Qin mendengar hal itu mengerutkan dahinya, setahun Kaisar Tang tidak akan mendatanginya seperti itu. Jika Kaisar Qin mendengar ini keluar dari mulut orang lain pasti dia tidak akan mempercayainya.


"Baiklah jika seperti itu, istirahatlah kau pasti kelelahan menempuh perjalanan jauh."


Qin Wei-Quo memberi hormat lalu keluar dari aula tahta.

__ADS_1


__ADS_2