
Semangat Marc kembali membara, kali ini dia berniat mengalahkan Joe dalam duel yang tidak pernah dia menangkan sekali pun.
Joe tersenyum sebelum menghindari semua serangan Marc, hanya dalam beberapa gerakan dia sudah berhasil memukul mundur Marc yang terus melancarkan serangan.
“Belum, ini belum berakhir.” Marc bangkit berdiri dan kembali menyerang, Joe dengan santai menerima semua serangan. Duel itu lagi-lagi berakhir dengan kemenangan Joe.
Setelah duel berakhir, Marc menjatuhkan dirinya berbaring di tanah, sementara Joe duduk di sampingnya.
“Tanpa menggunakan tubuh pengembali serangan saja kau sudah sekuat ini. Kau benar-benar berbakat, Joe.” Marc berkata demikian dengan napas terengah-engah. “Suatu saat nanti kau pasti akan menjadi pemimpin suku zeroth.”
“Aku tidak punya impian sebesar itu. Aku hanya ingin selalu berada di sisi Tuan Zemus.”
“Ayolah, kau itu berbakat. Tidak ada salahnya jika kau—”
“Aku berbeda denganmu, Marc. Tuan Zemus adalah orang yang membesarkanku, berada di sisinya sekarang sudah merupakan kebahagiaan yang tidak ternilai.” Joe memandang langit gelap. “Ya, kalau bicara soal impian … mungkin aku ingin menjadi sosok yang paling dibutuhkan olehnya.”
“Ya, baiklah, aku hargai impianmu.” Marc bangkit berdiri lalu mengajak Joe berjabat tangan. “Suatu saat nanti jika aku telah menjadi pemimpin suku dan kau telah menjadi orang nomor satu Tuan Zemus, berjanjilah hubungan kita akan terus berlanjut seperti sekarang.”
Joe tersenyum, dia membalas jabatan tangan pria itu. “Tentu, kita akan menjadi saudara selamanya.”
Tempat itu kemudian berubah menjadi gelap, kini Yuna menemukan dirinya berada di pemakaman. Yuna bisa melihat Marc berlutut di hadapan kuburan ayahnya, semua anggota suku roo yang berdiri di belakang tampak murung.
“Tuan, aku telah menemukan petunjuk suku yang membunuh pemimpin.” Salah seorang anggota suku yang baru mendarat di samping Marc memberi laporan.
“Siapa mereka?” Marc melirik tajam pada pria itu.
“Mereka … terdiri dari belasan suku. Orang yang telah menggerakkan suku-suku itu adalah Zemus.”
__ADS_1
“Dasar licik. Beraninya dia menipu ayah dan bersekutu dengan suku lain untuk membunuhnya.” Marc mengepal keras tangannya. “Kita harus menjadi lebih kuat untuk membalas apa yang mereka perbuat.”
Marc sudah menginjak usia 83 tahun, pemikirannya yang sudah matang membuatnya menahan amarah untuk membalaskan dendam sang ayah secepat mungkin.
Meskipun sudah menjadi seorang pertapa, Marc menyadari kekuatannya masih terpaut jauh dari sang ayah. Menyerang suku zeroth sekarang hanya akan membuat mereka hancur.
“Mulai saat ini panggil aku Raja! Aku berjanji tidak akan membiarkan suku kita dipandang remeh oleh siapa pun!” Marc mengucap sumpah di depan kuburan pemimpin terdahulu.
Memyadari membutuhkan kekuatan yang lebih besar, Marc memutuskan untuk mengorbankan sebagian besar masa hidup agar memperoleh kekuatan, bayaran yang dia terima tidak hanya masa hidup yang besar, tubuh awet muda yang diperolehnya setelah menjadi pertapa ikut hilang sehingga wajahnya menua sesuai dengan usianya.
Rencana balas dendam semakin terundur ketika sejumlah suku menyerang untuk melengserkan posisi tiga besar mereka. Marc cukup tertekan dalam masa kepimpinannya, selama belasan tahun digempur secara terus menerus akhirnya suku roo lengser dari posisi tiga besar suku terkuat. Yang lebih mengangetkan kali ini lawan yang menghancurkan mereka hanya satu orang.
“Joe, kau .…” Marc yang sudah tergeletak tidak menyangka harus melihat sahabat lamanya menjadi dalang yang menghancurkan sukunya. “Kenapa kau lakukan ini? Bukankah dulu kau berjanji—”
Joe tertawa pelan, “Kau masih saja mengingat omong kosong yang kita ucapkan saat muda dulu, itu benar-benar membuatku geli.”
Marc menggertak giginya, “Kau benar-benar berubah setelah menjadi tangan kanan Zemus, aku kecewa padamu!”
“Kau masih saja mengucapkan omong kosong yang menjijikkan. Padahal aku sudah berniat memperlakukanmu dengan baik sebagai budak mengingat hubungan baik kita dulu, tetapi sekarang aku berubah pikiran. Kau lebih pantas menjadi hewan peliharaan.”
Setelah itu Marc beserta para pengikutnya dikurung. Pada malam setelah suku zeroth mendapatkan posisi toga suku terkuat, suku roo yang dikurung dalam kandang dan masih terluka dipaksa bertarung satu lawan satu dengan petarung suku lain untuk dijadikan sebagai hiburan.
Tidak ada dari satu pun dari petarung suku roo yang mampu memenangkan pertarungan dengan kondisi mereka. Tetapi berbeda ketika giliran Marc tiba, dia hampir mengalahkan petarung suku lain hanya saja Joe membantu petarung itu dengan menyerang Marc secara diam-diam.
“Sialan ….” Marc mengumpat kesal pada Joe yang telah berbuat licik padanya, jelas pria itu tidak ingin membiarkan dirinya menang.
Setiap saat dijadikan bahan pertunjukkan membuat mental anggota suku hancur, kebencian Marc semakin besar pada suku zeroth, terutama pada Joe, dia adalah dalang yang membuat mereka jadi mainan seperti ini.
__ADS_1
Joe bisa merasakan kebencian dari tatapan Marc, Joe tidak senang karena yang diinginkannya adalah menghancurkan mental pria itu. Tidak mendapatkan apa yang diinginkan membuatnya memperlakukan suku roo semakin buruk hingga beberapa tahun kemudian akhirnya dia berhasil membuat Marc hancur sesuai yang keinginannya.
“Apa kau ingin hidup tenang bersama para pengikutmu?” Joe bertanya pada Marc yang baru saja selesai disiksa oleh beberapa orang,
Marc yang sudah tergeletak lemah melirik ke arah Joe, bibirnya bergetar. “Y-Ya, tolong biarkan kami hidup.”
Marc sudah mengalami berbagai siksaan, kebenciannya pada Joe sekarang telah berubah menjadi rasa takut.
“Bagus, aku sudah meminta Tuan Zemus untuk melepas kalian karena kami sudah tidak merasa terhibur lagi. Aku akan membebaskanmu.”
Mendengar itu anggota suku roo yang dikurung dalam kandang tersenyum sumringah, mereka sudah lama berharap dapat terbebas dari neraka ini.
Marc jiga gembira mendengarnya, dengan bibir yang gemetar dia berkata, “Be-benarkah? Te-terima ka ….”
Ucapan Marc terhenti ketika melihat Joe menyeringai, dia merasa ada yang tidak beres. “A-apa ….”
“Tidak perlu khawatir. Aku benar-benar akan membebaskanmu. Aku harap kita tidak akan bertemu lagi karena kalau itu terjadi aku akan membawamu kembali ke sini. Tapi sebelum itu …,” Joe kemudian melepas salah satu sepatunya, mengarahkan telapak kakinya di depan wajah Marc. “Jilat ini, setelah kau melakukannya, kau beserta para pengikutmu akan bebas.”
Marc dengan cepat menyambut kaki pria itu lalu menjilatnya. Dalam pikiran Marc hanyalah terbebas dari tempat ini, dia tidak peduli meskipun permintaan Joe akan melukai harga dirinya lagi.
Anggota suku roo sebenarnya marah namun tidak ada yang bisa mereka lakukan. Keinginan bebas mereka juga sama besarnya dengan Marc sehingga semuanya hanya meminta maaf pada pemimpinnya yang harus melakukan perbuatan hina itu untuk mereka.
“Bagus, jilat sampai bersih.” Joe tertawa puas melihat Marc membersihkan kakinya seperti anj*ng.
Pemandangan tiba-tiba berubah menjadi gelap, Yuna tersadar kembali, di saat bersamaan dia juga berhasil menembus sendi alam keempat.
BLAAAAR!
__ADS_1