Legend Of Lyan 2

Legend Of Lyan 2
Kabar Mereka


__ADS_3

“Mari kita lanjutkan perjalanan.” Pemuda itu menghentakkan kakinya ke tanah, menciptakan gelombang energi yang dahsyat.


Pemimpin pasukan misterius itu bisa melihat semua pasukannya tiba-tiba meledak sebelum dirinya berubah menjadi gumpalan darah.


Light tiba-tiba tersenyum mendengar perkataan tersebut.


“Apa Lyan masih berada di ruang jiwa, Pertapa?”


Ekspresi pemuda itu tampak sedikit terkejut. Dia tertawa pelan.


“Bagaimana kau bisa mengetahuinya? Aku terpaksa mengambil alih tubuh Lyan untuk mengatasi para cecunguk barusan.”


Beberapa saat yang lalu, dari ruang jiwa Master Gyo melihat bahaya mengancam tubuh fisik muridnya. Tidak memiliki pilihan membuatnya memutuskan mengambil alih tubuh muridnya dan mempercepat proses rekonstruksi tubuh dengan bantuan Rain.


Master Gyo sebenarnya masih cukup terkejut dengan tingkat kekuatan Lyan yang dia rasakan sendiri sekarang. Bahkan dalam situasi mempercepat rekonstruksi tubuh, kekuatan yang trrdapay pada tubuh muridnya itu telah mencapai puncak Pertapa Alam. Hampir menembus tingkatan Pertapa Bumi.


Master Gyo kemudian menceritakan keseluruhan rangkaian peristiwa yang terjadi di dalam ruang jiwa. Light sempat menahan napas beberapa kali saat mendengarnya.


“Jadi Lyan tidak akan kembali sebelum berhasil menyerap habis kristal jiwa itu?”


Master Gyo mengangguk.


“Ukurannya cukup besar. Aku ragu Lyan bisa menyerapnya kurang dari satu tahun. Kita tidak bisa hanya menunggu untuk sesuatu yang tidak pasti.”


“Kau ada benarnya. Jika kita hanya menunggu aku ragu sisa waktumu akan cukup sebelum kita mendapatkan kepingan jiwa terakhirmu.”


“Maka dari itu kita harus bergerak sekarang.”


***


Di Benua Gelap, seorang pria berparas tampan yang mengenakan jubah putih tampak sedang menikmati keindahan bulan purnama di sebuah puncak bukit yang tinggi. Di sampingnya terdapat seorang wanita cantik yang menemani.


Pria itu tersenyum tampan ketika lirikan matanya tertuju pada wanita di sebelahnya yang tampak gusar.


“Apa benar tujuan kita ke sini benar-benar untuk mempelajari teknik khusus yang kau katakan, Guru?”


Carera bertanya dengan wajah jutek pada pria itu yang tidak lain adalah Laxus.

__ADS_1


“Tempat yang sepi dan disinari bulan purnama, mana ada tempat yang lebih cocok dari ini.”


“Apa maksudnya?”


Laxus memegang pundak wanita itu.


“Dengarkan aku, Carera. Teknik yang akan kuajarkan ini adalah salah satu teknik terhebat di dunia. Kau percaya padaku, bukan?”


Carera mengangguk.


“Sejujurnya kau tidak memenuhi syarat untuk mempelajari teknik ini karena tubuhmu terdapat banyak energi negatif. Tapi kita bisa mengurangi energi negatifmu sampai pada tahap dimana kau bisa mempelajari teknik ini.”


“Bagaimana caranya?”


“Untuk mengurangi energi negatif dalam tubuhmu, aku akan mengorbankan diriku dengan menyerap sebagian besar energi negatif itu.”


“Mengorbankan diri? Bukankah ini merugikanmu?”


“Tidak sampai tahap membuat rohku lenyap. Aku hanya akan kelelahan dan efek buruk lainnya akan dapat diatasi ketika aku mendapatkan tubuh fisikku kembali.”


“Baiklah, apa yang harus kulakukan, Guru?”


“Buka bajumu.”


“Apa?”


Tatapan Laxus tampak serius. “Untuk mengurangi energi negatifmu, kita harus menjadi satu. Ini mungkin cukup melelahkan tapi kuyakin kau akan menikmatinya.”


PLAAAK!


***


Di salah satu restoran Benua Gelap, White, Snow, Raysmith dan Ursula tampak sedang menikmati makan malam bersama dengan Jenderal Iblis dan Komandan Elang. Mereka tampak sedang berbincang-bincang.


“Gresia sudah menarik hatiku pada pertemuan pertama kami. Gara-gara Dewa Sesat sialan aku harus kehilangan dia.” Raysmith meneguk araknya sambil menangis.


“Mari kita pulang. Dia sudah terlalu mabuk.” Snow yang mengenakan jubah bertudung menghela napas.

__ADS_1


“Orang tua ini selalu saja merepotkan orang setiap malam.” White yang juga mengenakan jubah bertudung mendengus kesal. Dia segera memikul Raysmith dan keluar dari restoran bersama yang lainnya.


Ditengah perjalanan pulang, Ursula yang berjalan di belakang bersama Jenderal Iblis dan Komandan Elang memulai topik pembicaraan.


“Omong-omong tentang apa yang kita bicarakan barusan, aku masih penasaran kenapa kaisar dapat keluar hidup-hidup dari Benua Cahaya. Khususnya kau Rion, saat itu tinggal selangkah lagi kau akan menjadi pertapa. Dengan tingkat kekuatan seperti itu, kaisar tidak mungkin dapat mengalahkanmu.”


Jenderal Iblis, Rion, meletakkan tangannya ke belakang.


“Bukannya aku tidak ingin memberitahumu, aku sendiri tidak ingat bagaimana cara kaisar menaklukkanku.”


“Padahal kami pikir kami sudah mengingat semuanya setelah kaisar mengembalikan nama kami. Seberapa keraspun mencoba, yang kami ingat hanyalah pertemuan dengan kaisar di Benua Cahaya. Lalu aku dan Rion sudah memastikan ingatan terakhir kami sebelum neninggalkan Benua Cahaya sama. Setelah pertemuan itu ingatan kami menjadi buram dan tiba-tiba kami sudah berlutut dihadapannya.” Komandan Elang, Leon, memijat kepalanya.


Ursula terdiam mendengar perkataan mereka.


‘Memori mengenai pertarungan mereka tidak ada? Aku merasa ada yang tidak beres.’


***


Sementara di atas langit tampak sang kaisar, X, sedang terbang dengan kecepatan tinggi. Dia berhenti tepat di sebuah pulau terpencil. Semua pepohonan di sana tampak tandus. Tulang-tulang hewan tampak berserakan sepanjang perjalanannya.


X berhenti melangkah ketika tiba tepat di tengah pulau, dia mengeluarkan kunci hitam yang memancarkan aura gelap dari saku yang terdapat pada jubah emasnya.


Tidak lama kemudian kunci hitam itu terbang dengan sendirinya di udara. Aura dari kunci menyeruak keluar, sebuah pintu tiba-tiba muncul dan X segera masuk.


X melewati lorong yang panjang. Ketika sampai diujung lorong, dia melihat satu sosok yang mengeluarkan aura hitam mematikan tampak sedang berdiri di hadapan sebuah peti mati.


“Apa kau sudah yakin Endless tidak mencurigai gerak-gerikmu?” Suara sosok itu terdengar mencekam.


“Aku sudah memastikannya.”


X menatap punggung sosok itu dengan tajam.


“Dalam kondisi berada dalam pengawasan Endless, kau memintaku datang ke tempat ini. Sepertinya ada hal penting yang ingin kau sampaikan.”


Sosok itu, Azrec, menoleh ke arah X.


__ADS_1


“Sudah waktunya untuk membangunkan tiga pertapa sakti.”


__ADS_2