
Beberapa saat sebelumnya.
Setelah tidak sadarkan diri selama beberapa jam, Hex yang disandarkan di batu besar mulai siuman dan membuka matanya perlahan. Pandangan pertama yang dilihat ketika sasar adalah sosok pemuda rambut biru yang sedang menatapnya.
Perlahan seluruh ingatannya pada pertarungan menghadapi Lyan mulak mengalir dalam kepalanya ketika mata mereka bertemu tatap.
Tubuh Hex tampak bergetar sesaat setelah menyadari dirinya kalah dalam pertarungan, Lyan hanya menatapnya tanpa berkata-kata. Tidak lama setelah itu Hex tiba-tiba tertawa lepas.
“Aku benar-benar tidak menyangka akan dipecundangi seperti ini. Ah, bahkan kau telah memulihkan lukaku.”
Hex ingat betul kondisinya yang mengalami cidera berat saat bertarung menghadapi Lyan. Merasa kondisi tubuhnya jadi lebih ringan dan bertenaga setelah siuman, dia yakin pemuda itu telah memulihkan luka-lukanya saat tidak sadarkan diri.
Hex menatap ke langit.
“Karena kecerobohanku, aku harus kehilangan teman yang telah menemaniku selama seratus tahun lebih. Aku bahkan harus kalah memalukan seperti ini tanpa dapat membalaskan dendamnya.” Serangkaian kenangan bersama Pecahan Kemalasan mengalir dalam kepalanya, membuat wajah yang semula terlihat tegar itu perlahan berubah.
Tiba-tiba saja Master Gyo muncul dan memukul kepala Hex.
“Sudah kukatakan berkali-kali untuk tidak bersikap seperti itu. Sebenarnya ada apa, sih, denganmu? Kau adalah pria kuat, tetapi kenapa hatimu sangat lemah!”
Alis Hex terangkat ke atas, dia merasa tidak asing dengan nada bicara tersebut.
“Kau ….”
“Apa kau pikir aku sudah mati?” Master Gyo menghela napas. “Kami ini satu jiwa. Jika sudah menyatu secara sempurna, semua ingatan dari kepingan jiwa lain juga akan berkumpul menjadi satu. Omong-omong kau jangan salah paham, aku bukanlah Pecahan Kemalasan ataupun Pecahan Kelicikan lagi. Aku yang sekarang adalah jiwa yang sempurna.”
“Ah, kau pasti bingung kenapa diantara kelima kepingan jiwa saling berlomba untuk menjadi pihak yang menyerap kepingan jiwa lain. Sederhananya, pihak yang berdiri paling akhir ingatan serta ikatannya bersama orang lain akan lebih kuat. Jadi karena pemenang dalam perlombaan konyol ini adalah Pecahan Kelicikan, ikatanku dengan pemuda yang telah mengalahkanmu lebih kuat dibandingkan ikatan kita berdua.”
Hex tertawa pelan setelah mendengar penjelasan panjang Master Gyo.
“Baiklah, aku paham sekarang. Dan alasanku masih dibiarkan hidup karena permintaanmu pada pemuda itu, bukan?” Hex bertanya sambil menatap Lyan.
__ADS_1
“Ya, begitulah.” Meskipun sebenarnya Pecahan Kemalasan yang memohon, Master Gyo merasa malas membeberkannya pada pria itu.
“Karena temanku adalah temanmu, maka kau adalah temanku sekarang.” Hex menepuk pundak Lyan.
Lyan tersenyum tipis. “Ada yang ingin kutanyakan padamu.”
“Apa itu? Tanyakan saja, Teman.”
“Apa alasanmu sebenarnya meninggalkan suku purba?”
Lyan mengetahuinya dari ingatan manusia gagak. Meskipun manusia gagak tidak berasal dari suku purba, namun ada sebuah cerita yamg membuat manusia gagak selalu bertemu dengan pria itu.
Hex di masa itu adalah seseorang dari suku purba yang sangat terkenal. Selain kuat dan menjadi pemimpin besar suku purba, dia juga suka berbuat onar dengan suku yang bertentangan dengan suku purba.
Meskipun menyadari dia merupakan target utama yang dikejar Astaroth, Hex tidak peduli dan dengan santainya seorang diri berkeliaran di Benua Cahaya untuk bersenang-senang. Dia selalu menggangu suku Benua Cahaya yang dia temui di jalan, tetapi tidak ada satupun yang terbunuh olehnya. Salah satunya adalah manusia gagak yang bernasib sial yang selalu bertemu dengannya ketika bertugas.
Alis Hex terangkat ke atas ketika mendengar pertanyaan itu, dia terkejut karena pemuda yang baru ditemuinya itu mengetahui dirinya adalah seseorang yang berasal dari suku purba. “Bagaimana kau dapat mengetahuinya?”
Hex menghela napas, “Ya, tidak masalah jika tidak ingin memberitahukannya.”
“Kau bertanya mengenai alasanku meninggalkan suku purba, bukan? Inilah jawabannya.” Hex menunjuk Master Gyo.
“Aku?” Master Gyo menunjuk dirinya sendiri.
“Selama bersama suku purba aku merasa cukup bosan karena yang hanya mereka pikirkan adalah perang dan perang. Awalnya aku juga sama seperti mereka, tapi karena semakin lama aku sadar mustahil untuk mengalahkan Astaroth, aku akhirnya berkeliaran ke seluruh penjuru Benua Cahaya untuk melepas rasa bosanku. Meskipun aku tahu banyak yang mengincar kepalaku, aku tidak takut selama bukan Astaroth yang mengejarku sendiri.” Hex tertawa sebelum menatap Master Gyo sambil tersenyum.
“Semenjak aku bertemu denganmu, aku merasa ada sesuatu yang berbeda yang tidak pernah kurasakan selama bersama suku purba. Semakin lama bersamamu, aku semakin yakin selama ini yang kucari-cari adalah sosok teman seperti dirimu. Demi memperdalam ikatan kita, aku menyadari aku harus melepas suku purba agar dapat bebas berkelana bersamamu. Maka dari itu tanpa berpikir lebih jauh lagi, aku segera meninggalkan suku purba demi berpetualang bersamamu. Itu terasa lebih menyenangkan.”
Master Gyo merasa senang mendengar perkataan Hex, namun dia tidak ingin menunjukkan perasaannya pada pria itu.
“Kurasa kau sudah gila. Meninggalkan pasukanmu demi seseorang … aku tidak menyangka masih ada orang aneh sepertimu,” ucapnya sambil menghela napas.
__ADS_1
Light yang sedang duduk di atas batu besar hanya tersenyum mendengar percakapan mereka.
Setelah mengetahui alasan Hex meninggalkan suku purba, Lyan mulai bertanya, “Karena kau tidak memiliki masalah dengan suku purba, maukah kau ikut kami bertemu dengan mereka?”
“Apa? Kalian ingin bertemu mereka?”
Hex menggaruk kepalanya sejenak.
“Karena kalian adalah temanku, aku sepertinya tidak memiliki pilihan lain.”
“Baiklah, sudah diputuskan. Aku akan mencari keberadaan mereka terlebih dahulu.”
“Bagaimana caramu melakukannya, Lyan?” Light lompat dari batu besar.
“Aku memiliki kemampuan yang dapat membuatku melihat keberadaan seluruh makhluk hidup dalam satu benua, Guru.”
Semua terkejut mendengarnya.
“Apa ini seperti kemampuan yang pernah digunakan Agni?” Master Gyo masih ingat peristiwa mengerikan yang dia saksikan dalam Renungan Masa Lampau yang diperlihatkan oleh Endless pada mereka.
Lyan mengangguk pelan. “Benar, Master.”
‘Apa?! Kalau begitu bukankah Lyan sudah setara dengan dewa sekelas Agni?!’ Master Gyo tidak bisa menahan keterkejutannya.
“Ketika aku menggunakan kemampuan ini, seluruh kehidupan dalam Benua Cahaya akan merasakannya” Lyan berbalik memandang ke atas langit. “Dengan kata lain, Astaroth juga akan ikut merasakannya.”
“Tapi aku tidak peduli karena setelah bertemu dengan rekan-rekan kita, aku berencana untuk bertemu dengannya.”
Sebuah tekanan dahsyat serta mengerikan terpancar dari Lyan bersamaan dengan kedua matanya yang tiba-tiba berubah menjadi hitam dan putih. Dari langit muncul dua mata raksasa yang menghadirkan tekanan yang lebih dahsyat, membuat napas rekan-rekannya tertahan seketika.
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan. 🙏
__ADS_1