Legend Of Lyan 2

Legend Of Lyan 2
Bertemu Kaisar


__ADS_3

Jenderal Felline tidak memberi jawaban. Ia hanya termenung. Masih terngiang kata-kata Yuna yang mengatakan kalau dirinya adalah calon istri Lyan.


“Jenderal Felline?”


“Hah?” Jenderal Felline tersadar saat Lyan memanggilnya.


“Apa kau bisa membawaku untuk bertemu dengan kaisar?” tanya Lyan lagi. “Ada yang ingin kubicarakan dengannya.”


Jenderal Felline hanya mengangguk dengan wajah lesu. Lima komandan ikut sedih karena baru mengetahui Lyan ternyata memiliki calon istri. Mereka menyesal telah mengompori Jenderal Felline. Ia pasti patah hati sekarang.


“Apa kau sedang sakit, Jenderal?” tanya Lyan saat melihat wajah lesu Jenderal Felline.


Jenderal Felline menggeleng cepat. “Ah, tidak.” Ia pun segera mengganti topik. “Mari, akan kuantar kalian menemui kaisar.”


Dari ekspresi wajahnya, Yuna bisa memahami kalau Jenderal Felline jelas patah hati setelah mendengarnya mengaku sebagai calon istri Lyan. Ia jadi merasa bersalah karena telah berbohong sehingga membuat Jenderal Felline kepikiran.


‘Ah, aku jadi tidak enak. Tapi semua ini juga karena Lyan! Karena kebodohannya, dia telah membuat hati seorang wanita hancur berantakan.’ Yuna menghela napas. Meskipun Jenderal Felline adalah saingan cintanya, sebagai sesama wanita, ia tidak ingin Jenderal Felline terlarut dalam kesedihannya. ‘Aku harus melakukan sesuatu.’


Setelah mengikuti Jenderal Felline dan sampai di istana, Jenderal Felline membawa Lyan dan rekan-rekannya ke sebuah ruangan, meminta mereka menunggu sejenak.


Jenderal Felline lalu pergi menemui kaisar dan memberitahu kedatangan Lyan dan rekan-rekannya. Ia juga memberitahu kalau Lyan telah membantu dirinya mengatasi monster laut yang sulit ditangani.

__ADS_1


Mendengar cerita itu membuat kaisar terkejut. Ia tidak menyangka pemuda yang dulu sempat menolak tawarannya untuk jadi jenderal itu mendadak muncul dan kembali membantu mereka mengatasi kesulitan. Dulu ia ingat pemuda itu melarikan diri darinya karena tidak ingin menerima jabatan yang dia berikan. Kali ini ia yakin pemuda itu tetap tidak menginginkannya. Pastinya ada alasan lain yang membuat Lyan datang ingin bertemu dengannya sekarang.


Kaisar segera meminta Jenderal Felline membawa mereka kepadanya.


Jenderal Felline pun membawa Lyan serta rekan-rekannya masuk ke dalam. Sepanjang langkah berjalan di karpet merah, terdapat banyak prajurit berdiri berjejer di sekitar kiri kanan mereka. Setelah berjalan masuk lebih dalam, mereka akhirnya bertemu dengan seorang pria tua berjanggut putih yang mengenakan jubah emas, yang sedang duduk di singgasana. Lyan dan rekan-rekannya segera memberi hormat karena mengetahui bahwa sosok itu tidak lain adalah kaisar penguasa benua ini.


“Hormat pada, Kaisar!”


Kaisar mengangguk kepala sambil mengelus janggut putihnya. Ia memperhatikan Lyan dari atas hingga ke bawah sejenak. ‘Dia masih muda. Seumuran dengan putriku. Sepertinya aku harus menjodohkannya pada putriku.’ Kaisar tersenyum lembut.


Namun pikirannya berubah setelah melihat ada dua wanita cantik bersama Lyan. Ia lalu menggeleng-geleng kepala sambil mengelus janggutnya. ‘Berat. Sungguh berat. Putriku pasti akan bersaing dengan para wanita itu. Sebaiknya aku urungkan niatku untuk menjodohkan mereka. Aku tidak rela melihat putriku dimadu.’


Setelah yakin tidak akan menjodohkan putrinya pada Lyan. Ia kemudian memulai pembicaraan.


Kaisar memikirkan hadiah apa yang pantas untuk diberikan pada Lyan. Tiba-tiba saja wajah putrinya terlintas dalam pikiran lagi. Ia cepat-cepat menggeleng kepala, membuang jauh-jauh pikiran itu. ‘Ingat. Ingat. Tidak boleh menjadikan putri sendiri sebagai hadiah. Ingat. Saingan berat. Putriku pasti akan menderita. Lebih baik aku memberinya emas yang berlimpah.’


“Tidak perlu, Kaisar,” ucap Lyan.


Hadiah yang dimaksud kaisar pastilah tidak jauh dari harta berupa emas atau semacamnya. Lyan merasa setelah menjadi Xora tidak memerlukan hal duniawi semacam itu lagi karena tidak berarti apapun baginya.


Bahkan untuk masalah makan saja, sebenarnya untuk mereka yang telah menjadi pertapa sudah tidak memerlukan hal semacam itu. Sebab hanya dengan menyerap energi alam sekali saja, perut mereka akan terisi selama beberapa minggu. Apalagi dirinya yang telah menjadi Xora, hanya dengan menyerap sedikit energi alam saja, ia akan merasa kenyang selama bertahun-tahun.

__ADS_1


Beberapa minggu terakhir makan pun itu hanya sekedar untuk menemani rekan-rekannya yang belum menjadi pertapa. Kadang ia juga bosan dan hanya ikut-ikutan makan untuk menghabiskan waktu.


Kaisar sebenarnya sedikit bingung kenapa pemuda itu menolak sebelum mengetahui apa yang akan dia berikan. Tidak tahu, kah, pemuda itu kalau jumlah harta yang melimpah akan ia berikan sebagai tanda terima kasih?


Namun kaisar tidak berani memaksa pemuda itu untuk menerima hadiahnya. Ia tidak ingin lagi melihat pemuda itu lari darinya seperti yang pernah terjadi dulu. Kaisar hanya bisa berdecak kagum karena baru pertama kali bertemu dengan seseorang yang membantunya mengatasi masalah besar tanpa meminta imbalan.


“Baiklah, aku mengerti.” Kaisar mengelus-elus janggutnya. “Kalau begitu, aku hanya dapat mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya padamu.”


“Tidak perlu sungkan, Kaisar.”


Kaisar mengangguk pelan sambil tersenyum. Ia semakin takjub dengan sikap pemuda itu. Tidak lama berselang lagi-lagi wajah putrinya terlintas dalam benaknya, membuat kaisar menarik napas dalam. ‘Iblis dalam hatiku … Sudah kukatakan aku tidak akan memberikan putriku pada pemuda ini! Pergilah! Jangan terus menerus menggodaku agar menjual putri kesayanganku sendiri!’


“Lalu, apa maksud kedatanganmu ke sini, Lyan?” tanya kaisar yang sudah mengusir jauh-jauh iblis dalam hatinya. “Tentunya kau memiliki tujuan penting sehingga ingin bertemu denganku.”


“Maksud tujuan kami datang kemari … Kami ingin membantu kaisar untuk mengatasi monster lautan yang mengganggu kedamaian benua ini,” ucap Lyan. “Jika berkenan, kami ingin kaisar memberi izin untuk membantu setiap wilayah yang diserang oleh para monster itu.”


Mendengarnya membuat kaisar tiba-tiba melotot besar, seperti ingin menelan seseorang hidup-hidup.


Reaksi itu membuat Lyan dan rekan-rekannya cukup kaget. Lyan berusaha mengingat-ingat apa ada kata-katanya yang terdengar menyinggung sehingga kaisar menunjukkan reaksi seperti itu.


Jenderal Felline bahkan para prajurit yang berada di sana tidak kalah terkejut. Perasaan tidak ada yang salah dengan ucapan Lyan barusan, malah bagi mereka itu merupakan kabar baik karena menerima bantuan dari orang-orang kuat seperti Lyan serta rekan-rekannya akan membuat masalah monster laut yang menyerang benua ini dapat diatasi lebih cepat.

__ADS_1


Sebenarnya memang tidak ada yang salah dengan perkataan Lyan. Hanya saja saat ini sang kaisar sedang bertarung dengan iblis dalam hatinya. Karena barusan Lyan mengatakan akan membantu mereka mengatasi monster lautan yang mengganggu kedamaian Benua Terang, lagi-lagi iblis dalam hati sang kaisar muncul, kembali menggodanya bahkan lebih parah dengan terus menerus menghujani wajah sang putri dalam pikirannya.


‘Iblis sialan! Sudah kukatakan aku tidak akan memberikan putri kesayanganku pada pemuda ini! Enyah kau, sialan! Enyah!’ batin sang kaisar sambil menggertak giginya, membuat Lyan beserta semua orang yang ada di sana terheran-heran.


__ADS_2