
Lilia dan Zemus yang membawa ribuan pasukan bersama mereka terus bergerak menuju tempat persembunyian suku purba. Setelah menempuh perjalanan selama satu jam lebih, Lilia menyadari sepanjang perjalanan raut wajah Zemus tampak gelisah.
“Ada apa denganmu, Zemus? Apa kau khawatir bertemu dengan Hex?” Lilia tertawa mengejek namun Zemus hanya diam tidak bisa memberitahu sebenarnya yang dia khawatirkan adalah seekor harimau tempur yang mungkin sekarang masih bersama suku purba.
Tidak mendapat tanggapan, Lilia kembali melanjutkan perkataannya.
“Jangan khawatir, Zemus. Kau tidak perlu berurusan dengannya karena dia adalah bagianku. Kau cukup mengurus sekumpulan pecundang yang memimpin suku purba.”
“Dan, aku rasa kau harus menghilangkan kecemasan berlebihanmu itu. Akan sangat memalukan salah satu pemimpin suku terkuat sepertimu memasang tampang menyedihkan pada saat seperti ini.”
Zemus berdecak kesal, “Aku mengerti. Jangan terus menceramahiku.”
Meskipun kesal pada wanita itu, Zemus merasa yang diucapkannya benar. Seharusnya dalam saat memimpin para pasukan seperti ini dia tidak boleh menunjukkan raut menyedihkan. Zemus menarik napas lalu menghembuskannya perlahan agar kekhawatirannya cepat mereda.
Lilia tersenyum melihat Zemus mendengarkan sarannya.
“Bagus. Karena kau mendengarkan perkataanku, sebagai hadiah nanti aku akan memberimu kepala pria yang kau takutkan selama ini. Kau bisa menjadikan kepalanya sebagai hiasan rumahmu.”
Zemus hanya melirik Lilia dengan kesal karena terlalu banyak bicara.
Tidak lama kemudian Zemus membatin dalam hati, ‘Aku harap Hex maupun harimau itu tidak bersama suku purba agar segalanya berjalan dengan mudah. Ya, semoga tidak ada keduanya di sana. Hanya melawan satu dari mereka saja akan sangat merepotkan, jika ada kedua-duanya ... kami tidak akan memiliki peluang sama sekali untuk memenangkan pertempuran ini.’
***
“Kau hanya perlu melakukannya tanpa perlu menanyakan apapun. Makhluk seperti kalian tidak pantas untuk mengetahuinya.”
Perkataan Sisi Gelap membuat pemimpin suku papu tidak berani bertanya lebih jauh. Dia segera menunduk hormat pada harimau itu.
__ADS_1
“Tolong abaikan pertanyaanku, Papu. Aku berjanji tidak akan bertanya mengenai hal seperti ini lagi.”
Pemimpin suku papu tidak ingin membuat Sisi Gelap marah, dia membutuhkan kekuatan luar biasa harimau itu yang dapat mengalahkan Zemus dengan mudah.
Meskipun itu membuat derajatnya sebagai pemimpin dipertanyakan, pemimpin suku papu tidak peduli karena yang terpenting baginya saat ini adalah kekuatan Sisi Gelap. Dia sangat membutuhkan kekuatan harimau itu untuk berperang menghadapi Astaroth.
Sisi Gelap menatapnya beberapa saat sebelum bertanya, “Apa ada hal penting yang membuatmu memanggilku sekarang?”
“Ini … mengenai perang menghadapi Astaroth. Kau memintaku untuk memulainya setelah Yuna berhasil menyerap roh para pemimpin suku dan menunggu sampai semua rekan-rekanmu ke sini. Aku sudah memikirkannya selama beberapa hari ini dan aku sungguh tidak meragukan kalian, Papu. Hanya saja Astaroth bukanlah sosok yang bisa dikalahkan dengan mudah. Apa kau yakin ini akan baik-baik saja jika kita terburu-buru, Papu? Tidak bisakah kita melakukannya saat semua anggota suku semakin kuat?”
Sisi Gelap tertawa pelan.
“Hanya karena aku memberitahumu cara efektif agar pasukanmu berkembang dengan cepat, kau jadi cukup percaya diri. Apa kau pikir sebagian besar pasukanmu yang masih berada di Energi Langit akan menjadi pertapa dalam waktu singkat? Pertapa bukanlah jalan yang mudah dilalui oleh makhluk biasa seperti pasukanmu. Perkiraanku bahkan yang paling berbakat diantara mereka setidaknya harus menghabiskan waktu selama beberapa tahun. Apa kau memintaku menunggu dalam kurun waktu selama itu? Perlu kau ketahui aku tidak ingin menghabiskan waktu terlalu lama di tempat ini.”
“Dan, untuk terakhir kalinya kukatakan padamu untuk tidak meragukanku. Alasanku memintamu mempercepat perang setelah rekan-rekanku ke sini karena diantara mereka terdapat seseorang yang akan mengambil peran untuk menghadapi Astaroth.”
DEG! DEG!
Tiba-tiba saja muncul pancaran kekuatan besar dari luar, membuat percakapan mereka terhenti.
‘Ke-kekuatan macam apa ini, Papu?’
Pemimpin suku papu merinding akibat tekanan yang dihasilkan oleh kekuatan tersebut. Kekuatan aneh yang mengandung kekuatan iblis bercampur kekuatan asing yang bahkan tidak pernah dia ketahui. Untuk pertama kalinya dia merasakan kekuatan seperti itu selama hidup ratusan tahun di Benua Cahaya.
“Aku akan memeriksanya di luar, Papu.”
Pemimpin suku papu segera beranjak dari tempat untuk memastikan apa yang sedang terjadi di luar.
__ADS_1
Sementara Sisi Gelap yang kedua matanya membesar setelah merasakan pancaran kekuatan itu tiba-tiba tersenyum.
“Aku tidak menyangka kau akan menjadi seorang Xora dalam waktu sesingkat ini. Kau selalu berada diluar ekspetasiku, Tuan.”
Dan di sisi lain, pergerakan Lilia dan Zemus harus terhenti setelah merasakan tekanan luar biasa tersebut. Bahkan lebih dari dua puluh persen pasukan mereka yang tidak kuat menghadapi tekanan tersebut harus kehilangan kesadaran.
‘Tekanan kekuatan macam apa ini?!’
Lilia dan Zemus membatin serempak dengan ekspresi terkejut.
Lilia, Zemus beserta seluruh pasukannya secara serempak memandang ke atas yang merupakan tempat munculnya pancaran kekuatan tersebut. Mereka bisa melihat terdapat dua mata raksasa yang memiliki warna hitam dan putih berada di langit.
DEG! DEG!
Jantung Lilia, Zemus bersama seluruh pasukannya berpacu semakin cepat. Mereka bisa merasakan kekuatan maha dahsyat serta mengerikan yang berasal dari mata tersebut. Hanya dengan melihatnya saja membuat sebagian besar dari mereka merasa hampir terbunuh.
“Semuanya! Alihkan pandangan kalian dari mata itu!” Lilia memberi perintah karena menyadari tingkat bahaya yang akan ditimbulkan jika melihat kedua mata tersebut lebih lama. Dengan cepat semuanya mengikuti perintahnya dengan menunduk melihat ke bawah dengan tubuh gemetar.
Pancaran kekuatan yang berasal dari mata itu ternyata menyebar luas ke segala penjuru hingga mencapai satu benua. Seluruh kehidupan di Benua Cahaya menghadapi tekanan dahsyat, tidak sediikit dari mereka yang lemah bertumbangan setelah terkena tekanan tersebut.
Astaroth yang ikut merasakan tekanan tersebut tertawa lepas dari kegelapan.
“Kemampuan yang seperti milik iblis namun juga seperti milik dewa. Ternyata ada seseorang yang mempunyai kekuatan unik seperti ini.”
Kegelapan yang selama ini selalu menyelimuti ruangannya tiba-tiba memancarkan cahaya. Sosok Astaroth yang memiliki dua sayap hitam besar serta memegang pedang mulai terlihat.
__ADS_1
“Cukup menarik. Akhirnya setelah ratusan tahun, ada seseorang yang dapat membangkitkan kembali gairahku. Aku sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengannya.”