
Lyan mengangguk pelan. “Dalam waktu dekat, kau akan segera mengetahuinya, Lilith.”
Lilith merasa sedikit bingung karena ekspresi Lyan tiba-tiba saja berubah setelah selesai berkata-kata. ‘Ada apa dengannya?’
Lyan menarik napasnya dalam, berusaha menghilangkan perasaan rumit yang tiba-tiba saja menghantui dirinya. “Aku minta kau tidak melakukan apapun setelah mengetahuinya, Lilith.”
Lilith bisa melihat mata pemuda itu menyiratkan kesedihan. Ia tidak tahu apa yang dimaksud pemuda itu untuk tidak melakukan apapun. Ia juga merasa tidak perlu ikut campur dalam urusan pemuda itu karena masih membencinya. “Baik, Tu-Tu-Tuan.”
Melihat Lilith masih saja gagap saat memanggilnya, Lyan sedikit tersenyum. “Aku sarankan kau berlatih untuk memanggilku dengan benar, Lilith. Jika kau tidak ingin aku menganggapmu sama dengan Youl, usahakan secepat mungkin dapat memanggilku dengan lancar.”
Lilith menggerutu dalam hati sebelum berkata, “Dimengerti, Tu-Tu-Tuan. Aku akan belajar memanggilmu dengan benar ke depannya.”
Lyan kembali tersenyum. “Kau bisa pergi sekarang, Lilith. Aku ingin sendirian sekarang.”
“Baik, Tu-Tu-Tuan.” Lilith kemudian menghilang dari sana.
Setelah kepergian Lilith, Lyan mulai memandang langit malam yang dihiasi bintang-bintang. Sesekali dia menghela napas panjang sebab merasa hatinya semakin terlarut dalam kesedihan akan masalah yang harus dia hadapi ke depannya. Setelah puas menghabiskan waktunya untuk menyendiri, Lyan segera pergi meninggalkan tempat tersebut.
*****
Dua hari kemudian.
Lyan, Laxus, Raysmith dan Ursula berjalan menuju restoran untuk mengisi perut mereka. Lyan sempat ingin mengajak rekan-rekannya yang lain untuk makan siang, namun karena melihat mereka sedang sibuk dengan urusan masing-masing, Lyan memutuskan untuk tidak mengganggu mereka.
Awalnya Laxus tidak mau ikut karena dia hanyalah roh yang tidak butuh makanan. Lagipula jika ikut ke sana, dia hanya akan berdiri melihat mereka makan dan itu sangat membosankan baginya. Namun, karena Lyan memaksanya untuk ikut terus, Laxus mau tidak mau ikut dengan mereka.
Sesampainya di restoran, Lyan bisa melihat Raysmith dan Ursula tampak begitu dekat. Saking dekatnya mereka selalu berbicara berdua, seakan dunia ini sekarang hanya terdapat mereka berdua saja.
‘Kau lihat, Sesepuh?’ Lyan mengirim telepati pada Laxus yang berdiri di belakangnya. ‘Aku sudah menduga mereka memiliki hubungan khusus. Makanya aku mengajakmu agar tidak jadi nyamuk di sini.’
__ADS_1
Laxus mengerutkan kening. Bingung dengan Lyan yang bisa peka dengan hubungan orang lain. Padahal dia sendiri tidak peka dengan sikap yang ditunjukkan Yuna padanya akhir-akhir ini.
Meskipun Laxus mengakui Raysmith dan Ursula sangat dekat. Ia tidak suka karena menilai Raysmith tidak cocok dengan Ursula.
‘Mustahil, Lyan. Raysmith itu kan jelek. Mana mungkin Ursula mau sama dia.’
‘Masa, sih? Om itu kan tampan juga kalau dilihat-lihat.’
‘Kau buta atau gimana, Lyan? Raysmith jauh dari kata tampan, tahu! Yang tampan itu seperti aku gitu loh!’
‘Terserah kau saja, Sesepuh.’ Lyan malas menanggapi Laxus dalam masalah ini. ‘Omong-omong, kita tinggalkan mereka saja, yuk, Sesepuh.’
‘Kau tidak habiskan makananmu?’ Laxus melihat piring Lyan masih menyisakan makanan.
Lyan bangkit berdiri dari tempat duduknya. ‘Aku sudah kenyang. Mari kita pergi.’
Lyan dan Laxus pun izin pamit pada Raysmith dan Ursula untuk meninggalkan restoran. Raysmith malah senang dan melambai-lambaikan tangannya, meminta mereka cepat pergi.
“Sudah, Sesepuh, biarkan saja. Om kan memang seperti itu.”
Laxus menghela napas. “Omong-omong, kau mau ajak aku kemana?”
“Bukit Angin, Sesepuh. Cuaca serta suasananya cukup nyaman. Jadi kita bisa berbicara dengan puas di sana.”
Laxus mengerutkan kening. “Ada apa denganmu? Mengajakku bicara berduaan di bukit? Ini tidak seperti dirimu biasanya.”
“Ah, kita, kan, sudah lama tidak banyak bicara sejak kau keluar dari ruang jiwaku, Sesepuh. Tidak ada salahnya kita menghabiskan waktu bersama sekali-kali.”
Laxus tersenyum sambil mengelus kepala Lyan. “Ya, kalau itu permintaan muridku, aku mau tidak mau harus menurutinya.”
__ADS_1
Sesampainya mereka di Bukit Angin, mereka berdua duduk di dekat pohon besar yang terdapat di sana. Beberapa saat kemudian Lyan memulai pembicaraan.
“Kira-kira sudah berapa tahun kita saling mengenal, ya? Apa kau mengingatnya, Sesepuh?” tanya Lyan sambil tersenyum.
“Sekitar lima tahun mungkin?” jawab Laxus. “Aku masih ingat dulu kau itu hanya bocah kecil yang suka merengek. Tapi sekarang kau sudah besar dan tumbuh menjadi seseorang yang sangat kuat jauh melampaui diriku. Sebagai seorang guru, aku kagum padamu, Lyan.” Ia kembali mengelus kepala Lyan.
Lyan hanya tersenyum sebelum berkata, “Omong-omong, bagaimana dengan tubuhmu, Sesepuh? Bukankah Endless bilang akan membantumu mencarinya dengan bantuan rekan kita yang lain?”
“Ya, rencana awalnya memang seperti itu. Masalahnya tidak ada seorang pun dari rekan kita saat itu yang memenuhi kriteria untuk membantu mencari tubuhku kembali. Setidaknya mereka harus menjadi Pertapa Bumi karena tubuhku terletak di tempat yang cukup berbahaya.” Laxus menghela napas.
Mendengar perkataan Laxus membuat Lyan merasa perasaannya seperti tertusuk jarum. Ia tersenyum pahit sambil berkata, “Apa benar begitu, Sesepuh? Kalau benar syarat untuk membantumu adalah Pertapa Bumi … bukankah saat aku kembali sekarang, kau bisa meminta bantuanku?”
“Ah, aku memang berencana seperti itu. Tapi kau, kan, baru kembali belum lama ini. Kau pasti sangat lelah. Setidaknya aku ingin membiarkanmu istirahat sekitar beberapa bulan lebih dulu, Lyan,” ucap Laxus.
Lyan bangkit berdiri sambil memandang ke arah langit dengan tatapan sedih. Dia menarik napasnya sejenak sebelum berkata, “Kenapa kau terus berbohong, Sesepuh?”
Laxus terkejut mendengar perkataan Lyan. Ia pun segera bangkit berdiri. “Apa maksudmu, Lyan?”
Lyan menoleh ke arah Laxus dengan tatapan sedih. Dia kembali menarik napasnya dalam-dalam agar dirinya kuat untuk mengucapkan kata selanjutnya.
“Kristal jiwa dan Malapetaka … kenapa kau memberikan semua itu padaku, Sesepuh?!” seru Lyan.
Laxus terdiam beberapa saat.
“He-Hei, Lyan. Sepertinya kau salah pa…”
“Aku berterima kasih karena berkat kristal jiwa yang kau perkuat itu, aku berhasil menjadi seorang Xora.” Lyan tersenyum pahit dengan mata berkaca-kaca. “Tetapi, masalah Malapetaka … Bagaimana kau dapat melakukannya, Sesepuh?! Kenapa kau memberikan kutukan seperti itu padaku?!” seru Lyan kembali.
Perkataan Lyan membuat Laxus kembali terdiam beberapa saat.
__ADS_1
“Te-Tenang, Lyan … Aku benar-benar tidak mengerti apa maksud…” Laxus ingin memegang pundak Lyan, namun Lyan cepat-cepat menepis tangannya.
“Sesepuh!” Lyan berseru keras sebelum merapatkan gigi dan mengepal keras tangannya. “Kenapa kau terus berbohong padaku?! Apa sebenarnya tujuanmu selama ini, Sesepuh?! Tidak, bukan Sesepuh. Apa sebaiknya aku memanggilmu Dewa Iblis Atem agar kau mau mengakui semuanya?!”