
“Ber-Berbahaya? Apa?! Sebaiknya kau singkirkan tanganmu terlebih dahulu, Lyan!” Yuna merasa tidak bisa fokus mendengar selama Lyan menggenggam erat tangannya.
Lyan menuruti perkataan Yuna untuk melepas genggamannya. “Memangnya kenapa, Yuna?”
Lyan sedikit merasa heran karena seingatnya waktu itu Yuna juga pernah menggenggam tangannya cukup lama saat berada di tempat persembunyian suku purba dan dia tidak mempermasalahkannya.
“Ki-Kita fokus saja dengan perkataanmu barusan.” Yuna mengalihkan pembicaraan. “Ber-Berbahaya bagaimana, Lyan? Bukankah Master Gyo pernah mengorbankan masa hidupnya sampai tersisa tujuh bulan dan dia masih dapat bertahan sampai masa hidupnya hanya tersisa satu bulan saja?”
Ekspresi Yuna menunjukkan kalau dirinya benar-benar tidak mengetahui mengenai hal buruk yang akan menimpa pertapa jika masa hidupnya berada di bawah 1.000 tahun. Lyan masih merasa heran karena hal seperti ini seharusnya diketahui oleh semua pertapa.
Lalu teringat oleh Lyan akan perkataan Master Gyo yang pernah mengatakan bahwa Yuna hampir mustahil bisa menjadi pertapa karena hanya memiliki Darah Duniawi, andai dapat menjadi pertapa pun dia akan memiliki banyak kekurangan. Mungkin ini adalah salah satu kekurangan seorang pertapa yang memiliki Darah Duniawi, meskipun menjadi pertapa tetapi mereka tidak berhasil menyerap pemahaman pertapa seutuhnya sehingga ada beberapa hal penting yang terlewatkan begitu saja olehnya, pikir Lyan begitu.
Lyan pun akhirnya memutuskan untuk memberi penjelasan pada Yuna.
“Kasus Master Gyo berbeda, Yuna. Selain karena dia bukan sosok pertapa yang sempurna saat itu, masa hidupnya juga terbagi dengan Pecahan Kemalasan. Jika dia sudah kembali mendapatkan tubuhnya dan menjadi sempurna seperti sekarang, dia juga tidak akan membiarkan masa hidupnya tersisa di bawah 1.000 tahun.”
“Itu karena masa hidup seperti pondasi dasar yang dibutuhkan para pertapa agar tubuh mereka dapat menahan kekuatan besar yang telah diperoleh. 1.000 tahun adalah batas masa hidup terendah yang harus dipertahankan agar tubuh tetap dapat menahan kekuatan pertapa. Jika seorang pertapa memiliki masa hidup di bawah 1.000 tahun … kekuatan yang telah diperoleh setelah menjadi pertapa akan menjadi bumerang, mereka akan mulai mengalami berbagai gejala buruk, satu persatu organ tubuh mereka akan rusak tanpa disadari … kelumpuhan atau bahkan yang lebih buruk lagi kematian mungkin akan terjadi pada mereka kurang dari dua tahun.”
Raut Yuna seketika memucat. Jantungnya berdetak cepat, merasa takut kalau gejala buruk itu akan menimpanya lebih cepat karena masa hidupnya sekarang bahkan tidak menyentuh 100 tahun.
__ADS_1
Lyan menyadari ekspresi Yuna berubah setelah mendengar semua penjelasannya, membuatnya sedikit curiga. “Masa hidupmu benar-benar tidak berada di bawah 1.000 tahun, kan, Yuna?”
“Ah, tidak, kok, Lyan.”
“Serius?”
“Iya.” Yuna mengangguk pelan sambil tersenyum untuk menutupi rasa takut yang telah menggerogoti dirinya. Dia tidak ingin pemuda itu tahu karena hanya akan membuatnya khawatir serta merasa bersalah.
Lyan tidak yakin tetapi dia tidak bisa memaksa Yuna lebih dari ini hanya karena ingin mendengar apa yang ingin dirinya ketahui.
“Dalam dua tahun ini kau harus tetap selalu bersamaku, Yuna.”
Yuna sedikit bimbang, takut kebohongannya terbongkar jika selalu bersama.
“Tidak bisa, Lyan, aku…”
“Kenapa?” Lyan menyela, “Aku tidak memaksamu untuk memberitahuku berapa sisa masa hidupmu sekarang, jadi aku harap kau tidak menolak permintaanku. Jika kau tetap menolak permintaan sederhana ini, maka aku akan terus memaksamu untuk bicara.”
Melihat ekspresi Lyan begitu serius membuat Yuna menghela napas merasa tidak dapat menolak lagi.
__ADS_1
“Baiklah, aku akan tetap selalu bersamamu dalam dua tahun ke depan.” Mungkin sementara ini pilihan terbaik yang bisa diambil olehnya. Ke depannya dia akan mencari cara untuk menyelamatkan dirinya sendiri sebelum tanda-tanda gejala terjadi. Andai gejala buruk mulai menimpanya dan dirasa akan membebani Lyan, dia akan meninggalkan Lyan pada saat itu juga, begitu pikir Yuna.
Setelah selesai membicarakan masalah pribadi mereka, Yuna mulai mengalihkan topik pembicaraan. “Lyan, aku minta maaf karena semua ini disebabkan oleh diriku yang tidak jujur sejak awal, karena masalah ini kau jadi percaya ada dewa dan iblis di sekitar sini yang dapat menyelamatkan penduduk benua ini.” Yuna menundukkan kepalanya dengan raut wajah sedikit murung. “Sepertinya sudah tidak ada harapan lagi untuk menyelamatkan mereka ….”
“Apa yang kau katakan, Yuna? Justru berkat kejujuranmu ini, kita jadi mempunyai harapan untuk menyelamatkan mereka.”
Yuna mengangkat kepalanya, sedikit terkejut mendengar pernyataan Lyan. “A-Apa maksudmu?”
“Setelah mendengar semua ceritamu, aku jadi teringat akan perkataan Asmodeus dulu.” Lyan bertopang dagu. “Apa kau lupa dia pernah bilang kalau Kerajaan Iblis selalu berpindah tempat dalam tiga benua?”
Mata Yuna sedikit membesar, ingatan mengenai pertemuan mereka dengan Asmodeus mulai terngiang dalam kepalanya.
“Ah, iya, aku ingat! Asmodeus pernah mengatakannya! Jadi di benua ini pasti ada Kerajaan Iblis yang tidak terlihat oleh kita, kan?! Lalu apa yang akan kau lakukan, Lyan?!” Yuna menjadi semangat setelah melihat sorot mata Lyan yang seakan memberitahukan dirinya kalau harapan mereka belum pupus untuk menyelamatkan Penduduk Benua Cahaya.
Lyan memandang ke arah langit. Dia teringat saat itu dirinya cukup beruntung dapat memasuki Kerajaan Iblis karena Youl berhasil menghancurkan dinding pembatas dimensi yang menghubungkan dunia ini dengan Kerajaan Iblis. Berkat itu juga mereka dapat bertemu dengan salah satu Iblis Dosa, Asmodeus.
Karena sekarang sudah menjadi seorang Xora, menurutnya akan ada kemungkinan dia dapat menemukan dinding pembatas dimensi yang menghubungkan dunia dengan Kerajaan Iblis.
“Aku akan coba menggunakan cara yang terpikirkan olehku, Yuna.”
__ADS_1