
“Apa?! Jadi budak katamu? Apa kau sedang bercanda denganku?!” Emosi Lilith meluap setelah mendengar permintaan Lyan. Baginya iblis memiliki derajat yang lebih tinggi dari manusia. Menjadi budak manusia sama seperti mendapat penghinaan besar.
Lyan menghentakkan kakinya kecil, membuat dimensi Lotus World menghilang secara perlahan.
“Mulai sekarang kau harus jaga sikapmu, Lilith. Perintah pertamaku untukmu … kau harus memanggilku tuan sekarang.” Lyan memberi tatapan dingin pada iblis itu.
Lilith tidak dapat menahan amarahnya lagi, ia segera mengeluarkan aura hitam yang begitu menekan. “Tuanku hanya satu yaitu Tuan Lucifer. Manusia rendahan sepertimu beraninya….”
Tiba-tiba saja raut Lilith memucat saat kabut hitam muncul di hadapannya. Kabut itu merupakan kutukan miliknya sendiri, ia paham betul seberapa mengerikan kutukan itu. Sialnya, karena sudah terikat sumpah darah, ia tidak dapat menghilangkan kutukan yang bergerak mendekatinya sekarang.
Melihat tubuh Lilith bergetar dengan tatapan terfokus ke depan, Lyan yakin iblis itu sedang melihat kutukannya sendiri karena tidak menuruti permintaannya.
Lyan pun tersenyum mengejek. “Jadi kau tidak mau memanggilku tuan?”
Lilith gelisah dan tidak tahu harus berbuat apa. Dihatinya dia sudah bersumpah untuk selamanya melayani serta setia pada Lucifer, tetapi jika dia tetap keras kepala tidak memanggil Lyan dengan sebutan tuan, maka kutukan yang sudah ada di depan wajahnya itu akan segera merengut nyawanya.
“Tu-Tu-Tu-Tuan ….” Lilith merapatkan gigi dengan tatapan geram sebab pada akhirnya dia harus memilih untuk memanggil manusia rendahan dengan sebutan tuan. Ia meminta maaf sebesar-besarnya pada Lucifer karena telah menduakannya. Ia tidak memiliki pilihan sebab ini menyangkut nyawanya sendiri.
Lyan tertawa terbahak-bahak melihat Lilith bersusah payah memanggilnya dengan sebutan tuan. Semula ia berpikir Lilith akan tetap setia pada Lucifer dan memilih mati daripada memanggil dirinya tuan, ternyata iblis wanita itu masih waras karena memikirkan keselamatannya sendiri ketimbang kesetiaannya.
Melihat Lyan tertawa begitu lepas, Lilith merasa sedang dipermainkan. Membuatnya semakin geram dengan pemuda itu namun semua amarahnya hanya bisa disalurkan pada dua tangannya yang terkepal keras.
“Panggil aku sekali lagi, Lilith.”
“A-Apa?”
“Maksudku, coba kau panggil aku tuan sekali lagi.”
Lilith hanya bisa menundukkan kepala sambil merapatkan gigi sebelum berusaha memenuhi permintaan Lyan. “Tu-Tu-Tu-Tuan.”
Lyan tertawa sekali lagi, Lilith sudah tahu akan begini namun dia hanya bisa bersabar ditertawakan oleh manusia rendahan.
“Kau ini kenapa gagap, sih? Kau mengingatkanku pada Youl.”
Kepala Lilith terangkat memandang Lyan. “Yo-Youl?"
“Ah, dia seekor Harimau Tempur yang selalu bersamaku,” jawab Lyan. “Dia juga bisa bicara tapi gagap sama sepertimu. Aku jadi curiga kau ini iblis atau bukan. Atau jangan-jangan kau ini jelmaan dari hewan buas iblis?”
__ADS_1
Amarah Lilith membara kembali sebab baginya disamakan dengan hewan buas iblis adalah hal yang paling hina dibandingkan apapun. “Jaga bicaramu, manusia renda…”
Nyali Lilith menciut lagi saat kabut hitam kembali muncul di hadapannya.
“Apa? Kau bilang apa tadi? Aku tidak dengar.”
“Ti-Tidak, Tu-Tu-Tuan. Ma-Maaf.”
Melihat reaksi Lilith membuat Lyan semakin yakin kalau sumpah darah yang telah mereka sepakati itu benar-benar bekerja. Namun mengingat Lilith lebih memilih nyawanya sendiri ketimbang kesetiaannya pada Lucifer, Lyan merasa tidak boleh melonggarkan kewaspadaannya begitu saja.
“Lilith, dengarkan baik-baik. Sebagai budakku, kau dilarang berbohong sedikit pun padaku dan harus menceritakan dengan jujur segala informasi yang ingin kuketahui darimu. Apa kau mengerti?”
Lilith merapatkan giginya sebelum mengangguk pelan.
“Jawaban macam apa itu?! Aku ingin mendengar jawaban keluar dari mulutmu!”
“Ba-Baik, Tu-Tu-Tuan.”
“Dan, jangan pernah kau tunjukkan wajah kesal seperti itu lagi di hadapanku! Kau harus sadar dirimu adalah seorang budak sekarang!”
Lilith hanya bisa menahan amarah dalam hati sebelum memperbaiki ekspresinya sambil menundukkan kepala. “Baik, maafkan aku, Tu-Tu-Tuan.”
“Me-Mengenai kesetiaan … aku tidak bisa meninggalkan Tuan Lucifer, Tu-Tuan. Ja-Jadi....”
“Sebentar,” jeda Lyan dengan bola mata melirik ke segala arah. “Hei, apa pembicaraan kita ini diawasi Iblis Dosa?”
Lilith menggeleng kepala. “Aku sudah membuat keberadaanku tidak dapat terdeteksi oleh cermin dunia, Tu-Tuan. Aku juga sudah menciptakan ilusi yang mengganggu sehingga yang mereka dapat lihat sekarang Tu-Tuan hanya sedang berdiam diri.”
“Bagus, ke depannya kau juga harus melakukan hal seperti itu saat bersamaku.”
“Baik, Tu-Tu-Tuan.”
Merasa cukup aman, Lyan kembali melanjutkan pembicaraan. “Hei, maksudmu tadi kau ingin melayani dua tuan, kan?”
“Benar, Tu-Tu-Tuan.”
Lyan bertopang dagu sejenak. Merebut Lilith secara langsung dari Lucifer menurutnya cukup berbahaya. Lucifer bahkan secara sengaja membiarkan Astaroth menyerang dirinya, bisa saja andai Lucifer tahu pengikutnya dijadikan budak, Lucifer tidak akan tinggal diam begitu saja.
__ADS_1
“Baiklah, aku tidak akan mempermasalahkan soal itu,” ucap Lyan. “Tapi kau harus lebih mengutamakanku daripada Lucifer. Apapun informasi penting yang kau dapatkan dari Lucifer, kau harus menceritakan semuanya padaku. Saat aku memintamu datang, kau juga harus segera mendengar panggilanku. Apa kau mengerti?!”
Lilith hanya bisa menyetujuinya dengan pasrah. “Ba-Baik, Tu-Tuan.”
“Omong-omong, Lucifer memintamu berapa lama mengawasiku?”
“Dia memintaku terus bersamamu sampai masalah di Benua Terang selesai, Tu-Tuan.”
Lilith menundukkan kepala sambil menyeringai karena saat kembali pada Lucifer nanti, ia akan segera meminta bantuan Lucifer untuk menghapus sumpah darah yang telah membuatnya terikat dengan Lyan. Menjadi budak yang melayani seorang manusia, dia benar-benar tidak sudi terhina seperti ini.
‘Tunggu saja saat aku lepas dari sumpah darah ini. Akan aku balas berkali-kali lipat semua penghinaan ini, manusia rendahan!’ batin Lilith.
“Hm … kalau begitu kau akan kembali kepadanya saat masalah selesai, ya?” Lyan bertopang dagu sejenak sebelum menyeringai. “Kau pasti menantikan itu, kan, Lilith?”
Lilith tersentak. “A-Apa maksudmu, Tu-Tuan?”
“Kau tidak dapat menghilangkan kutukan yang sudah terikat oleh sumpah darah. Tapi Iblis Dosa seperti Lucifer pasti dapat melakukannya, kan?”
Raut Lilith memucat. Ia hanya bisa mematung dengan perasaan terkejut, tidak menyangka Lyan dapat menebaknya dengan tepat.
“Jawab aku, Lilith!”
Lilith merasa tidak ada pilihan selain berkata jujur, sebab dia sudah setuju untuk tidak berbohong pada Lyan. “Be-Benar, Tu-Tu-Tuan.”
Lyan kembali menyeringai. Tentu dia tidak akan membiarkan Lilith mengambil kesempatan untuk membebaskan diri dari perjanjian yang telah mereka sepakati. “Sebagai budakku, aku memintamu untuk tidak menceritakan pada iblis maupun dewa manapun mengenai sumpah darah yang telah kita sepakati. Kau juga dilarang meminta pertolongan pada siapapun yang dapat melepas sumpah darah yang telah kita lakukan. Apa kau mengerti, Lilith?!”
Lilith menundukkan kepalanya, ia merasa sulit menyetujui permintaan ini.
“Jawab aku, Lilith!”
Dengan berat hati, Lilith sekali lagi menyetujui permintaan Lyan dengan wajah lemas. “Ba-Baik, Tu-Tu-Tuan.”
“Bagus.” Lyan tersenyum tipis. “Karena kau sudah membuatku senang, aku akan memberimu hadiah berupa informasi yang ingin kau ketahui.”
Mendengar ucapan Lyan membuat ekspresi Lilith berubah cerah. “Kau serius, Tu-Tuan?”
Lyan mengangguk pelan. “Dalam waktu dekat, kau akan segera mengetahuinya, Lilith.”
__ADS_1
Lilith merasa sedikit bingung karena ekspresi Lyan tiba-tiba saja berubah setelah selesai berkata-kata. ‘Ada apa dengannya?’