Legend Of Lyan 2

Legend Of Lyan 2
Fakta Yang Terungkap


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang ke Benua Gelap, Yuna ingat dirinya masih belum menceritakan mengenai asal Malapetaka pada Lyan. Dirasa akan lebih baik sekalian membiarkan yang lain tahu, Yuna mulai bercerita dari awal mengenai pertemuannya dengan Hasrat Kehidupan pada yang lain.


Selain Lyan, semuanya terkejut mendengar cerita Yuna. Tidak ada seorang pun di antara mereka yang mengira akan ada sosok seperti Hasrat Kehidupan, yang merupakan wujud keinginan dari semua makhluk hidup alam semesta.


Yuna hanya menceritakan sampai sosok itu dapat mengabulkan keinginan dan dia meminta permohonan melenyapkan Malapetaka Lyan. Yuna tidak menceritakan mengenai masa hidup sebagai bayaran untuk permohonan itu. Ditakutkan yang lain nanti akan mencemaskan dirinya.


Yuna tahu dengan menceritakan ini sama saja akan membuat Lyan kembali merasa bersalah padanya. Tatapan pemuda itu padanya terlihat jelas menyiratkan kesedihan. Namun Yuna tidak memiliki pilihan lain untuk melakukannya agar yang lain dapat mempercayai cerita yang ingin dia sampaikan berikutnya. Mengenai asal muasal Malapetaka yang sebenarnya berasal dari dewa. Karena Yuna curiga pada satu dewa yang berada di Benua Gelap, ia ingin yang lain waspada sehingga harus menceritakan pada semuanya.


Mendengar fakta yang diungkap Yuna kembali membuat Master Gyo, Light dan Youl terkejut lagi. Sementara ekspresi Lyan tampak berubah.


“Sial, jadi selama ini Malapetaka itu adalah kutukan yang dibuat oleh dewa?!” Master Gyo sangat marah karena Malapetaka inilah mereka semua harus kehilangan rekan-rekannya. Sama seperti Yuna, dugaannya tertuju pada satu dewa yang berada di Benua Gelap. “Ini pasti ulah si Endless! Hanya dia dewa yang selama ini bersama kita! Sialan!”


Tidak hanya Master Gyo dan Yuna, Light dan Youl juga merasa demikian.


“Ki-ki-kita harus membunuhnya!” seru Youl dengan penuh amarah. Ia sangat emosi karena selain kehilangan rekan-rekannya, Malapetaka ini telah membuat tuannya menderita. Membuatnya merasa tidak dapat membiarkan ini begitu saja.


Lyan menggeleng pelan. “Tidak, aku tidak ingin ada di antara kalian yang melakukan apapun.”


“Apa maksudmu, Lyan?!” Master Gyo berteriak.


“Master, maaf telah berbicara seperti ini. Aku ingin kalian tetap seperti biasa saat kita tiba di Benua Gelap.” Lyan menundukkan kepalanya, tidak ingin yang lain melihat ekspresi wajahnya saat ini. “Tolong kalian jangan melibatkan diri dalam masalah ini. Beri aku waktu … Aku berjanji akan segera menyelesaikan urusanku dengan mereka.”


“Tapi…”


“Aku mohon, Master ….”


Master Gyo menghela napas panjang. Ia mengira muridnya memohon seperti ini karena tidak ingin mereka dalam bahaya.

__ADS_1


Master Gyo menoleh ke arah Light sejenak, Light hanya mengangguk memberi isyarat untuk mengikuti permohonan murid mereka.


Sekali lagi Master Gyo menghela napas panjang. Karena dipikir bagaimana pun di antara mereka yang bisa menghadapi dewa hanyalah Lyan seorang, dia sepertinya tidak memiliki pilihan lain juga. “Baiklah. Kami akan berusaha sebaik mungkin untuk bersikap seperti biasa. Jika kau butuh bantuan, katakan pada kami.”


“Terima kasih, Master.”


Youl menatap tuannya dengan sedih. Sebab Lyan lagi-lagi harus mengatasi masalah besar. Ini membuatnya kesal pada diri sendiri yang tidak dapat melakukan apa-apa. Ia bersumpah mulai saat ini dia akan melakukan segala cara untuk menjadi kuat agar kelak tidak hanya bisa diam saja melihat tuannya berjuang sendiri.


Sementara Yuna merasa ada yang aneh. Entah kenapa perasaannya mengatakan alasan Lyan meminta mereka untuk tidak ikut campur bukan karena mencemaskan mereka, tetapi ada maksud lain yang tidak dapat dia ungkapkan.


‘Apa yang aku pikirkan?! Lyan jelas-jelas tidak ingin kami ikut campur karena takut kami dalam bahaya!’ Yuna memukul-mukul kepalanya pelan agar pikiran negatifnya segera hilang.


*****


Beberapa bulan kemudian mereka akhirnya tiba di Benua Gelap. Terlihat rekan-rekan mereka telah menunggu di sana. Beberapa hari yang lalu Endless memberitahu mereka bahwa Lyan serta rekan-rekannya sudah berada di Benua Gelap dan akan tiba dalam waktu dekat sehingga mereka sudah bersiap menyambut Lyan dan lainnya jauh-jauh hari.


Lyan mengangguk pelan. “Bagaimana kabarmu, Om?”


Raysmith yang ada di samping Ursula memamerkan otot-ototnya. “Tentu saja sehat! Aku bahkan sudah berada di puncak Energi Langit dan telah memasuki sendi alam keempat!”


“Baguslah kalau begitu. Aku ikut senang mendengarnya,” ucap Lyan sambil tersenyum.


“Hah? Bagaimana kekuatan kalian meningkat sepesat ini?!” White yang ada di samping Snow matanya membesar dua kali dari biasanya karena saat dirinya berusaha merasakan tingkat kekuatan Light dan Yuna. Ia tidak bisa mengukur tingkat kekuatan mereka. Dia lebih kaget lagi ketika tidak bisa merasakan aura Lyan sama sekali.


“Aku akan menceritakannya nanti, White,” sahut Lyan sebelum memandang ke arah Laxus yang mengelus kepalanya.


“Kau ini sekarang semakin kuat saja, ya!” Pandangan Laxus lalu mengarah pada Yuna yang terlihat sedang menatap Lyan sambil tersenyum. Laxus menyeringai. Ia sepertinya tahu apa yang sedang terjadi pada wanita itu. “Ah, Yuna, kenapa kau menatap Lyan terus tanpa berkedip? kau sudah cinta mati, kah, sama bocah ini?”

__ADS_1


Yuna tersentak. “A-a-apa?! Ti-tidak … itu….”


Di belakang Laxus terlihat seorang wanita sedang terbang dan perlahan mendarat ke tanah. Wanita itu berlari dengan wajah gembira lalu memeluk Lyan dengan erat. Ia adalah Carera.


“Lyan! Kenapa kau lama sekali perginya? Apa kau tidak tahu seberapa rindunya aku padamu?!”


Yuna dan Laxus serentak terbakar api cemburu. Bedanya Yuna hanya memendam rasa itu sambil mengumpat kesal dalam hati.


Sementara Laxus secara langsung menunjukkan rasa tidak sukanya. Dia marah-marah pada Lyan karena merasa muridnya itu telah mengambil Carera darinya. “Dasar murid durhaka kau, Lyan! Aku kutuk kau jadi batu nanti!”


Yuna pun tidak bisa tahan lagi dan langsung memisahkan Lyan dari Carera.


“Kau kenapa, Yuna?” tanya Carera bingung.


“Tidak enak dilihat orang tahu!” Yuna beralasan demikian sambil melemparkan tatapan yang sangat tajam pada Carera. Seperti ingin membunuhnya.


“Oh, iya juga, ya. Kalau begitu nanti tempat sepi, deh.”


“Jangan!”


“Lho? Kenapa lagi, Yuna?”


“Kan kau sudah memeluknya tadi. Gantian dong!” Yuna cepat-cepat menutup mulutnya, wajahnya langsung memerah. “Ma-maksudku... bukan begitu! Ah! Tidak tahu, deh!” Yuna segera pergi meninggalkan mereka karena terlalu malu keceplosan.


Yang lain memahami alasan kenapa Yuna bisa bersikap aneh seperti barusan, namun tidak dengan Lyan.


‘Yuna sakit apa, ya? Apa dia demam?’ batin Lyan dengan wajah cemas.

__ADS_1


__ADS_2