Legend Of Lyan 2

Legend Of Lyan 2
Keputusan


__ADS_3

Mendengar perkataan Lyan, Jenderal Felline segera berbalik sambil tersenyum.


“Terima kasih karena telah mengkhawatirkanku. Sejujurnya banyak yang ingin kukatakan padamu, tapi…”


“Maka katakanlah, aku akan mendengar semua keluh kesahmu,” ucap Lyan setelah melihat keraguan dari ekspresi Jenderal Felline. Secara perlahan ia melepas genggamannya dari tangan wanita itu.


“Tidak.” Jenderal Felline menggeleng pelan. ”Meskipun aku telah mencurahkan seluruh isi hatiku padamu … tidak akan ada yang berubah, Lyan. Apapun yang kuutarakan … Perasaanku tetap tidak akan terbalaskan.”


Lyan terdiam beberapa saat. “Kalau masalah itu…”


“Aku benar, bukan?”


“Em … Jenderal, aku....” Lyan kesulitan berkata-kata.


“Aku bercanda, Lyan. Santai saja.” Jenderal Felline Kembali tersenyum. “Karena aku sendiri yang memutuskan untuk menyukaimu, aku harus menanggung resikonya jika perasaan ini tak terbalaskan. Daripada aku mencurahkan seluruh isi hatiku padamu, menurutku akan lebih baik jika aku memastikan sesuatu darimu."


"Apa yang ingin kau pastikan, Jenderal?”


“Apa kau menyukai Yuna?”


Lyan sedikit terkejut karena tidak menyangka Jenderal Felline akan bertanya mengenai hubungannya dengan Yuna.


Butuh beberapa saat untuknya agar dapat menjawab pertanyaan tersebut. “Ah, itu … Aku rasa tidak.”


Jenderal Felline tertawa pelan. “Kenapa kau terlihat ragu-ragu menjawabnya? Apa kau benar-benar tidak punya perasaan padanya?”


“Aku serius. Selama ini aku hanya menganggapnya sebagai teman baikku. Aku rasa Yuna juga akan berpikiran sama sepertiku.”


Jenderal Felline menatap Lyan dalam-dalam, membuat Lyan mengerutkan dahi. “A-Apa ada yang salah dengan ucapanku?”


“Kau serius tidak tahu kenapa Yuna bisa mengaku sebagai calon istrimu di depan umum?”


“Itu karena dia tidak ingin kesalahpahaman di antara kita terus berlan­­—”


“Padahal dia jelas-jelas telah menunjukkan perasaannya padamu. “Kau ini benar-benar…” Jenderal Felline menghela napas Panjang, ia tidak menyangka kalau tingkat ketidakpekaan pemuda di hadapannya ini sangat parah.

__ADS_1


Mendengar itu membuat alis Lyan terangkat ke atas. “Ka-Kau serius?”


“Apa aku seperti berbohong padamu sekarang?”


Jenderal Felline menunjukkan ekspresi serius, membuat Lyan sulit menilai kalau Wanita itu sedang berbohong sekarang. “Jadi Yuna sebenarnya…”


“Setelah mengetahuinya apa yang akan kau lakukan sekarang? Menemuinya lalu minta maaf seperti yang kau lakukan padaku?” Sudut bibir Jenderal Felline terangkat ke atas. “Jangan lakukan itu. Sama seperti yang aku alami … Itu adalah keputusannya sendiri untuk menyukaimu. Kau tidak perlu merasa bersalah atau berusaha membalas perasaannya karena aku yakin dia tahu resiko macam apa yang akan dia terima saat dirinya telah memutuskan untuk menyukai orang yang tidak peka sepertimu.”


Jenderal Felline tersenyum lebar. “Dan karena kau belum memutuskan untuk mencintai siapapun … Berarti aku masih ada kesempatan, bukan?”


“Ke-Kesempatan?”


Jenderal Felline tiba-tiba memeluk Lyan dengan erat. “Jangan pura-pura bodoh karena aku yakin kau tahu apa maksudku.”


Lyan meneguk ludahnya, sedikit terkejut dengan keadaan ini. “Jenderal…”


“Apa kau tidak bisa berhenti memanggilku jenderal? Cukup panggil aku Felline. Kau bisa melakukannya, kan?”


“Ba-Baiklah, Felline.” Lyan merasa dirinya tidak bisa menolak.


****


Setelah menunggu lebih dari tiga puluh menit di depan kamar, Yuna akhirnya melihat Lyan muncul di ujung Lorong. Ia pun berlari pelan mendekati pemuda itu.


“Bagaimana, Lyan?” tanya Yuna yang berjalan di samping pemuda itu. “Kau berhasil menghiburnya?”


Lyan menghentikan langkahnya, menatap Yuna beberapa saat. “Yuna, apa kau menyukaiku?”


Seketika alis Yuna langsung terangkat ke atas, ia tidak menyangka Lyan tiba-tiba saja bertanya mengenai itu.


Tidak lama kemudian Yuna menghela napas Panjang. “Pasti Jenderal Felline yang memberitahumu,” ucap Yuna, sebab ia yakin Lyan tidak mungkin dapat menyadarinya sendiri.


Lyan mengangguk pelan. “Ya, apa yang dikatakan Felline benar?”


“Wah, kau mulai memanggilnya Felline sekarang? Tidak hanya berhasil … Sepertinya hubungan kalian jadi semakin dekat sekarang.” Yuna tersenyum lebar sebelum melanjutkan perkataan. “Sebenarnya aku tidak ingin mengutarakannya secepat ini, tapi karena kau telah mengetahuinya … Aku mau tidak mau harus mengakuinya sekarang.”

__ADS_1


Mata Lyan sedikit membesar saat mendengar pengakuan Yuna. Sebab semula ia masih yakin kalau Yuna selama ini hanya menganggapnya sebagai rekan dan tidak lebih dari itu, sama seperti dirinya.


“Buat apa kau terkejut, bodoh?!” Yuna mendorong kening Lyan dengan telunjuknya karena kesal melihat ekspresi yang ditunjukkan pemuda itu. “Omong-omong apalagi yang dikatakan oleh wanita itu padamu? Aku yakin ada sesuatu yang terjadi pada kalian.”


Yuna menatap Lyan dalam-dalam. Instingnya mengatakan ada hal menarik yang terjadi antara Lyan dan Jenderal Felline. Kalau tidak, mustahil Lyan akan memanggil nama wanita itu sekarang.


“Ah, kalau itu …” Lyan menggaruk kepalanya. “Ka-Kami hanya berbincang-bincang biasa.”


Lyan tidak ingin kembali mempermalukan Jenderal Felline, maka dari itu ia memutuskan untuk tidak menceritakannya pada Yuna.


Sudut bibir Yuna terangkat ke atas. “Lyan, aku sudah lama mengikutimu. Apa kau piker aku tidak tahu kalua kau sedang bohong sekarang?”


“Ti-Tidak, aku seri–”


“Aku tidak ingin mendengar omong kosongmu lagi.” Yuna membungkam mulut Lyan dengan tangannya. “Biar aku tebak sendiri. Setelah kau menemui Jenderal Felline, wajahmu yang panik karena merasa bersalah itu telah hilang, menandakan kau berhasil menghiburnya. Hm, melihat kau hanya memanggilnya dengan sebutan nama sekarang, pasti ada hal menarik yang terjadi.”


Yuna bertopang dagu dengan tangannya yang bebas, berpikir sejenak. “Melihatmu berusaha menutupinya dariku, aku rasa hal ini berhubungan dengan perasaan Jenderal Felline.”


Yuna menjentikkan jarinya. “Atau jangan-jangan dia bilang akan tetap mencintaimu atau semacamnya?”


Melihat mata Lyan membesar, Yuna tertawa pelan. “Sepertinya dugaanku benar.” Ia pun menurunkan tangannya dari mulut Lyan. “Kalau begitu, sih, pastinya dia akan jadi agresif sekarang. Kau pasti menyukainya. Dasar sialan, kau pastinya juga telah cerita padanya kalau aku bukan calon istrimu dan mengatakan kalau kau tidak memiliki perasaan padaku, makanya dia bilang padamu kalau aku menyukaimu!”


Lyan merasa tidak bisa berbohong lagi sebab wanita ini dapat menebak semuanya dengan tepat. “Maafkan aku, Yuna. Aku…”


Yuna Kembali mendorong kening Lyan dengan telunjuknya. “Tidak perlu minta maaf, bodoh! Kenyataannya, kan, aku memang menyukaimu. Masalah kau suka atau tidak suka padaku itu urusan belakangan,’ ucap Yuna. Ia lalu berjalan sambil menarik lengan Lyan.


“Kau mau bawa aku kemana, Yuna?”


“Ya tidurlah! Biar hari cepat berganti dan kita dapat segera menyelesaikan masalah di benua ini. Setelah itu kita harus segera pergi dari sini agar kalian tidak dapat bertemu lagi,” ucap Yuna sambil menyeringai.


“Tapi kamarku, kan….” Lyan menoleh ke arah kamarnya yang baru saja lewat.


“Ya, sudah, kau tidur denganku saja malam ini.”


“A-Apa?”

__ADS_1


Yuna berdehem. “Iya, tapi aku tidur di kasur, kau tidur di lantai saja, ya.”


__ADS_2