
Mendengar perkataan terakhir Venom barusan membuat Yuna terpukul. Meskipun lebih banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan untuk menyerap roh pemimpun suku, kebaikan suku purba membuat dirinya merasa nyaman.
Youl juga merasakan hal yang sama. Selama beberapa bulan terakhir dia telah menghabiskan waktunya berlatih bersama anggota suku. Tidak hanya berlatih tetapi kadang mereka juga berbagi canda tawa bersama. Berita ini membuat hatinya terluka.
“Ah, kenapa kau mengatakannya Venom sialan ….”
Sementara Hex hanya bisa menggaruk kepalanya setelah kepergian Venom. Dia bingung ingin berkata apa ketika pandangan Lyan, Master Gyo dan Light tertuju padanya.
“Jadi karena itu kau bilang tidak akan mengunjungi Benua Gelap?” Master Gyo menatapnya dingin.
“Jangan panggil aku guru ketiga lagi. Aku tidak menyukai pembual.” Light berbicara dengan tegas.
“Guru Kedua, Guru Ketiga, jangan salah paham! Tolong dengarkan penjelasanku terlebih dahulu.” Hex berlutut sambil memohon.
“Penjelasan apa? Kau memang akan mati kalau Astaroth terbunuh, kan?!” seru Master Gyo merasa marah tidak diberitahu masalah ini terlebih dahulu. Yang membuat Master Gyo lebih marah adalah kebenaran ini didengarnya dari orang lain, bukan Hex sendiri.
Meskipun pria yang sedang berlutut itu aneh dan terlalu banyak bicara, tetapi dia adalah pria pemecah suasana yang membuat mereka menikmati perjalanan dalam dua bulan ini. Berkatnya Hex yang suka bertingkah konyol dan menebar lelucon, rasa tegang mereka karena akan bertemu Astaroth berkurang.
“Kalau aku ceritakan, takutnya kalian terus kepikiran. Aku ingin kalian membunuh Astaroth tanpa memikirkan masalah kecil ini karena—”
“Apa?! Masalah kecil katamu?!” Emosi Master Gyo memuncak. Dia semakin geram Hex menganggap kematiannya sendiri adalah masalah sepele.
“Ah, Guru Kedua … sebenarnya jika Astaroth tidak dibunuh, dalam seratus tahun ke depan juga kami akan mati sebagai tumbal. Kami sebagai suku purba merasa lebih baik mati karena Astaroth terbunuh daripada menjadi tumbal menyedihkan. Tidak ada yang ingin hidup ya berakhir sebagai tumbal. Aku harap kau dapat mengerti, Guru Kedua.”
“Kau!”
“Sudahlah, Master.” Lyan mendekati Master Gyo dan memegang pundaknya. “Ini merupakan pilihannya. Kita harus menghormati keputusannya.”
“Tapi, Lyan ….”
“Kita tidak boleh ragu, Master. Kita sudah memutuskan untuk membunuh Astaroth.” Lyan menatap Master Gyo dengan serius. “Maaf kalau aku berbicara seperti ini. Apapun yang terjadi kita akan tetap membunuh Astaroth. Aku tidak akan mengizinkanmu untuk berubah pikiran, Master.”
Master Gyo merapatkan giginya sebelum memalingkan wajahnya dari Lyan.
Light hanya berekspresi datar melihat mereka berdua.
__ADS_1
Sementara Hex hanya menundukkan kepalanya sambil memejamkan mata.
“Maaf, Master. Aku tidak bermaksud menyakiti perasaanmu.” Selesai berkata demikian Lyan pergi meninggalkan mereka.
Setelah keluar dari tenda, Lyan terbang menuju ke suatu tempat yang sepi. Setelah memeriksa dan memastikan tidak ada seorang pun di sana, dia segera duduk bersila dan menutup matanya.
Dia mengatur napasnya selama beberapa saat untuk menbuang segala beban pikiran yang berada dalam kepalanya.
Setelah tenang, Lyan membuka matanya perlahan. Sambil menatap langit dia berkata, “Azrec, aku tahu kau diam-diam selama ini memperhatikanku. Tunjukkan dirimu, Azrec, atau aku akan melenyapkanmu sekarang.”
Serpihan jiwa Azrec yang bersembunyi dalam tubuh Lyan terkejut bukan main. Dia percaya serpihan jiwanya yang amat kecil dan sulit untuk terdeteksi ini bahkan dapat mengelabuhi seorang dewa seperti Endless. Melihat Lyan dapat menyadari keberadaannya membuat Azrec yang selalu mengintai yakin setidaknya Lyan sudah menjadi seorang Xora tingkat tinggi.
“Aku katakan sekali lagi. Jika kau tidak keluar dan masih berpura-pura, aku benar-benar akan melenyapkanmu.”
Azrec tidak memiliki pilihan. Serpihan jiwa sekecil dirinya tidak mungkin dapat mengalahkan Lyan sekarang.
Dia pun keluar dari tubuh Lyan dengan bentuk bola hitam, melayang di hadapan Lyan.
“A-aku tidak bermaksud buruk,” suara Azrec terdengar tegang.
Perkataan Lyan membuat Azrec semakin tegang. Dia hanya bisa diam mendengarkan karena menyadari melarikan diri sekalipun akan percuma di hadapan pemuda itu.
“Tapi … aku berubah pikiran. Aku akan melepasmu selama kau menjawab pertanyaanku.”
“A-apa itu?” tanya Azrec.
“Kau adalah iblis level tinggi, bukan?”
“Be-benar.”
“Apa posisimu lebih tinggi dari Astaroth atau di bawahnya?”
“Aku adalah iblis kuno yang tidak terikat dengan menara iblis mana pun. Tapi jika ingin membandingkanku dengan Astaroth yang pernah memimpin lantai 20 kerajaan Lucifer, aku jelas jauh berada di atasnya.” Ketegangan Azrec mereda karena pertanyaan Lyan membuatnya bisa menyombongkan diri.
“Jadi, kau lebih kuat, bukan?”
__ADS_1
“Benar,” jawab Azrec dengan tegas.
Lyan tersenyum.
“Kalau begitu kau seharusnya mengetahui cara untuk melepas kutukan Astaroth agar penduduk benua ini tidak mati saat dia terbunuh. Beritahu aku caranya.”
“I-itu di luar kemampuanku. Hanya 7 Iblis Dosa yang dapat melakukan hal seperti itu.”
Raut Lyan berubah mendengar jawaban Azrec.
“Kalau begitu, lenyaplah!”
“A-apa? Tu-tung—”
BLAAAR!
Azrec yang berbentuk bola hitam langsung meledak ketika Lyan mempertajam tatapannya.
*****
Azrec yang ada di Alam Kekosongan tersentak sesaat.
“Ada apa?” tanya Kaisar X melihat Azrec bertingkah tidak seperti biasa.
“Pemuda bernama Lyan itu … dia sudah menjadi Xora level tinggi dalam waktu sesingkat ini.” Azrec menggertak giginya merasa marah karena Lyan telah melenyapkan serpihan jiwanya.
Alis Kaisar X terangkat ke atas, dia merasa sangat terkejut. “Tidak mungkin …. Bukankah terakhir kali katamu dia seorang Pertapa Bumi?”
“Aku tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi. Serpihan jiwaku berusaha memasuki ruang jiwanya namun ada sesuatu yang menghalangi. Dia tiba-tiba saja jadi kuat setelah keluar dari ruang jiwa.” Perasaan Azrec semakin kacau saat mengingat serpihan jiwanya tidak dapat menggali informasi apa pun yang terjadi dalam ruang jiwa Lyan
Ini membuat Azrec resah. Namun dia sadar sekarang harus fokus terlebih dahulu pada tujuannya. Azrec berusaha menenangkan dirinya.
Setelah merasa dirinya mulai tenang, Azrec kemudian berkata, “Untuk mencapai lokasi tiga pertapa dari tempat kita berada sekarang setidaknya akan menghabiskan waktu selama 8 bulan dunia manusia. Karena Lyan bisa menjadi Xora level tinggi dalam kurun waktu singkat, aku memintamu mengurangi waktu istirahatmu agar kita sampai lebih cepat. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi dalam beberapa bulan. Kita hanya bisa berharap dia tidak bertambah kuat lagi sebelum kita berhasil membangunkan salah satu pertapa.” Azrec terbang semakin cepat di tempat yang terlihat hanya kegelapan yang menemani.
Sementara Kaisar X mengikuti dari belakang. Berita mengenai Lyan membuat perasaannya tidak tenang. ‘Siapa anak itu sebenarnya?!’
__ADS_1