
“Bagaimana mengatakannya, ya? Aku juga tidak mengerti dirinya. Yang jelas di antara semua pemimpin suku terkuat, dia adalah yang paling berbahaya.”
Hex kembali melanjutkan perkataan, “Ada satu momen dimana aku benar-benar kesal sampai menyerangnya dengan jurusku, tapi seranganku secara misterius hilang sebelum mengenainya.”
“Hm …. Bisa menetralisir jurus seorang Pertapa Semesta sepertimu, dia bukan lawan yang mudah dihadapi.” Master berpendapat sambil menopang dagunya.
“Ah, tapi jika dia bertarung dengan Lyan, aku percaya Lyan yang akan jadi pemenangnya.” Hex melirik Lyan yang terbang di depan.
“Kau menganggapku terlalu tinggi.” Lyan angkat bicara.
“Aku serius. Meskipun belum pernah bertarung dengan Venom, ada sesuatu yang bisa membuatku membandingkan perbedaan antara kalian berdua. Saat Venom menetralisir kemampuanku, aku merasakan adanya tekanan mengerikan yang membuatnya terlihat seperti sebuah tembok besar yang kokoh,” ucap Hex.
“Akan tetapi ketika pertama kali kau menahan pukulanku dengan mudah, aku melihat dirimu seperti sebesar gunung. Semakin lama pertarungan kita berjalan, aku merasa diriku seperti debu kecil sementara kau terus bertumbuh besar dan bertambah besar lagi," lanjutnya.
Diam-diam Hex mengingat kembali serangkaian adegan pertarungannya dengan Lyan dalam kepalanya. Pikirannya yang sudah jernih membuatnya menyadari sebenarnya pemuda itu bahkan jauh dari kata serius ketika menghadapinya. Andai saja tidak dibutakan amarah karena mengira Pecahan Kemalasan telah mati, Hex lebih memilih untuk menghindari pertarungan daripada melakukan pertarungan yang mustahil untuk dimenangkan.
“Memang sehebat itulah muridku.” Master Gyo membusungkan dadanya. Dia ingin Hex tahu kalau guru pemuda itu adalah dirinya. “Tidak sia-sia aku melatihnya selama ini.”
“Jangan bercanda! Bagaimana bisa seorang murid lebih hebat dari gurunya? Bahkan kekuatan kalian bagai langit dan bumi.” Hex meragukan Master Gyo.
“Tanya saja orangnya langsung!”
Hex terkejut melihat Lyan mengangguk.
“Aku juga gurunya.” Light tiba-tiba angkat bicara.
“Tidak mungkin! Kau jangan bohong!”
“Itu benar, dia adalah guruku.”
JDAAAR!
Mendengar pengakuan Lyan membuat Hex seperti tersambar petir.
‘Dia memiliki dua orang guru yang lebih lemah darinya? Bagaimana mungkin hal seperti itu dapat terjadi?!’
“Sebelum kau melihat Lyan yang sekarang, dulu dia sangat-sangat lemah. Bahkan seorang anak kecil dapat mengalahkannya.” Master Gyo mengenang kembali kondisi Lyan yang dulu begitu memprihatinkan.
“Kalian melatihnya hingga sekuat sekarang?” Hex semakin terkejut mengetahui fakta tersebut, membuatnya semakin penasaran. “Berapa lama waktu yang telah kalian habiskan?”
__ADS_1
“Kurang lebih lima tahun,” jawab Master Gyo.
JDAAAR!
Mulut Hex terbuka lebar. ‘Hanya dalam waktu lima tahun dia yang bukan apa-apa bisa jadi sekuat ini?’ Bahkan aku butuh ratusan tahun untuk menjadi Pertapa Semesta.’
Hex memandang kedua tangannya cukup lama sebelum menoleh kiri kanan melihat Master Gyo dan Light yang tampak berkilau di matanya. Ekspresinya seakan menunjukkan dirinya telah mendapat pencerahan.
‘Jangan-jangan … Mereka berdua adalah ….’
“Ada apa denganmu?” Master Gyo mengerutkan dahi mendapati Hex sedang menatapnya dengan penuh kekaguman.
“Maukah kau mengangkatku sebagai murid?” Hex berhenti di udara sambil memberi hormat. Master Gyo, Lyan dan Light ikut berhenti.
“Kau sudah gila, ya?! Aneh sekali rasanya orang yang lebih kuat ingin berguru pada yang lebih lemah.”
Hex menggeleng, “Tidak, dari segi kekuatan kalian mungkin tidak terlalu menonjol. Tapi aku percaya kau dan Guru Light memiliki kemampuan tersembunyi yang dapat membuat seseorang yang berguru pada kalian menjadi orang besar di masa depan. Mungkin ini adalah takdir yang diberikan langit pada kalian.”
Light terheran-heran mengapa tiba-tiba ada panggilan guru dalam namanya.
“Mana ada yang seperti itu, bodoh!” Master Gyo menolak, namun Hex tetap bersikeras ingin dijadikan murid oleh Master Gyo dan Light.
“Aku hanya guru kedua Lyan. Kalau kau ingin jadi murid kami, pertama-tama kau harus meminta izin pada guru pertama Lyan,” ucap Master Gyo yang telah menemukan ide.
“Gu-guru pertama?”
“Ya, namanya Laxus. Jika kau ingin direstui jadi murid kami, maka kau harus memohon padanya nanti di Benua Gelap.” Master Gyo tertawa dalam hati tidak bisa membayangkan bagaimana repotnya Laxus nanti ketika bertemu dengan Hex.
“Ah, aku baru ingat tujuan utama kita sekarang adalah mengalahkan Astaroth.” Hex yang semula bersemangat terlihat mulai tidak bergairah.
“Apa hubungannya? Setelah mengalahkan Astaroth, kita bisa bersama ke Benua Gelap.” Master Gyo mengerutkan dahi merasa itu tidak ada hubungannya.
“Kalau Astaroth berhasil dikalahkan, aku sepertinya akan menetap dan tidak akan pergi dari sini.”
“Kenapa?” tanya Master Gyo.
Hex menggaruk kepala. Beberapa detik yang heninf berlalu sebelum dia akhirnya tersenyum, “Tidak apa-apa. Aku hanya sudah nyaman di sini.”
“Karena aku tidak mungkin dapat bertemu dengan guru pertama dan jika kita berhasil mengalahkan Astaroth, tolong sampaikan salamku padanya, Guru.”
__ADS_1
“Aku bukan gurumu!”
“Aku akan terus memanggil kalian guru meskipun kalian terus menolakku. Akan kubuat kalian menerimaku sebagai murid sebelum bertarung dengan Astaroth!”
Master Gyo menghela napas, Light hanya bisa menggeleng kepala.
“Terserah kau saja,” ucap keduanya serempak.
Dengan berat hati Master Gyo dan Light harus membiarkan Hex memanggil mereka guru kedua dan guru ketiga. Sementara Lyannya mengangkat bahu dan membiarkan pria itu terus memanggilnya kakak pertama sepanjang perjalanan.
Waktu berjalan cepat dan tidak terasa dua bulan telah berlalu. Lyan dan rekan-rekannya telah tiba di tempat persembunyian suku purba tetapi setelah menelusuri ruang bawah tanah mereka tidak menemukan siapapun.
“Suku purba memang selalu berpindah-pindah tempat agar lokasi mereka tidak mudah dilacak oleh musuh, Kakak Pertama.”
Lyan menutup matanya dan berusaha merasakan aura milik rekannya. Selama masih dalam radius beberapa kilometer dari tempatnya sekarang, Lyan tidak perlu menggunakan Mata Semesta untuk melacak keberadaan mereka.
Tidak butuh waktu lama Lyan akhirnya bisa merasakan aura mereka dan kembali melanjutkan perjalanan bersama yang lain.
Mereka terbang ke arah timur dan menemukan sebuah bukit. Semakin mendekati bukit mereka bisa melihat puluhan ribu orang berjejer rapi.
Semakin dekat, Lyan bisa melihat sosok Youl berada di baris paling depan di antara pasukan.
“Tu-Tu-Tuan!”
Harimau tempur itu terbang mendekat dan langsung memeluk Lyan dengan erat. Melihat tuannya telah kembali membuat kerinduan Youl selama ini akhirnya tercurahkan.
“Youl … kau terlihat sehat.” Lyan mengusap bulu lembut harimau itu sambil tersenyum. Dia juga merindukan harimau kesayangannya.
Sementara Hex bersembunyi di belakang badan besar Light, tidak ingin dirinya terlihat oleh pasukan suku purba yang pernah dipimpinnya dulu.
Selesai berpelukan, Lyan menjelajahkan pandangannya ke sekitar dan tidak menemukan satu rekannya lagi di sana. “Dimana Yu—”
Lyan menghentikan ucapannya ketika merasakan aura kuat terpancar di tengah pasukan. Setiap orang tampak bergeser memberi jalan pada seseorang yang berjalan keluar.
Lyan tersenyum saat orang yang memancarkan aura itu mulai berdiri di baris depan pasukan. Seorang wanita cantik yang tidak lain merupakan rekannya.
“Yuna ….”
Yuna tersenyum manis melihat pemuda itu.
__ADS_1
“Lyan ….”