
Malam yang dingin dan sunyi. Sesekali terdengar suara hembusan angin melewati pria kekar yang masih menyandarkan punggungnya di pohon sambil menyilangkan tangan. Pria itu, Light, sedari tadi hanya memusatkan pandangannya pada matahari hitam yang berada di langit malam tanpa berkata-kata. Pandangannya baru teralihkan ketika dirinya menyadari Lyan telah kembali dari ruang jiwa.
“Apa ada masalah?”
Waktu dalam ruang jiwa memang berjalan lebih lambat dari dunia nyata. Namun kembalinya Lyan terlalu cepat, bahkan belum lima menit setelah Light menyandarkan punggungnya di pohon. Light merasa pelatihan muridnya tidak berjalan dengan baik.
Lyan yang masih duduk bersila memperhatikan telapak tangan kanannya. “Guru, apa kau pernah dengar tentang aura yang memburuk?”
Light diam sesaat.
“Apa Itu terjadi padamu?”
Lyan mengangguk pelan.
“Aura yang kumiliki mencemari danau ruang jiwa bahkan membuat ikan ruang jiwa mengalami mutasi. Kata Master Gyo, aku hanya kelelahan sehingga auraku jadi seburuk ini. Ah, sepertinya aku harus istirahat yang cukup agar tenagaku pulih dan dapat kembali berlatih. Selamat malam, Guru!”
“….”
Light tidak menahan Lyan yang memutuskan untuk segera tidur. Dia bisa memahami muridnya sedang termotivasi untuk meningkatkan kekuatan dan ingin secepat mungkin hari berganti esok agar dapat kembali berlatih.
Light kembali memalingkan pandangan ke arah matahari hitam. Meskipun percakapannya dengan Lyan berjalan singkat, perkataan Lyan barusan membuatnya sedikit terganggu.
‘Aura memburuk karena kelelahan? Apa itu mungkin?’
*****
Ketika Lyan membuka matanya, pemandangan pertama yang dia lihat adalah punggung Light yang sedang duduk di depan api unggun. Setelah merenggangkan tubuhnya, Lyan bangkit dari tidur dan bertanya, “Guru, apa kau tidak tidur?”
“Aku sudah tidur dengan cukup.”
Lyan sedikit mengernyitkan dahi. Sejujurnya dia tidak pernah sekalipun melihat gurunya tidur selama mereka bersama-sama. Gurunya selalu yang terlihat terakhir kali memutuskan tidur dari yang lain. Dan, gurunya juga selalu yang menjadi pertama kali terlihat saat terbangun.
Apa sebenarnya Light itu tidak pernah tidur? Tidak mungkin. Gurunya bukanlah seorang pertapa. Lyan tahu persis manusia biasa tetap membutuhkan tidur untuk mengistirahatkan tubuhnya. Mungkin pria kekar itu memang sudah terbiasa bangun lebih cepat dari yang lainnya meskipun tidurnya selarut apapun.
Setelah membuang pikirannya jauh-jauh, Lyan mulai memandang langit gelap. “Guru, apa kita lanjutkan perjalanan sekarang?”
__ADS_1
Benua Cahaya bisa dibilang benua malam abadi. Matahari hitam yang berada di langit itu tidak pernah bergeser dari singgasananya sehingga pagi pun tidak sanggup menyinggahi benua itu. Lyan dan Light juga tidak bisa memastikan apakah hari sudah pagi atau belum. Asalkan mereka sudah terbangun dari tidur dengan tubuh segar, mereka menganggap hari telah berganti.
Mendengar perkataan Lyan, Light segera bangkit dari duduknya. “Jika kau sudah merasa cukup istirahat, maka kita lanjutkan sekarang.”
Lyan dan Light kembali melanjutkan perjalanan dengan mengambil rute yang dianggap aman oleh mereka. Dengan bantuan mata gagak, pandangan Lyan meluas hingga dapat melihat apapun yang berjarak belasan kilometer darinya. Jadi, jika menemukan pemukiman atau perkumpulan suku, mereka akan segera memilih rute lain. Sebisa mungkin mereka ingin mencapai lokasi kepingan jiwa Master Gyo tanpa harus berurusan dengan suku-suku benua ini.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, Lyan dan Light secara tidak sengaja menemukan sebuah goa. Lyan memeriksa kondisi dalam goa dengan mata gagaknya. Meskipun goa itu gelap, pemuda itu tetap dapat melihat jelas keseluruhan dalam goa.
“Tidak ada siapa-siapa. Kita istirahat di sini saja, Guru.”
Sebelum masuk ke dalam goa, mereka berdua mencari ranting di sekitar yang dapat ditemukan untuk membuat api unggun dan bermalam di sana.
Ketika api unggun telah di buat dan kegelapan dalam goa mulai menghilang, Lyan segera duduk bersila di depan api unggun.
“Guru, aku akan pergi ke ruang jiwa sekarang.”
Light mengangguk.
“Aku akan menunggumu.”
Lyan kemudian memejamkan matanya dan tidak lama setelah itu dirinya telah berada di ruang jiwa.
“Master, mari kita lanjutkan latihan.”
Master Gyo tersenyum. “Tentu. Dan latihan yang kuberikan hari ini berbeda dari sebelumnya.”
“Apa? Jadi bukan seperti latihan semalam?”
“Ya, karena latihan ini akan lebih efektif untuk perkembanganmu dari latihan sebelumnya. Tapi jika kau masih ingin melanjutkan latihan memancing aku tidak masala—”
“Tidak, Master! Mari kita lakukan latihan ini.” Lyan segera menyela setelag mendengar latihan hari ini akan mempercepat perkembangannya.
Master Gyo tersenyum. “Baiklah. Aku sudah menyiapkan latihannya untukmu.”
Master Gyo berbalik, memandang ke arah danau kolam jiwa.
__ADS_1
“Berdirilah di depan sana.”
Lyan segera mengikuti instruksi.
“Letakkan telapak tangannya pada permukaan danau.”
Lyan mengangguk dan kembali melakukan apa yang diperintahkan Master Gyo.
Setelah tangan Lyan mulai menyentuh permukaan danau. Mendadak asap panas keluar dari sana. Kadar panas pada danau itu semakin lama semakin meningkat dan memunculkan gelembung-gelembung kecil yang meletup-letup.
Melihat air danau tetap terkontaminasi oleh auranya, membuat Lyan mulai memalingkan wajahnya ke arah Master Gyo. “Bukankah kau bilamg aku hanya perlu istirahat yang cukup agar auraku tidak memburuk, Master? Tapi ini ….”
“Sudah saatnya.”
“Apa?” Lyan mengerutkan kening. Bukannya memberi jawaban, Master Gyo malah mengucapkan sesuatu yang tidak dimengerti.
“Maksudku, sudah saatnya latihan di mulai.”
CPLAAASH!
Ikan yang bermutasi tiba-tiba melompat keluar dari danau. Lyan terkejut bukan main melihat ikan itu ukurannya sekarang menjadi lebih besar dari sebelumnya. Ikan itu bergerak sangat cepat melesat ke arah Lyan dengan mulut terbuka lebar. Lyan berhasil menghindari serangan dadakan dengan bergerak ke samping sehingga ikan itu hanya berhasil menggigit udara kosong dengan gigi runcingnya yang berantakan.
“Apa maksudmu aku harus berhadapan dengannya, Master?” Lyan memperhatikan ikan yang barusan gagal menyerangnya itu mulai memandang ke arahnya. Selain ukurannya yang semakin besar, Lyan tidak menyangka ikan itu ternyata dapat bergerak bebas di udara.
“Benar, dan keluarkan seluruh kemampuanmu.”
Lyan menoleh ke arah Master Gyo dengan padangan heran. “Apa kau seriu—”
BLAAAR!
Belum sempat Lyan menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba ikan itu menyerangnya dengan menembakkan bola air.
Lyan tidak terluka oleh serangan itu, tapi dia masih merasa bingung kenapa Master Gyo memintanya untuk mengerahkan seluruh kekuatan. ‘Apa ikan ini benar-benar kuat?’
Meskipun serangan ikan itu biasa saja, Lyan tidak ingin terlalu meremehkan. Mungkin saja terdapat sesuatu yang belum dia ketahui sehingga Master Gyo memintanya untuk mengerahkan seluruh kekuatan.
__ADS_1
Lyan akhirnya memutuskan untuk menggunakan transformasi stage satu, Yesterday. Setelah transformasinya, tubuh pemuda itu tiba-tiba berubah menjadi bayang-bayang.
“DEADLY STRIKE!”