Legend Of Lyan 2

Legend Of Lyan 2
Serangan Monster Laut


__ADS_3

Setelah mereka menghilang dari Bukit Angin, tidak lama kemudian Yuna, Carera, White dan Snow merasa tubuh mereka seperti berputar-putar. Beberapa saat berikutnya mereka merasa pusing, ada perasaan ingin muntah tetapi mereka berusaha menahannya mati-matian.


Carera tidak dapat menahannya lagi, ia melepas dekapannya dari Lyan dan Yuna lalu berbalik memuntahkan cairan kuning. Matanya yang terbuka saat itu langsung berkunang-kunang menemukan dirinya seperti diputar-putar dalam kegelapan. Membuatnya semakin pusing dan jatuh berlutut sebab hilang keseimbangan.


“HOEEEK!” Carera kembali memuntahkan banyak cairan kuning.


Mendengar muntahan demi muntahan Carera membuat Yuna, White dan Snow yang berusaha menahan mati-matian ingin segera muntah saat itu juga. Mereka menutup mulut mereka erat dengan tangan agar hal itu tidak terjadi.


“Sudah kukatakan tutup matamu!” Lilith yang tidak terpengaruh oleh keadaan itu menatap punggung Carera dengan dingin. “Kita akan segera sampai. Bertahanlah sebentar lagi.”


Carera langsung menutup matanya sambil menutup mulutnya rapat-rapat dengan menggunakan tangannya agar tidak muntah lagi. Ia berharap secepatnya sampai di Benua Terang agar rasa pusing yang semakin parah itu dapat mereda.


Tiga puluh detik berikutnya mereka muncul kembali di daratan. Tepatnya, Lilith menteleportasi mereka di padang rumput yang berada di Benua Terang.


“Sudah sampai. Kalian bisa buka mata sekarang,” ucap Lilith.


Yuna, Snow dan White langsung menjauh mencari tempat untuk memuntahkan cairan kuning yang telah ditahan mati-matian sejak tadi. Carera yang tidak sanggup berdiri karena terlalu pusing memilih muntah di sana.


“Kenapa mereka semua menerima gejala seperti itu, Lilith? Bukankah katamu jika kita semua saling berdekapan, kita tidak akan mengalami pusing dan mual?” tanya Lyan yang mulai melepas dekapannya dari pinggang Lilith.


“Ah … itu ….” Lilith menggaruk pipinya. Bingung ingin menjawab apa.


“Oh, mungkin karena yang mereka peluk bukan dirimu?” Lyan berpikir alasan dirinya tidak mengalami gejala seperti rekan-rekannya sebab hanya dirinya sendiri yang mendekap Lilith dengan erat. Sedangkan rekan-rekannya tidak bersentuhan dengan iblis itu … mungkin itu yang menjadi faktor mereka tetap mengalami gejala pusing dan mual. Begitu pikirnya.


“A-Ah...” Lilith tidak berani menjawab sebab ia ingat harus memberi jawaban jujur ketika Lyan bertanya padanya.


“Teman-teman, sepertinya kalian harus istirahat sebentar di sini untuk meredakan rasa pusing dan mual kalian,” ucap Lyan secara tiba-tiba, pandangannya tertuju pada satu monster raksasa yang terlihat jauh di ujung sana. Jarak mereka dari monster itu berkisar ratusan meter. Dapat melihatnya dari jarak sejauh itu menandakan monster itu benar-benar sangat besar. “Aku akan pergi dulu mengurus monster itu.”

__ADS_1


“Lilith, tetap bersama yang lain sampai kondisi mereka membaik.” Lyan segera terbang dengan kecepatan tinggi meninggalkan Lilith dan lainnya.


*****


Satu jam sebelumnya.


Jenderal Felline beserta pasukannya tampak sedang bertarung secara sengit menghadapi ribuan monster yang terus bermunculan dari lautan. Semula mereka dapat mengatasinya namun karena jumlah monster laut yang terus bertambah membuat posisi mereka mulai terpojok. Satu persatu prajurit berguguran terbunuh oleh monster-monster ganas itu.


“Je-Jenderal! Kita harus lepas wilayah ini dan segera mundur!” teriak Komandan rambut merah dengan sangat panik. Tubuhnya bergetar menahan serangan monster di hadapannya. “Selain jumlah mereka terus bertambah, mereka yang muncul semakin kuat! Kita tidak mungkin dapat mengatasinya!”


Jenderal Felline menembakkan bola cahaya, menghancurkan monster yang menyerang Komandan rambut merah. “Tidak! Kita sudah ditugaskan untuk membereskan monster wilayah ini! Kita harus mempertahankan wilayah yang telah dipercayakan pada kita!”


Monster lautan itu jumlahnya memang terus bertambah, tetapi dibanding beberapa waktu sebelumnya jumlah mereka yang bermunculan sudah tidak terlalu banyak. Jenderal Felline yakin asalkan mereka dapat bertahan sebentar lagi, mereka akan dapat membereskan semua monster lautan itu.


Pasukan Jenderal Felline yang semula berjumlah puluhan ribu prajurit telah berkurang lebih dari setengahnya. Lima komandannya bahkan sudah kelelahan dan mengalami cidera yang tidak ringan, mereka beberapa kali bahkan hampir terbunuh.


Sebenarnya sejak tadi mereka sudah merasa tidak sanggup mengatasi monster lautan yang terus bermunculan. Jika bukan karena Jenderal Felline yang meminta mereka untuk tidak menyerah serta menunjukkan semangat juangnya menghadapi monster-monster lautan yang terus bermunculan itu, mereka tidak mungkin dapat bertahan sejauh ini. Semua prajurit tersenyum melihat punggung Jenderal Felline yang masih berdiri di hadapan mereka. Bersyukur karena jenderal yang memimpin mereka memiliki jiwa besar dan pantang menyerah.


“Monster laut itu benar-benar mengerikan.” Komandan bertubuh besar berkata demikian dengan napas terengah-engah. Ia sangat kelelahan setelah melewati pertempuran panjang itu.


“Kalau muncul lagi, habislah kita,” kata Komandan Botak yang napasnya juga terengah-engah.


“Tutup mulutmu, botak!” seru Komandan rambut merah sambil menjitak kepala Komandan Botak. “Setiap kau ngomong begini, pasti hal buruk akan segera terjadi. Jadi diamlah!”


Komandan rambut putih dan Komandan rambut pirang ikut menjitak kepala Komandan Botak. Sebab apa yang dikatakan Komandan rambut merah memang benar. Beberapa kali Komandan Botak mengucapkan hal tidak masuk akal, hal itu secara ajaib akan terjadi. Sejak saat itu mereka selalu menganggap Komandan Botak sebagai pembawa sial.


“Kalian kenapa, sih?” Komandan Botak mengusap-usap kepalanya yang barusan dijitak tiga orang sambil mengerutkan dahi. “Mana mungkin, kan, hanya karena aku bilang monster laut akan muncul lagi, mereka akan tiba-tiba mun—”

__ADS_1


BLAAAR!


Dari laut terdengar ledakan dahsyat, secara mengejutkan ribuan monster laut kembali muncul.


Napas mereka semua tertahan saat itu juga.


Jenderal Felline meneguk ludahnya. Sebab selain ribuan monster laut yang muncul lebih kuat dari sebelumnya, terdapat satu monster raksasa yang memancarkan aura mengerikan. Jenderal Felline merasa level monster raksasa itu berada di level berbeda dari monster lainnya. Sangat kuat hingga sulit diukur seberapa kuat monster lautan itu. ‘Ti-Tidak mungkin….’



“Sial! Apa ini karena ucapanku?” Komandan Botak menelan ludahnya, ia bisa merasakan tatapan tajam empat komandan lain tertuju padanya. Membuat perasaannya semakin tidak nyaman.


Sementara para prajurit yang tersisa memucat dengan tubuh bergetar. Kemunculan monster raksasa telah menciutkan nyali mereka. Raut keputusasaan mereka terpampang jelas sebab mereka tahu tidak mungkin dapat mengatasi monster yang muncul kali ini. Semua prajurit itu berpikir kalau ini adalah akhir dari mereka.


“GROOOOWL!” raungan keras monster raksasa membuat lebih dari setengah prajurit pingsan dengan mulut berbusa. Sementara yang bertahan menutup telinga mereka rapat. Termasuk Jenderal Felline dan lima komandan.


‘Sial … bagaimana sekarang ….’ Raut Jenderal Felline berubah panik. Ia bisa merasakan monster raksasa itu tidak hanya kuat, tetapi kemampuan monster itu juga berada di atasnya.


Pada saat ribuan monster laut melompat ke daratan dan berlari menuju mereka, ketakutan mereka semakin menjadi. Banyak di antara mereka yang ingin lari tetapi karena terlalu takut tubuh mereka jadi terasa berat hingga sulit digerakkan.


Jenderal Felline tubuhnya sempat gemetar, tetapi ia berusaha meredam rasa takutnya dan memutuskan untuk maju menghadapi ribuan monster lautan itu meskipun tidak yakin dapat mengatasinya.


Namun langkah Jenderal Felline terhenti ketika ia melihat seseorang turun dari langit, mendarat tepat di sampingnya.


“Ka-Kau ….” Jenderal Felline terkejut sebab ia sangat mengenal sosok itu. Seseorang yang dulu pernah membantunya mengatasi rombongan hewan buas iblis yang mengamuk. Sosok itu tidak lain adalah Lyan.


“Apa kabar, Jenderal Felline?” tanya Lyan sambil tersenyum sebelum pandangannya tertuju pada ribuan monster laut yang mendekat. “Aku rasa waktunya tidak tepat untuk menanyakan kabar sekarang. Biar aku urus monster-monster itu terlebih dahulu.”

__ADS_1


__ADS_2