
Hanya dengan melihat tatapannya, Light bisa merasakan seberapa besar niat Lyan untuk melampaui batasan diri. Light merasa lega karena muridnya itu telah bangkit dari keterpurukan.
‘Aku percaya kau dapat melakukannya.’
‘Aku akan temui Master, Guru. Aku harus berlatih sekarang.’
‘Lakukanlah. Aku akan berjaga di sekitar sini.’
‘Terima kasih, Guru.’ Lyan kemudian duduk bersila dan memejamkan mata.
Setelah memastikan Lyan sudah pergi ke ruang jiwa, Light berjalan menuju ke arah pohon yang terletak beberapa meter di depannya untuk menyandarkan punggung. Sambil melipat tangannya, dia memperhatikan muridnya sejenak sebelum pandangannya tertuju ke arah langit, tepat dimana matahari hitam berada.
‘Sepertinya aku juga harus melakukan sesuatu.’
***
“Master.” Lyan yang baru tiba di ruang jiwa segera mendekati Master Gyo yang sedang mancing di danau.
“Bagaimana perasaanmu sekarang? Sudah baikan?” tanya Master Gyo.
Lyan sedikit terkejut tidak menyangka ternyata Master Gyo diam-diam memperhatikannya dari ruang jiwa.
“Apa maksudmu , Master?” Lyan berpura-pura tidak mengerti perkataan Master Gyo, tidak ingin gurunya tahu mengenai kekhawatirannya.
Master Gyo tersenyum. Dia sudah mengenal Lyan, anak itu pasti sebelumnya murung karena mencemaskan dirinya. Namun karena dia sudah kembali seperti semula, Master Gyo tidak ingin mengungkitnya lebih jauh. “Sudahlah, yang penting sekarang adalah kau datang ke sini untuk berlatih, kan?”
Lyan mengangguk pelan, “Benar, aku ingin secepatnya menjadi pertapa, Master.”
“Kalau begitu ambillah ini." Master Gyo memberikan tongkat pancingannya pada Lyan. “Coba kau dapatkan ikan untukku.”
Dahi Lyan berkerut ketika menerimanya. “Master, apa ini bagian dari latihan?”
Master Gyo mengangguk pelan.
“Di danau ini hanya terdapat satu ikan. Kau tidak bisa mendapatkannya dengan cara biasa karena ikan ini cukup cerdik,” ucap Master Gyo. “Pertama-tama cobalah untuk fokus menyalurkan auramu pada kail pancingan."
Lyan mengikuti instruksi dengan menyalurkan auranya pada kail pancingan, dia berhasil menciptakan aura hitam berbentuk bola seukuran kepalan tangan.
__ADS_1
“Tidak, itu terlalu besar. Padatkan auramu sampai ukurannya lebih kecil dari ukuran jempolmu. Jika berhasil, beratnya juga akan bertambah sehingga tidak akan mengapung saat kau melemparkannya ke danau.”
Lyan kembali konsentrasi untuk memadatkan auranya. Ketika semuanya tampak berjalan dengan baik, tiba-tiba saja konsentrasinya buyar dan auranya kembali seukuran kepalan tangan.
‘Apa? Kenapa selalu gagal?’ Lyan tidak menyangka memadatkan aura ternyata tak semudah yang dibayangkan. Dia sudah mengulanginya beberapa kali, namun hasilnya selalu sama.
“Lebih sulit dari sekedar menyalurkan aura, bukan?” Master Gyo tertawa pelan melihat muridnya masih berjuang untuk memadatkan aura. “Cobalah lebih konsentrasi. Jangan biarkan tingkat konsentrasimu menurun sebelum kepadatannya sesuai dengan keinginanmu.”
“Akan kucoba, Master.”
Lyan kembali memusatkan konsentrasinya, dia sudah berusaha untuk tidak kehilangan fokus saat auranya mengecil tapi lagi-lagi usahanya gagal.
‘Sekali lagi.’
‘Ayolah ….’
‘Tinggal sedikit lagi.’
Lyan tidak menyerah meskipun usahanya selalu gagal, Master Gyo melipat tangannya sambil tersenyum melihat muridnya terus berjuang meskipun terus menemukan kegagalan dalam setiap usahanya.
‘Kali ini tidak boleh gagal.’
Sudah tidak terhitung berapa banyak kegagalan yang dialami pemuda itu, tapi dia tidak menyerah dan terus berjuang meskipun raut wajahnya sudah tampak kelelahan.
‘Sudah kuduga Lyan tidak akan bisa melakukannya dalam waktu singkat.’ Master Gyo membatin. Dia sudah memperkirakan pemuda itu tidak akan berhasil memadatkan auranya dalan waktu singkat.
“Jangan terlalu dipaksakan, itu hanya akan menbuat tingkat konsentrasimu semakin menurun.” Master Gyo berniat meminta muridnya untuk istirahat terlebih dahulu.
Melihat Lyan tidak menghiraukan, Master Gyo menghela napas.
“Lyan, sudah kubilang—” Master Gyo terkejut ketika baru memegang pundak pemuda itu. Aura hitam yang sebelumnya selalu kembali keukuran kepalan tangan kini terus mengalami penyusutan.
“Apa segini cukup, Master?” Lyan mengusap keringat dikeningnya, Master Gyo terdiam sesaat melihat muridnya berhasil memadatkan aura hingga ukurannya lebih kecil dari jempol.
‘Hah~ Anak ini … selalu saja melakukan hal yang mustahil ketika segalanya terlihat tidak mungkin.’ Master Gyo membatin.
“Master?” Lyan memanggil ketika Master Gyo memandangnya tanpa berkata-kata.
__ADS_1
“Y-Ya, kau berhasil.”
“Lalu, apa yang harus kulakukan sekarang?” Lyan merasa senang, dia ingin Master Gyo segera memberikan latihan tahap selanjutnya.
“Apa kau tidak ingin istirahat terlebih ….”
Lyan dengan cepat menggeleng, meskipun sudah lelah dia tidak ingin latihan hari ini berhenti dengan cepat.
Melihat Lyan masih begitu semangat, Master Gyo menghela napas karena tidak dapat menolak keinginan muridnya.“Baiklah, kalau itu keinginanmu, kita akan melanjutkan pelatihan selanjutnya.”
“Coba kau lempar auramu ke danau.” Master Gyo memberi instruksi.
Lyan mengangguk dan segera melemparnya, keningnya berkerut melihat air danau tiba-tiba berubah hitam.
”Master, apa yang sebenarnya terjadi pada danau ini?” tanya Lyan dengan penasaran.
“Warna pada air danau berubah karena terkontaminasi oleh auramu.”
“Bukankah ini tidak terjadi saat kau yang melakukannya?” Lyan ingat ketika tiba di ruang jiwa, kondisi air danau tidak berubah saat Master Gyo memancing sebelumnya.
“Itu karena aku telah membersihkan auraku.” Master Gyo menjelaskan. “Perlu kau ketahui danau pada ruang jiwamu ini cukup sensitif. Semakin gelap warnanya, maka semakin kotor auramu. Seperti yang aku ucapkan sebelumnya, ikan di danau ini cukup cerdik. Dia tidak akan tertarik dengan aura yang membuat danau menjadi kotor.”
Lyan menatap ke arah danau. Berdasarkan penjelasan Master Gyo, dia bisa menarik kesimpulan satu-satunya cara untuk menangkap ikan di danau adalah dengan membuat air danau menjadi jernih.
“Bagaimana caranya agar aku dapat membersihkan auraku, Master?”
“Konsentrasi tingkat tinggi yang kau dapatkan dari memadatkan aura adalah salah satu syaratnya.” Master Gyo melirik ke arah Lyan yang tampak serius mendengarkan. “Tapi itu tidak cukup karena membersihkan aura berada dilevel yang lebih tinggi dari memadatkan aura. Tidak hanya memerlukan konsentrasi tinggi, kau juga membutuhkan ketenangan ekstrim untuk melakukannya.”
‘Konsentrasi tingkat tinggi dan ketenangan ekstrim?’ Lyan membatin setelah mendengar semua perkataan gurunya. Secara perlahan dia menarik napasnya dalam-dalam, lalu dihembuskan secara perlahan setelah itu.
“Aku akan mencobanya, Master.”
Lyan menutup matanya perlahan, berusaha menyatukan ketenangan serta konsentrasinya.
Master Gyo berbaring di rumput sambil memperhatikan danau yang telah terkontaminasi.
Beberapa saat kemudian kerutan mulai terlihat pada kening Master Gyo saat menyadari danau tersebut mulai mengeluarkan asap.
__ADS_1
‘Tunggu, apa yang sedang ….’ Master Gyo segera bangkit dengan raut terkejut. Dia tidak pernah melihat fenomena aneh seperti ini terjadi pada danau ruang jiwa. Kadar panas pada danau itu semakin meningkat, bahkan terdapat gelembung-gelembung kecil yang meletup-letup seakan danau itu telah menjadi lahar panas.