Legend Of Lyan 2

Legend Of Lyan 2
Mata Semesta


__ADS_3

Ketika dua mata raksasa itu mulai terlihat di langit, kedua mata Lyan mulai memancarkan cahaya.


“Mata Semesta Level 1, Penglihatan!”


ZOOM!


Pandangan Lyan perlahan berubah menjadi gelap sesaat sebelum penglihatannya mulai beralih pada dua mata raksasa di langit. Lyan bisa melihat milyaran aura kehidupan pada Benua Cahaya. Dari aura kecil, sedang, besar, bahkan ada yang luar biasa besar hingga sulit di ukur seberapa tinggi kekuatannya.


Lyan memperkirakan aura yang sulit diukurnya itu adalah milik Astaroth.


‘Aku menemukanmu, tetapi belum saatnya sekarang.’


Menyadari yang menjadi fokus utamanya adalah keberadaan rekan-rekannya, Lyan kembali memusatkan konsentrasi untuk merasakan aura Yuna dan Youl.


‘Ketemu!’


Tidak memerlukan waktu yang lama, Lyan sudah bisa menemukan aura rekan-rekannya yang terasa berbeda dengan makhluk yang hidup di Benua Cahaya.


‘Aura besar yang bercampur dengan kegelapan ini … apa Yuna menjadi pertapa dengan menyerap roh makhluk benua ini?’


Kedua aura yang dirasakan Lyan memiliki keunikan masing-masing yang membuat Lyan sedikit bingung. Aura pertama yang dia perhatikan berkobar besar dan berwarna putih, tetapi aura itu dikelilingi aura hitam yang serupa dengan aura milik makhluk hidup benua ini.


Meskipun aura itu bercampur, aura itu tetap terasa tidak asing sehingga Lyan bisa menebak itu adalah aura milik Yuna.


‘Aura besar yang bercampur dengan kegelapan …. Apa Yuna menjadi pertapa dengan menyerap roh makhluk benua ini?’


Aura kedua adalah yang membuat Lyan bingung sampai ragu itu milik rekannya. Aura ini berkobar kecil, namun kegelapan aura tersebut sangat pekat dan terasa sangat buruk melebihi semua aura yang berada di benua ini, membuat Lyan ragu kalau itu adalah aura milik rekannya.


‘Yuna dan Youl sedang bersama saat ini dan tidak ada aura lain yang berbeda lagi selain yang satu itu. Jelas aura itu milik Youl, tetapi kenapa bisa segelap itu? Bukankah dia juga sudah menjadi pertapa? Kenapa aura itu hanya setara puncak Energi Langit?’


Sejumlah pertanyaan muncul dalam benak Lyan.


‘Semuanya akan jelas saat aku bertemu dengannya nanti. Sebaiknya aku menyudahi ini sekarang.’

__ADS_1


Menggunakan Mata Semesta terlalu banyak menguras kekuatan sehingga Lyan memutuskan untuk segera mengakhirinya.


Hex bisa melihat mata raksasa di atas langit menghilang secara perlahan.


Pandangan Hex mulai mengarah pada Lyan. ‘Aku tahu dia kuat, tetapi kekuatan seperti ini berada jauh di luar ekspetasiku.’


Kekuatan luar nalar yang Lyan tunjukkan barusan membuat Hex berdecak kagum. Tidak pernah dia melihat kekuatan sebesar ini sebelumnya.


‘Mungkin orang ini benar-benar dapat mengalahkan Astaroth.’ Hex membatin.


“Aku telah menemukan mereka. Waktu Master dan Guru ke sini menghabiskan waktu enam bulan, bukan?”


“Benar. Tapi sebenarnya yang membuat perjalanan kami menuju ke sini menghabiskan waktu selama itu karena kami mencari rute yang aman.” Light memberi jawaban.


Meskipun Light mengatakan rute aman, sebenarnya mereka juga beberapa kali sempat bertemu dengan lawan dan berakhir dengan membunuh mereka.


“Darimana kalian memulai awal perjalanan?” tanya Hex


“Tempat yang dipenuhi monster-monster pohon yang merepotkan,” jawab Master Gyo.


“Satu hari. Tempat persembunyian suku purba tidak terlalu jauh dari area itu.”


“Hm … dengan menyetarakan kecepatan kita semua dan terus maju tanpa mempedulikan lawan, kita akan menghabiskan waktu selama dua bulan untuk sampai di sana.”


“Kalau begitu kita harus bergerak sekarang. Semakin cepat semakin baik,” ucap Light.


Mereka berempat kemudian terbang, bergerak menuju tempat persembunyian suku purba.


*****


Tekanan mengerikan yang dirasakan Lilia beserta pasukannya perlahan hilang ketika mata raksasa di atas langit tidak terlihat lagi.


“Apa itu sebenarnya.” Keringat dingin tampak membasahi punggung Zemus. Meskipun mata raksasa itu telah menghilang, tubuhnya masih tidak dapat berhenti gemetar.

__ADS_1


Lilia hanya diam dengan jantung yang masih berdegup cukup kencang.


‘Meskipun kami mengerahkan seluruh pasukan suku Benua Cahaya tetap mustahil mengalahkan sosok yang memiliki kekuatan sebesar itu. Dia berada di ranah yang jauh melampaui kami. Hanya Tuan Astaroth yang bisa menghadapinya,’ batin Lilia.


Lilia kemudian mengambil napas perlahan untuk menenangkan dirinya.


Wanita itu mulai memperhatikan raut wajah setiap pasukannya yang tampak masih ketakutan. Mereka semua bukanlah Pertapa Semesta seperti dirinya, tidak heran jika tekanan yang dipancarkan oleh mata raksasa itu telah membuat mental mereka hancur.


“Kita istirahat sebentar.”


Beberapa jam setelah memastikan kondisi mental pasukannya membaik serta pasukannya yang tidak sadarkan diri sebelumnya telah siuman. Lilia memutuskan untuk bergerak kembali.


Setelah menempuh perjalanan selama sehari mereka hampir mencapai tempat persembunyian suku purba.


Dari kejauhan mereka bisa melihat sekitar puluhan ribu orang berkumpul pada satu titik.


‘Tidak mungkin …. Apa mereka menyadari kedatangan kami?’


Menyadari mereka yang berkumpul di sana adalah pasukan suku purba, Lilia sedikit terkejut karena selama bergerak menuju tempat persembunyian suku purba mereka telah menyembunyikan aura kehadiran mereka.


Zemus tampak lebih terkejut melihat seekor harimau tempur berdiri dibarisan paling depan. ‘Sial, sudah kuduga dia bersama suku purba.’


‘Mereka telah menyembunyikan aura kehadiran mereka sampai aku tidak dapat menyadarinya, Papu. Berkat Tuan Harimau yang menyadari kedatangan mereka lebih cepat kami jadi dapat mempersiapkan diri. Tuan Harimau benar-benar hebat, Papu.’


Pemimpin suku papu merasa takjub pada Sisi Gelap yang dapat mengetahui kehadiran musuh meskipun mereka telah menghilangkan aura kehadiran.


Lilia bersama pasukannya berhenti di hadapan pasukan suku purba.


“Sejak kapan kalian memelihara harimau?” Lilia mengerutkan dahi ketika melihat seekor harimau berdiri dibarisan paling depan. “Apa kalian ingin menggunakan harimau itu untuk melawan kami?” Dia tertawa pelan.


Raut wajah Zemus memucat mendengar ejekan Lilia. Hal serupa juga terjadi pada Joe yang merupakan tangan kanannya.


“Jaga ucapanmu, Papu! Tuan Harimau adala—”

__ADS_1


Ucapan pemimpin suku terhenti ketika Sisi Gelap memberinya isyarat untuk diam.


“Wanita itu milikku. Sisanya aku serahkan padamu,” ucap Sisi Gelap pada pemimpin suku papu sambil menyeringai.


__ADS_2