Legend Of Lyan 2

Legend Of Lyan 2
Pilihan Zemus


__ADS_3

“Awas, Tuan!” Joe berseru memperingatkan Zemus yang sesaat lupa akan pertarungannya dengan pemimpin suku.


Zemus tersadar dan dengan cepat menghindari serangan pemimpin suku menyerangnya menggunakan tongkat.


“Jangan mengganggu, sialan!”


Zemus melepas gelombang energi dahsyat, membuat pemimpin suku terseret mundur cukup jauh.


Pemimpin suku memperkuat pijakannya agar tidak terseret lebih jauh lagi. ‘Sudah kuduga Zemus menyimpan kekuatannya ketika menghadapiku. Aku harus berhati-hati, Papu.’


Ketika pemimpin suku meningkatkan kewaspadaan, Zemus terbang dengan kecepatan tinggi menuju tempat Sisi Gelap dan Lilia berada.


Pemimpin suku terbang menyusul pria tua itu. “Tidak akan kuizinkan kau mengganggu Tuan Harimau, Papu!”


Zemus menggertak giginya. “Menyingkir!”


Dia mengibas tangannya, menciptakan aura hitam berbentuk sabit. Pemimpin suku menggunakan tongkatnya untuk menahan dan terseret ke bawah.


Keringat dingin membasahi pelipis Zemus. Jantungnya berdetak semakin tidak karuan ketika jaraknya hanya tersisa puluhan meter dari Lilia yang sudah terkapar tak sadarkan diri. Keresahan semakin menyelimutinya saat Sisi Gelap berjalan mendekati Lilia.


Sebenarnya Zemua ingin menarik semua pasukan mundur melarikan diri sesaat setelah melihat Lilia dikalahkan. Hanya saja dia kepikiran sudah beberapa kali gagal menjalankan perintah yang diberikan Astaroth. Jika kali ini gagal lagi ditambah kabar buruk dengan kehilangan Lilia, Astaroth tentu saja tidak akan melepasnya kali ini.


‘Sial, aku tidak mungkin menang melawan harimau itu, rasanya ingin kabur saja tetapi jika aku biarkan Lilia mati, aku akan berada dalam masalah besar.’


Zemus menggigit bibirnya. ‘Ah! Persetan! Pilihan manapun yang kupilih tidak ada yang memberi keuntungan!’


Urat-urat mulai bermunculan di sekitar wajah Zemus sebelum matanya memancarkan cahaya hitam.


Api hitam tiba-tiba muncul di belakangnya. Api hitam itu bergerak seakan hidup dan dengan cepat menyatu membentuk wujud seekor naga.


“Ephemeral!”

__ADS_1


Naga hitam itu melesat dengan kecepatan tinggi, menabrak perisai transparan.


DUAAAR!


Zemus merapatkan gigi melihat serangannya tidak dapat merusak perisai transparan ciptaan Sisi Gelap sedikitpun.


“Kau sepertinya tidak belajar dari pengalaman.” Sisi Gelap mengarahkan tangannya ke bawah, Zemus yang baru saja ingin mengerahkan kekuatan penuh mendadak merasa dirinya tercekik.


“Waktu itu aku sengaja melepasmu. Kali ini jangan harap nasib baik akan kembali terjadi.”


“Khggh!” Zemus kesulitan bernapas dan meronta-ronta di udara. ‘Sial, kalau begini aku bisa mati!’


Semakin Zemus berontak, cekikan di lehernya terasa semakin kuat, membuat dirinya semakin kesulitan bernapas.


Sisi Gelap menariknya masuk ke dalam perisai transparan. Sudut bibirnya terangkat melihat perlawanan Zemus yang ada di depannya mulai melemah.


“A-am … pu … n.” Dengan tubuh gemetar Zemus memohon.


DUAAAR!


Dalam sekejap tubuh Zemus hancur menjadi gumpalan darah.


“Apa kau pikir aku tidak tahu kau tidak akan mati hanya karena itu?” Jari Sisi Gelap yang mengarah pada gumpalan darah Zemus mengeluarkan cahaya hitam.


‘Sial!’ Zemus tidak menyangka Sisi Gelap dapat menyadari dirinya hanya berpura-pura mati. Dia bergerak bagaikan ular untuk menjauhi Sisi Gelap.


“Tolong ampuni aku!” seru Zemus dengan panik.


“Kau harus bersyukur karena aku memberimu menjalani kehidupan kedua di alam lain.” Sisi Gelap menembakkan cahaya hitam berbentuk bola kecil dari ujung jarinya.


“Tidak! Jangan!” Zemus ketakutan setengah mati ketika bola hitam itu melesat cepat ke arahnya.

__ADS_1


Namun secara misterius bola kecil itu hilang sebelum mengenai Zemus. Sisi Gelap tampak sedikit terkejut.


“Luar biasa. Dapat mengalahkan Lilia serta mempermainkan Zemus seperti itu …, bahkan di benua ini hampir tidak ada yang dapat melakukannya.”


Sisi Gelap dikejutkan oleh kehadiran seorang pria misterius di sampingnya yang muncul tanpa disadari sama sekali. Sisi Gelap dengan cepat menjaga jarak dari pria berambut perak yang mengenakan penutup mata itu.


‘Tidak hanya dapat melenyapkan seranganku, dia juga dapat masuk ke dalam perisai transparan tanpa seizinku. Aku bahkan tidak dapat menyadari kehadirannya. Dia berbahaya.’


Menyadari pria itu berada di pihak lawan, Sisi Gelap kembali mengerahkan kekuatan penuhnya.


“Jangan buang-buang tenagamu. Aku datang ke sini bukan untuk bertarung,” ucap pria itu dengan ekspresi datar.


“Bukankah mereka rekanmu?”


“Aku tidak terlibat dalam tugas mereka.”


“Kalau begitu aku bisa membunuhnya, bukan? Sisi Gelap memandang pria itu sambil mengarahkan tangannya pada gumpalan darah Zemus.


“Tidak, biarkan mereka hidup. Kami mengaku kalah dan akan menarik mundur pasukan,” sahut pria itu.


Sisi Gelap tertawa pelan.


“Aku benar-benar tidak mengerti denganmu. Sesaat kau berbicara seakan tidak akan mencampuri urusanku, namun kau ingin aku melepas mereka. Apa kau pikir aku akan membiarkanmu begitu saja?”


Aura hitam Sisi Gelap berkobar semakin besar, wajah-wajah mengerikan satu persatu muncul di sekitar auranya.


Pria yang mengenakan penutup mata itu, Venom, menghela napas.


“Aku tidak bisa membiarkan mereka mati karena tuanku masih membutuhkan mereka. Dan aku tidak berniat bertarung dengan lawan yang sudah kelelahan.” Meskipun matanya tertutup oleh kain, Venom bisa mendengar suara napas Sisi Gelap yang tidak beraturan.


“Venom! Apa yang kau lakukan?! Bunuh harimau sialan itu! Dia akan menjadi ancaman besar jika kita biarkan hidup!” Zemus yang masih dalam bentuk gumpalan darah berteriak.

__ADS_1


“Bicara sekali lagi maka aku yang akan membunuhmu, Zemus.”


__ADS_2