Legend Of Lyan 2

Legend Of Lyan 2
Melepas Kutukan


__ADS_3

“Jaga bicaramu, Manusia,” kata wanita itu dengan ekspresi dingin. “Tidak sepatutnya kau bersikap kasar disaat membutuhkan bantuan.” Wanita itu merasa tidak senang dengan cara Lyan menyambut kehadirannya.


“Apa kau memintaku sopan pada mereka yang diam-diam selalu mengamati seperti penguntit?” Lyan tertawa pelan. “Jangan pikir karena kau iblis, derajatmu lebih tinggi dari kami.”


Mata wanita itu membesar, raut wajahnya menunjukkan kemarahan setelah perkataan pedas itu masuk ke dalam telinganya.


Meskipun dirinya akui kalau Lyan bukan manusia sembarangan karena mampu menjadi Xora seperti mereka, dimatanya Lyan tetaplah seorang manusia yang tidak pantas memandang rendah atau menyetarakan ras iblis dengan ras manusia.


Sebab pada dasarnya manusia adalah makhluk lemah yang tidak lebih dari seekor semut baginya. Jika bukan karena perjanjian terikat mereka dengan Gaia, milyaran tahun lalu manusia mungkin sudah musnah dari dunia.


“Dasar manusia tidak tahu diri.” Tekanan dari wanita itu membesar diiringi nada suaranya yang terdengar dingin. “Apa pantas manusia seperti kalian membandingkan diri dengan ibli…”


“Aku tidak peduli dengan pemikiranmu!” sergah Lyan, memotong pembicaraan wanita itu. “Yang kuinginkan sekarang adalah bertemu Iblis Dosa! Panggil mereka keluar sekarang!” serunya lagi.


Wanita itu terdiam beberapa saat dengan ekspresi terkejut. Tidak disangka olehnya pemuda di hadapannya akan melontarkan kalimat yang tak terduga. Bagaimana mungkin dia bisa mengetahui kalau dirinya bukanlah Iblis Dosa?! Apa manusia itu bisa membedakan Iblis Dosa dengan iblis lainnya? Pikir wanita itu heran.


Sedangkan Lyan sendiri mengetahuinya karena Iblis Dosa yang pernah ditemuinya, Asmodeus, mempunyai sesuatu yang membuatnya terlihat berbeda dari iblis lain, yaitu tubuhnya memancarkan cahaya agung yang dapat membuat semua orang bisa menduganya sebagai seorang penguasa meski hanya sekali lihat. Ditambah lagi Endless juga sama mempunyai cahaya agung yang bersinar pada tubuhnya, Lyan memperkirakan hanya Dewa Kebajikan dan Iblis Dosa saja yang memilikinya. Sebab dia tidak menemukan itu pada semua pasukan Asmodeus saat itu, Astaroth bahkan wanita di hadapannya kini juga tidak ada.


Wanita itu jelas masih penasaran. Namun menilai dari cara bicara Lyan padanya, mana mungkin akan memberikan penjelasan untuk meredakan rasa penasarannya.

__ADS_1


Melihat sorot tajam yang diarahkan pemuda itu padanya, wanita itu tiba-tiba saja teringat akan tugas yang diberikan padanya. Mungkin saat ini kekesalannya harus dipinggirkan karena tujuannya datang menemui Lyan bukanlah untuk berdebat, melainkan membantu pemuda itu sesuai perintah tuannya. Sebab baginya tugas yang diberikan tuannya adalah hal paling penting melebihi apapun, amarahnya kini harus dikesampingkan.


“Aku Lilith. Aku diperintahkan oleh Tuan Lucifer untuk membantumu melepas kutukan Penduduk Benua Cahaya.” Wanita itu memperkenalkan dirinya.


Teringat oleh Lyan akan perkataan Azrec hanya Iblis Dosa yang mampu melenyapkan kutukan Astaroth. Membuatnya ragu pada Lilith dapat melepas kutukan yang telah menimpa Penduduk Benua Cahaya.


“Kau tidak sedang menipuku, kan?” ucap Lyan. “Bukankah hanya Iblis Dosa yang dapat melakukannya?”


Lilith kembali terkejut tidak menyangka masalah seperti ini saja dapat diketahui oleh pemuda itu. Sementara dia sudah melihat sendiri Astaroth tidak mengatakan apapun mengenai masalah ini mau saat pertarungan terjadi di Benua Cahaya maupun di dimensi Lotus World.


Kesalahan mungkin terdapat pada mereka yang baru mengamati Lyan saat Astaroth melepas pasukan Setan Darah. Mungkin saja ada sosok iblis yang bersembunyi dibalik pemuda itu yang tidak ia ketahui, yang bisa saja telah membeberkan apapun mengenai mereka.


‘Aku harus terus mengawasinya mulai sekarang,’ batin Lilith sejenak. Selang beberapa saat kemudian barulah dia berkata, “Benar, kutukan itu hanya bisa dilepas oleh pemilik kutukan atau para Iblis Dosa, tetapi bukan berarti tidak ada cara bagiku untuk melepasnya.”


Mendengar pernyataan Lilith barusan membuat rasa frustasi yang telah menggunung dalam benak Lyan perlahan memudar. Rasa lega akhirnya juga dapat dia rasakan sekarang setelah terus menerus mencemaskan Penduduk Benua Cahaya beberapa hari belakangan ini.


“Kalau begitu segera lepaskan kutukan itu sekarang.”


Wanita itu tersenyum dingin. “Tentu akan kulakukan, asalkan kau menuruti dua syarat dariku.”

__ADS_1


Urat-urat muncul disekitar pelipis Lyan, kesal karena Lilith masih saja mengajukan persyaratan dalam situasi seperti ini.


Namun karena merasa tidak memiliki pilihan lain lagi untuk menyelamatkan Penduduk Benua Cahaya, Lyan memutuskan untuk meredam emosinya. Lebih baik mendengarkan isi persyaratannya terlebih dahulu.


“Sebutkan syaratmu,” ucap Lyan dengan dingin.


Lilith melirik ke tempat kepala Astaroth berada. “Pertama, berikan Astaroth padaku.”


“Tidak bisa! Setelah kutukan lepas, aku akan segera membunuhnya!” Lyan menolak dengan tegas.


“Kalau begitu aku tidak dapat membantumu.” Bola hitam kecil di hadapan Lilith perlahan menghilang.


Lyan mengepal keras tangannya. “Sial! Bukankah kau bilang datang untuk membantuku?! Apa maksud dari semua ini sekarang?!”


“Ketahuilah, tidak ada sesuatu yang gratis di dunia ini, Manusia. Jika kau menginginkan sesuatu maka kau harus membayarnya dengan harga yang setimpal.”


Lyan menatap marah pada Lilith sambil menggertak giginya. Membiarkan Astaroth lepas begitu saja setelah semua perbuatannya, tentu saja Lyan tidak ingin membiarkan hal seperti itu terjadi. Namun masalahnya sekarang jika tidak menuruti persyaratan Lilith, maka kutukan itu tidak akan lepas dari penduduk benua ini.


Lyan menoleh ke tempat kepala Astaroth berada sejenak dengan tangan terkepal keras. Selang beberapa saat dia kembali mengedarkan pandangan ke arah Lilith dan mengambil keputusan. “Baik! Aku akan membiarkanmu membawanya pergi!” teriak Lyan menuruti persyaratan pertama Lilith. Sebab menurutnya lebih baik merelakan Astaroth ketimbang nyawa semua penduduk benua. Meskipun sebenarnya dia merasa berat mengambil keputusan ini.

__ADS_1


Melihat senyuman mekar dari bibir Lilith membuat kemarahan Lyan meningkat. Sayangnya situasinya saat ini tidak memungkinkannya untuk melakukan sesuatu pada wanita itu. Dia hanya dapat menahan semua amarahnya.


“Lalu apa syarat kedua?!” Lyan berseru dengan kesal. Dia ingin segera mengakhiri ini semua dan tidak bertemu dengan Lilith lagi setelah menuruti semua persyaratan.


__ADS_2