
Keesokan harinya Lyan bersama mereka yang akan terlibat dalam penyerangan Astaroth berkumpul di sebuah tenda untuk membahas rencana dan peran masing-masing dalam penyerangan ini. Setelah rapat selesai malam harinya mereka langsung bergerak menuju Pulau Astaroth.
Lyan sedikit khawatir mengingat saat rapat tadi Youl mengajukan diri untuk menghadapi Venom seorang diri. Meskipun sudah mendengar dari Yuna mengenai kekuatan tersembunyi Youl yang setara Pertapa Semesta, Venom tetaplah tidak akan mudah dihadapi karena dia sudah berada dipuncak Pertapa Semesta.
Namun ini adalah pilihan Youl, Lyan merasa tidak boleh meragukannya. Dia hanya bisa percaya pada harimau tempur itu untuk mengatasi Venom.
Keesokan harinya saat Venom, Lilia dan Zemus terbang bersama menuju pulau Astaroth, mereka tiba-tiba dihadang oleh empat sosok. Empat sosok itu adalah Master Gyo, Light, Youl dan Hex.
“Hahaha! Apa ini? Hex, berani sekali kau—”
Raut wajah Lilia memucat saat menyadari di antara empat sosok itu terdapat seekor harimau tempur. Setelah kekalahannya pada Sisi Gelap, Lilia masih merasa shock hingga hari ini.
Zemus tidak kalah pucat karena teringat bagaimana Sisi Gelap mempermainkannya terakhir kali.
“Harimau itu bagianku, kalian urus sisanya.”
Perkataan Venom membuat Lilia sedikit tenang.
“Jangan meremehkannya, Venom.” Lilia berbisik pelan, “Tolong bunuh dia untuk membalaskan dendamku.”
Venom hanya tersenyum sebelum memandang Youl sejenak dan terbang menjauh dari sana, seakan mengerti Venom mengajaknya bertarung di tempat lain harimau tempur itu segera mengikuti.
Lilia dan Zemus merasa lega setelah harimau tempur itu meninggalkan tempat.
“Aku tidak tahu alasanmu tiba-tiba menghadang kami seperti ini, Hex. Aku harap kau tidak lupa dengan pertarungan terakhir kita.” Lilia menyeringai.
“Hei, bukan aku saja yang menghalangi jalanmu! Guru kedua dan guru ketiga juga ada bersamaku!”
Lilia tertawa pelan. “Apa yang kau bicarakan, bodoh. Mereka hanya sampah yang tidak perlu aku pikirkan.”
“Apa? Sampah katamu?” Hex mengepal keras tangannya. “Berani-beraninya kau menghina guruku! Menghina mereka sama saja dengan menghinaku!”
Hex melesat ke arah Lilia sambil melepas pukulan keras, Lilia berhasil menghindar dan terbang mundur ke belakang.
“Zemus, kau urus dua sampah itu,” ucap Lilia yang sedang dikejar oleh Hex.
“Jaga mulutmu, sialan!” Hex mengeluarkan aura merah dan meningkatkan kecepatannya untuk mengejar Lilia.
“Padahal dia bukan murid kita, kenapa dia bisa gitu, ya?” Master Gyo menggaruk keningnya.
Light mengangkat bahu. “Aku akan membantunya karena wanita itu sepertinya tidak akan mudah diatasi seorang diri.”
__ADS_1
“Lalu bagaimana dengan orang tua ini?” tanya Master Gyo.
“Dengan kekuatanmu sekarang, kau bisa mengurusnya dengan mudah.”
Tiba-tiba perisai transparan muncul saat Light hendak menyusul Hex.
“Kau pikir bisa pergi begitu saja setelah dulu pernah kabur dengan menipuku?!” Zemus menatap Light dengan tajam.
“Aku rasa kau salah orang.” Mata Light mengarah pada Master Gyo. “Yang menipumu adalah orang ini.”
Zemus tertawa lepas. “Kau pikir aku bodoh tidak bisa membedakan wajah seseorang?! Jangan harap pecundang sepertimu bisa menipuku untuk kedua kalinya.”
Light menoleh ke arah Master Gyo. “Bagaimana? Mau aku atau kau yang urus?”
Master Gyo menghela napas. “Biar aku saja.”
Zemus merasa marah karena cara bicara mereka yang terlalu meremehkannya. “Kalian! Berani-beraninya kalian meremehkan—”
Alis Zemus terangkat saat melihat Light merobek perisai transparannya hanya dengan menggunakan kedua tangan.
‘Sejak kapan dia sekuat itu?!’ Zemus tidak bisa menahan keterkejutannya karena terakhir kali seingatnya pria itu hanyalah seseorang yang kekuatannya berada di tingkat Energi Langit.
“Tunggu! Kau!” Zemus menunjuk Light namun pria itu mengabaikannya dan terbang semakin jauh.
Zemus hanya bisa menggertak gigi sambil memgepal keras tangannya.
“Hei, lawanmu di sini, ayo selesaikan urusan kita.”
“Siapa lagi kau?!” Zemus tidak ingat pernah bertemu dengan pria rambut perak itu.
“Hm, ternyata kau tidak percaya dengan ucapan Light barusan. Biar aku bantu kau mengingatnya.” Master Gyo berubah menjadi Rubah Iblis, membuat Zemus terkejut bukan main.
“Sial! Temyata kau pecundang yang menipuku waktu itu!”
Zemus segera melepas kekuatan penuhnya, aura hitam pekat mulai keluar menyelimuti seluruh tubuhnya.
Mata Zemus berubah menjadi hitam penuh. Di belakangnya muncul api hitam yang perlahan membentuk naga besar.
“Ephemeral!”
BLAAAR!
__ADS_1
Zemus langsung mengerahkan kekuatan penuhnya untuk membunuh Master Gyo dalam satu serangan, tetapi ketika kepulan asap menipis Zemus harus terkejut karena sosok Master Gyo telah menghilang dari sana.
“Kau pikir aku masih sama seperti dulu?”
Suara menggema Master Gyo membuat Zemus menjelajahkan pandangan ke sekitar mencari keberadaannya. “Dimana kau?!”
Suara helaan napas Master Gyo terdengar.
“Aku jadi menyesal telah menggunakan wujud ini karena kau yang sekarang bahkan tidak dapat merasakan keberadaanku. Tapi karena sudah terlanjur aku harus memanfaatkannya.” Master Gyo muncul di atas Zemus. “Menggunakan masa hidup sebesar sepuluh tahun sepertinya sudah cukup.”
Master Gyo melepas satu pukulan keras tepat menghantam puncak kepala Zemus.
BLAAAR!
Satu pukulan Master Gyo berhasil membuat Zemus menjadi gumpalan darah dalam sekejap.
“Jangan pikir ini sudah selesai!” Zemus perlahan kembali ke wujudnya tetapi sebelum menjadi sempurna tiba-tiba seluruh tempat menjadi gelap dan regenerasinya terhenti.
‘Apa yang terjadi?!’ Zemus merasa seluruh tubuhnya terasa panas.
Dia bisa melihat Master Gyo yang perlahan kembali ke wujud manusia berjalan dalam kegelapan mendekati dirinya.
“Apa yang kau lakukan?!” Zemus yang tubuhnya masih setengah gumpalan darah memucat saat rasa panas dalam tubuhnya terasa semakin panas.
Master Gyo yang telah kembali ke wujud manusia memegang kepala Zemus. “Tentu saja membunuh makhluk merepotkan yang suka beregenerasi sepertimu.”
Tangan Master Gyo yang memegang kepala Zemus mulai mengeluarkan cahaya, Zemus merasa sekujur tubuhnya semakin panas dan mengalami rasa sakit yang luar biasa. “Am-ampuni aku!”
Sebuah bola hitam raksasa tiba-tiba muncul menutupi mereka. Bola hitam itu dengan cepat menyusut kecil dan ketika cahaya menyeruak keluar dari dalam bola, sebuah ledakan maha dahsyat terjadi.
“Doomsday!”
BLAAAR!
Ledakan dahsyat itu membuat Zemus lenyap dalam sekejap. Tidak lama kemudian kegelapan yang menyelimuti tempat tersebut kembali menjadi terang.
“Aku harus menyusul mereka sekarang.” Master Gyo terbang dengan kecepatan tinggi.
Sementara Lyan dan Yuna yang sudah berada di Pulau Astaroth harus dikejutkan oleh Astaroth yang sudah berdiri bersama para pasukannya seakan sudah menunggu kedatangan mereka.
“Apa kalian pikir aku tidak tahu kalian akan datang ke sini?” Astaroth yang menancapkan pedangnya ke tanah menyeringai.
__ADS_1