Legend Of Lyan 2

Legend Of Lyan 2
Akhir Pencarian


__ADS_3

“Untuk mengetahui identitas dewa tersebut kau membutuhkan masa hidup sebesar seratus juta tahun. Masa hidupmu tidak cukup.”


“Tunggu, itu bukan permohonan! Aku hanya memintamu membongkar identitasnya!”


“Dan itu hanya identitas! Kenapa masa hidup yang dibutuhkan lebih besar dari kutukan Astaroth maupun Malapetaka?!”


“Tentukan permohonanmu sekarang.” Hasrat Kehidupan tidak menjawab pertanyaan Yuna. “Kau hanya memiliki satu menit tersisa, aku akan pergi saat waktumu habis.”


Yuna hanya bisa merapatkan giginya Hasrat Kehidupan tidak memberitahukan padanya mengenai identitas dewa tersebut.


“Baiklah, aku ingin kau melenyapkan Malapetaka dalam tubuh Lyan.”


“Sesuai permintaanmu.”


Tempat itu seketika berubah menjadi terang. Tidak lama setelah cahaya meredup, Hasrat Kehidupan kembali berbicata, “Permohonanmu telah dikabulkan, aku akan mengambil masa hidup sebesar 750.000 tahun yang kau miliki.”


Yuna tiba-tiba merasakan tekanan luar biasa yang membuat tubuhnya tidak dapat digerakkan. Yuna berkeringat dingin ketika satu sosok berjubah muncul di hadapannya.


Wajah sosok itu mulai terlihat dan matanya sekilas memancarkan cahaya. Yuna yang bertatapan langsung merasa mual dan memuntahkan sesuatu berwarna putih memanjang. Sosok itu segera melahapnya sampai tidak ada lagi yang keluar dari mulut Yuna.


Raut Yuna memucat seketika, dia terjatuh dengan tubuh lemas. Sementara sosok itu segera menghilang dari tempat.


“Masa hidupmu telah kuambil. Aku akan pergi sekarang,” ucap Hasrat Kehidupan yang kemudian suaranya tidak terdengar lagi.


Yuna merasakan lelah yang luar biasa setelah masa hidupnya diambil. Dengan napas terengah-engah dia perlahan bangkit berdiri. “Setelah urusan di benua ini selesai, aku harus menemukan identitas dewa itu.”


Yuna keluar dari tenda dengan sempoyongan. Kakinya yang terasa lemah membuatnya jatuh ketika baru berjalan beberapa langkah.


Sementara Lyan yang sedang terbang di langit tidak sengaja melihat wanita itu jatuh di sana. Lyan segera bergerak menuju tempat keberadaan Yuna.


“Ada apa denganmu, Yuna?” Lyan membantu Yuna berdiri.


“Aku tidak apa-apa,” jawab Yuna dengan napas terengah-engah.

__ADS_1


Lyan meragukan jawaban Yuna karena raut wajah wanita itu terlihat pucat, di samping itu Yuna juga bernapas tidak teratur. “Apa ada sesuatu yang terjadi padamu?”


Yuna menggeleng kepala. “Aku hanya lelah.”


Lyan terdiam sejenak. Meskipun merasa Yuna seperti menyembunyikan sesuatu darinya, Lyan tidak ingin memaksa wanita itu bercerita. Yang lebih penting sekarang adalah kondisi Yuna yang tampak tidak sehat.


“Baiklah, aku akan mengantarmu.”


Yuna memberitahu Lyan lokasi tenda tempatnya istirahat. Setelah tiba di sana Lyan segera merebahkan wanita itu di tempat tidur.


“Istirahatlah, Yuna.”


Ketika Lyan baru berbalik badan ingin beranjak keluar, Yuna tiba-tiba menarik tangannya.


“Ada apa, Yuna?” Lyan memalingkan wajahnya pada wanita itu.


“Apa … kau baik-baik saja? Maksudku, mengenai mereka … aku yakin kau juga memikirkan penduduk benua ini.”


“Tidak perlu khawatir, Yuna. Aku akan memastikan keselamatan mereka.” Lyan duduk di hadapan Yuna. “Beberapa saat lalu Malapetaka yang menimpa diriku tiba-tiba lenyap tanpa alasan. Aku yakin ini adalah ulah salah satu Dewa Bijak atau Iblis Dosa. Aku akan secepatnya menemukan mereka untuk meminta pertolongan.”


‘Jika aku ceritakan kebenarannya, Lyan pasti akan menyadari alasanku seperti ini karena mengorbankan masa hidup dalam jumlah besar. Tapi jika tidak aku ceritakan, Lyan akan terus mencari sesuatu yang akan membuatnya berakhir dengan kekecewaaan.’


“Lyan, aku senang mendengar salah satu dari mereka telah membantumu melenyapkan Malapetaka, kita jadi memiliki harapan untuk melenyapkan kutukan Astaroth dengan meminta bantuan mereka. Tapi jika pada akhirnya kau tidak dapat menemukan mereka, berjanjilah padaku untuk tidak menyalahkan dirimu.”


“Tidak, aku pasti akan menemukan mereka.”


Yuna menggenggam tangan Lyan dengan erat. “Kalau begitu aku tidak akan membiarkanmu pergi.”


“Ada apa denganmu, Yuna?” Lyan mengerutkan kening.


“Aku tahu kau sedang berjuang sekuat tenaga agar dapat menyelamatkan penduduk benua ini. Aku juga tahu kau tidak akan menyerah begitu saja untuk menemukan Iblis Dosa maupun Dewa Bijak demi menyelamatkan penduduk benua ini. Tapi kau juga harus menyadari dalam hidup ini tidak semua perjuangan akan berakhir dengan keberhasilan. Aku hanya tidak ingin melihatmu terpuruk, Lyan. Jika pada akhirnya tidak berhasil menyelamatkan penduduk benua ini, jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri karena kau sudah berusaha semaksimal mungkin melakukan yang terbaik.”


Lyan menghela napas panjang. Entah kenapa dia merasa seakan wanita itu telah memastikan dirinya akan gagal menemukan Iblis Dosa atau Dewa Bijak yang berada di benua ini. Tapi dia juga menyadari kalau wanita itu mengkhawatirkan dirinya.

__ADS_1


“Baiklah, jika tidak berhasil menemukan mereka, aku tidak akan menyalahkan diriku.”


“Janji?”


Lyan mengangguk sambil tersenyum. Yuna pun segera melepas genggamannya dari Lyan.


“Kalau begitu aku pergi dulu. Aku akan meminta Youl datang menjagamu. Jika dalam beberapa hari kondisimu masih seperti ini, aku tidak akan mengizinkanmu untuk mengikuti kami ke tempat Astaroth.”


“Jangan khawatir, aku cuma lelah, Lyan. Aku akan pulih secepatnya.”


“Baiklah, istirahatlah dengan baik, Yuna.”


Lyan keluar tenda meninggalkan Yuna, dia kemudian terbang untuk mencari sosok yang dia perkirakan telah membantunya menghilangkan Malapetaka.


Tiga hari berlalu begitu saja dan Lyan masih tidak dapat menemukan sosok yang dicarinya. Meskipun telah meningkatkan seluruh inderanya, dia tetap tidak bisa merasakan keberadaan sosok tersebut.


Pada hari keempat Yuna yang telah pulih ikut bantu mencari. Ini adalah hari terakhir pencarian karena besok mereka harus mempersiapkan diri menuju ke tempat kediaman Astaroth.


Setelah melakukan pencarian panjang, mereka akhirnya gagal menemukan sosok yang dapat membantu mereka menyelamatkan penduduk benua ini. Pencarian Lyan dan Yuna berakhir di sebuah bukit.


“Kita sudah berusaha melakukan yang terbaik, Lyan. Jangan lupakan janjimu,” ucap Yuna pada Lyan yang sedang menatap langit.


“Aku tidak menyalahkan diriku sendiri, Yuna. Aku hanya tidak mengerti alasan mereka melenyapkan Malapetaka begitu saja tanpa bertemu denganku. Apa tujuan mereka sebenarnya? Apa mereka sekarang masih memperhatikanku? Atau mereka telah kembali ke tempat asal mereka? Atau … apa benar Malapetaka hilang berkat bantuan mereka?”


Yuna menelan ludahnya.


“Bukankah kau yang bilang sendiri itu karena mereka?”


“Itu hanya dugaanku, Yuna. Setelah beberapa hari terus mencari, aku tetap tidak dapat merasakan keberadaan mereka. Bisa saja karena kemampuanku masih belum cukup karena mereka lebih kuat, tapi yang aku ketahui mereka bukanlah makhluk yang akan membantu secara cuma-cuma. Setidaknya mereka akan menunjukkan diri untuk memberitahukan padaku kalau mereka telah memberi bantuan. Ini tidak seperti mereka.”


Yuna menundukkan kepala dengan perasaan bersalah. ‘Maaf, aku tidak bisa memberitahukan kebenarannya padamu, Lyan.’


Setelah hening beberapa saat, Lyan kembali bicara.

__ADS_1


“Ya, mau bagaimanapun aku harus tetap menerima hasilnya. Karena tidak ada lagi cara untuk menyelamatkan penduduk benua ini, kita tidak memiliki pilihan lain selain kehilangan mereka. Persiapkan dirimu, Yuna. Karena sebentar lagi kita akan segera menghadapi Astaroth.”


__ADS_2