Legend Of Lyan 2

Legend Of Lyan 2
Kegelisahan Zemus


__ADS_3

“Lyan … dia bahkan mengalahkan pria itu tanpa menggunakan wujud transformasi.”


Master Gyo memang sejak awal sudah menduga Lyan dapat mengalahkan seorang Pertapa Semesta, tetapi dia tidak menyangka Lyan dapat mengatasinya dengan mudah dan berkembang hingga sejauh ini. Kekuatan pemuda itu jelas sudah melampaui ranah yang tidak dapat dicapai oleh manusia.


Sementara Light kehabisan kata-kata untuk mendeskripsikan muridnya sekarang yang telah jauh melampauinya. ‘Aku semakin tertinggal di belakangnya.’


Setelah menghilangkan ruang dimensinya, Lyan membawa Hex yang pingsan ke tempat Master Gyo dan Light berada.


“Master, Guru, apa baru-baru ini Youl memberi kabar mengenai keadaan mereka.”


Lyan sudah mendengar Youl bisa mengirim pesan kepada mereka sebelum dirinya menyerap kristal jiwa. Dia memperkirakan Youl selama ini masih melanjutkan komunikasi dengan kedua gurunya.


“Baru-baru ini Youl mengirim pesan mengenai keadaan mereka yang cukup baik di sana,” jawab Master Gyo.


“Kalau begitu kita bisa menunda sebentar untuk menemui mereka.” Lyan menoleh ke arah Hex yang tidak sadarkan diri. “Ada sesuatu yang ingin kuketahui darinya.”


***


Di belahan lain Benua Cahaya, Zemus terlihat terbang dengan kecepatan tinggi di udara seorang diri dengan raut wajah yang tampak pucat.


Setelah kegagalannya beberapa bulan lalu menjalankan tugas Astaroth untuk membawa seseorang yang memiliki bau iblis, Zemus hampir kehilangan kepercayaan tuannya.


Beberapa bulan terakhir ini dia kembali diberi tugas untuk mencari orang yang menyebabkan kematian suku-suku lain secara misterius. Namun setelah melalui beberapa bulan dia masih tidak dapat menemukan petunjuk mengenai pelaku yang menyebabkan semua ini. Mayat demi mayat baru terus dia temukan di beberapa tempat terpencil benua ini. Tidak ada saksi mata membuatnya semakin sulit untuk mendapatkan petunjuk.


Zemus menghela napasnya dengan raut tegang. Hari ini adalah hari terakhir yang diberikan Astaroth padanya untuk menemukan pelaku tersebut. Zemus berencana menggunakan alasan, tetapi masalahnya selama menjalankan tugas bersama pasukannya, beberapa orang diam-diam mengawasinya.


Zemus terpaksa membiarkan orang itu terus mengawasi karena sadar orang-orang itu merupakan kiriman dari salah satu pemimpin suku terkuat. Posisinya sedang terancam sehingga tidak ada yang dapat diperbuat saat itu.


Zemus menelan ludahnya ketika tiba di luar kediaman Astaroth. Setiap langkahnya semakin terasa berat saat mulai mendekati pintu masuk.


Tiba-tiba saja tendengar suara seorang wanita tertawa di belakangnya. Membuat langkah pria tua itu terhenti.


“Apa kau bisa menutup mulutmu?” Zemus terlihat tidak senang akan kehadiran wanita itu. Dia menyadari betul wanita itu yang mengirim orang untuk mengawasinya selama ini.

__ADS_1


Wanita cantik dengan bola mata ungu itu, Lilia, menghentikan tawanya.


“Ah, maafkan aku, Zemus. Aku hanya merasa lucu melihat seseorang yang gagal menangkap tikus beberapa bulan lalu sekarang kembali gagal menjalankan tugas kecil.”


Urat-urat keluar dari sekitar kepala Zemus. Tangannya terkepal keras mendengar ejekan Lilia yang jelas-jelas ditujukan padanya.


Namun Zemus menahan amarahnya mengingat posisinya sedang tidak diuntungkan. “Lilia, apa tuan yang memintamu untuk mengawasiku?”


“Tidak, itu atas kemauanku sendiri.” Lilia menjawabnya dengan santai tanpa memperdulikan kemarahan yang semakin terlihat jelas pada raut wajah Zemus.


“Kau!” Zemus menunjuk Lilia dengan geram.


“Jaga sikapmu, Zemus. Kau memang bagian dari kami, tetapi diantara kita bertiga hanya kau sendiri yang merupakan Pertapa Langit.”


Tatapan tajam Lilia memberikan tekanan kuat, membuat Zemus yang tersulut emosi terdiam dan segera menurunkan tangannya.


Zemus menundukkan wajahnya sambil merapatkan gigi. Perkataan Lilia membuatnya hatinya tertusuk akan fakta dirinya yang belum menjadi Pertapa Semesta seperti dua pemimpin suku terkuat lainnya.


Lilia yang melihat Zemus tertunduk sambil menahan emosinya kembali melanjutkan perkataan.


Zemus tidak dapat berkata apa-apa mendengar Lilia mengungkit masalah beberapa bulan lalu. Berita mengenai Hex yang muncul dan mengganggu rencananya untuk menangkap orang yang dicari Astaroth merupakan kebohongan yang dibuat demi mempertahankan posisinya.


Zemus saat itu hanya berpikir menggunakan nama Hex yang dijadikan ancaman oleh pemimpin suku papu untuk membuatnya mundur. Dia merasa malu untuk mengungkap kebeneran mengenai seekor harimau misterius yang dapat mengalahkannya dengan mudah.


Dalam hati Zemus sekarang hanya berharap wanita itu secepatnya pergi setelah puas menceramahi dirinya. Dengan mengungkit masalah itu saja sudah membuatnya mengingat kembali wajah harimau yang telah mempermalukannya.


“Tapi meskipun begitu kau tidak perlu khawatir, Zemus.”


Zemus mengangkat kepalanya.


“Apa maksudmu?”


“Aku sudah memprediksi kau akan gagal menjalankan tugas ini. Maka dari itu orang-orang yang aku utus tidak hanya kutugaskan untuk mengawasimu, tetapi aku juga meminta mereka untuk membantu dalam pencarianmu.”

__ADS_1


“Jangan mempermainkanku, Lilia.”


“Aku tidak punya waktu untuk melakukan hal membosankan seperti itu, Zemus.” Lilia tertawa pelan, “Kau sepertinya cukup meragukan niat baikku. Apa kau yakin tidak membutuhkan informasi ini untuk disampaikan pada Tuan Astaroth?”


Zemus diam sejenak. Daripada pulang dengan memberikan informasi kosong, lebih baik mempercayai wanita itu saat ini.


“Apa yang kau ingin aku lakukan untuk bayaran informasi ini?”


Zemus menyadari tidak ada yang gratis di dunia ini. Lilia pasti menginginkan sesuatu darinya sebagai bayaran.


“Aku hanya ingin kau dapat mempertahankan posisimu, Zemus. Aku membantumu karena saat ini tidak ada yang pantas menggantikan posisimu.”


Zemus bisa merasakan keseriusan dari raut Lilia. Meskipun dirinya yang paling lemah di antara tiga suku terkuat, namun dia masih yang teratas dibanding pemimpin suku lain. Lilia cukup tidak menyukai pemimpin suku lain karena tingkatan mereka tidak ada yang setara Zemus saat ini.


“Baiklah, berikan informasi itu padaku.”


Lilia mulai memberikan informasi mengenai kematian misterius beberapa suku yang terjadi belakangan ini. Dari apa yang dilaporkan orang-orangnya, Lilia menerima informasi mengenai dalang dibalik semua ini disebabkan oleh dua orang yang bergerak menuju ujung benua.


Dari ciri-ciri yang diberikan Lilia, Zemus bisa memperkirakan mereka manusia dari benua lain yang pernah ditemuinya, Lyan dan Light.


‘Pecundang itu seharusnya aku segera membunuhnya waktu itu.’ Zemus membatin dengan raut geram. Seandainya saat itu dia tidak ditipu oleh Master Gyo, masalah seperti ini tidak mungkin akan terjadi.


“Meskipun kau tidak dapat menemukan orang yang membunuh serangga-serangga di daerah terpencil, dengan informasi itu setidaknya tuan akan memaafkanmu untuk saat ini.”


“Oh, aku juga berbicara pada tuan agar tetap mempercayaimu bagaimanapun hasilnya. Jadi kau tidak perlu khawatir mengenai posisimu sekarang.”


“Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku, Lilia?” Zemus menyadari betul wanita itu tidak mungkin sebaik ini membantunya tanpa mengharapkan apapun.


Lilia tersenyum dingin.


“Selama kau sibuk dengan tugas yang diberikan tuan. Aku ditugaskan mencari tempat persembunyian suku purba, Zemus. Aku telah menemukan keberadaan mereka sekarang.”


Alis Zemus terangkat ke atas mendengar berita barusan.

__ADS_1


“Aku membutuhkanmu serta pasukanmu, Zemus. Setelah urusanmu selesai dengan tuan, kita akan langsung bergerak bersama suku lain untuk menyerang mereka.”


__ADS_2