
Wuuush!
Tidak ada siapapun yang muncul setelah Lyan berteriak, hanya hembusan suara angin yang terdengar melewatinya.
Melihat tidak ada diantara dewa dan iblis yang merespon dirinya, Lyan mengepal keras tangannya.
Dia memandang ke langit dengan geram dan kembali berseru dengan keras.
“KELUAR! AKU BILANG KELUAR, SIALAAAN!”
“Ly-Lyan ….” Yuna yang menyaksikan kejadian itu jadi merasa bersalah sepenuhnya. Gara-gara dia menyembunyikan fakta bahwa dirinya yang telah melenyapkan Malapetaka, Lyan sampai sekarang masih percaya saat ini ada sosok dewa atau iblis yang sedang memperhatikannya.
Merasa tidak bisa membiarkan Lyan terus berharap lagi, Yuna berniat ingin segera menceritakan kejadian yang sebenarnya pada pemuda itu.
“KELUAAAR!”
“Hen-Hentikan, Lyan!” seru Yuna yang sudah berada di belakang Lyan. “Mau berteriak sampai kapanpun tidak akan ada satu pun dari mereka yang akan muncul. Percayalah padaku!”
Lyan menoleh ke arah Yuna, merasa aneh dengan perkataan wanita itu. “Apa maksudmu?”
Yuna menundukkan kepala. “Maafkan aku, Lyan, sebenarnya ….”
Secara garis besar Yuna menceritakan mengenai awal mula bagaimana dirinya secara ajaib dapat bertemu dengan wujud dari segala keinginan alam semesta —Hasrat Kehidupan— setelah berhasil menyerap roh para pemimpin suku. Yuna juga mengungkapkan mengenai Janji Roh yang dia selesaikan agar Hasrat Kehidupan dapat mengabulkan satu permintaannya.
Semula keinginan Yuna hanya ingin menyelamatkan semua penduduk Benua Cahaya, tetapi karena masa hidupnya tidak cukup, Yuna akhirnya mengganti permohonannya untuk melenyapkan Malapetaka pemuda itu.
Mendengar itu membuat ekspresi Lyan berubah dingin. “Jadi, semua ini karenamu? Kenapa kau tidak jujur dari awal?”
Yuna kembali menundukkan kepala, tidak berani menatap Lyan. “Ma-Maafkan aku, Lyan.”
Lyan memandang langit sejenak sambil memikirkan semua yang telah diungkapkan oleh Yuna.
Kutukan Astaroth membutuhkan masa hidup yang besar melebihi masa hidup seorang Pertapa Semesta seperti Yuna. Sedangkan Iblis Dosa yang dapat melenyapkan Kutukan Astaroth seperti Asmodeus tidak sanggup melenyapkan Malapetaka seutuhnya. Lyan memperkirakan Hasrat Kehidupan hanga melakukan hal serupa sama seperti yang pernah dilakukan Asmodeus padanya, hanya memadamkan Malapetaka yang sudah tumbuh besar, namun akan berpotensi kembali jika ada yang kembali mengambil alih tubuhnya.
__ADS_1
Setelah hening beberapa saat, Lyan kemudian berbalik memandang Yuna.
“Lalu berapa besar masa hidup yang kau habiskan?”
Pertanyaan Lyan membuat Yuna menelan ludahnya, dia menjadi gugup. “I-Itu ….”
“Tentu tidak sedikit, bukan?” ucap Lyan. “Meskipun Asmodeus bisa melenyapkannya dengan mudah, ini bukanlah kutukan biasa. Aku yakin kau telah menghabiskan hampir seluruh masa hidupmu.”
“Kenapa kau melakukan ini, Yuna? Aku tidak pernah memintamu melakukannya! Aku dapat mengatasinya sendiri!”
“Ly-Lyan, tenanglah. Jika aku menjadi Xora nanti maka masa hidupku akan kemba…”
Perkataan Yuna terjeda karena Lyan tiba-tiba tertawa.
“Sepertinya aku harus sedikit menceritakan padamu apa yang terjadi padaku saat sedang menyerap kristal jiwa.”
Lyan menceritakan mengenai dirinya yang saat itu terus berjuang menyerap seluruh kekuatan iblis yang berasal dari kristal jiwa serta kekuatan dewa yang berasal dari Rain. Di saat bersamaan ketika dirinya telah menjadi pertapa, kesadarannya tiba-tiba terbagi menjadi dua. Kesadaran Pertama bertugas untuk terus menyerap kekuatan serta ingatan dewa dan iblis, sementara Kesadaran Kedua berpindah ke Ruang Kesunyian mempelajari pemahaman yang didapatkan dari ingatan dewa.
Usaha untuk menjadi Xora mengalami banyak Kegagalan karena jauh lebih sulit daripada menjadi Pertapa, namun setelah melewati kegagalan demi kegagalan dan terus berusaha tanpa mengenal kata menyerah, Kesadaran Kedua akhirnya memahami syarat untuk menjadi Xora yang membutuhkan pemahaman mengenai prinsip alam semesta serta masa hidup sebesar 900.000 tahun yang harus dipertaruhkan.
Pada masa ini kegagalan tidak boleh terjadi karena sekali saja gagal maka harapan untuk menjadi Xora hampir mustahil untuk dicapai lagi. Jika bukan karena Rain yang terus memberi kekuatan pada Kesadaran Pertama sehingga Kesadaran Kedua memperoleh lebih banyak pemahaman dewa, kemungkinan besar Lyan tidak akan menjadi seorang Xora seperti sekarang.
Yuna bisa merasakan kesedihan dari sorot mata Lyan ketika nama Rain tersebut olehnya. “Lyan, mengenai Rain … aku turut berduka.”
Yuna tahu Rain merupakan salah satu sosok paling berharga dalam hidup Lyan karena selama ini dia terus membantunya melewati berbagai kesulitan. Bahkan tidak hanya itu saja, Rain sampai rela mengorbankan dirinya sendiri demi membantu Lyan menyerap kristal jiwa. Dalam hati Yuna dia mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya pada sosok tersebut.
Lyan mengangguk kepala, raut wajahnya yang dingin berubah setelah mendengar perkataan Yuna.
Lyan tersadar dia sempat terbawa emosi. Setelah kehilangan Rain, dia tidak ingin lagi kembali kehilangan orang sekitarnya karena itu terasa menyakitkan. Mendengar Yuna mengorbankan masa hidupnya sendiri demi melenyapkan Malapetaka benar-benar membuat Lyan marah karena takut hal buruk akan terjadi pada Yuna setelah pengorbanan itu sehingga emosinya menjadi tidak stabil.
Lyan memutuskan untuk menenangkan dirinya terlebih dahulu dengan mengatur napas beberapa kali.
Setelah merasa lebih baik, Lyan kembali melanjutkan ceritanya yang belum selesai dan berbicara lebih lembut pada Yuna.
__ADS_1
“Yuna, yang aku ketahui setelah mendapatkan pemahaman dewa adalah Pertapa Semesta masa hidupnya rata-rata di bawah 1.000.000 tahun. Dengan jumlah masa hidupmu yang tersisa setelah melenyapkan Malapetaka, aku rasa kesempatanmu untuk menjadi Xora hampir mustahil sekarang. Maaf, Yuna, ini semua disebabkan olehku.”
“Tidak, Lyan! Apa yang kau katakan?! Ini semua juga keinginanku sendiri.”
“Lagipula aku juga tidak masalah jika tidak bisa menjadi seorang Xora! Jadi tidak perlu terlalu memikirkannya, oke?”
Lyan tersenyum lega mendengar perkataan Yuna. “Terima kasih, Yuna.”
Yuna mengangguk pelan sambil membalas senyuman pemuda itu.
“Yuna, sebenarnya aku benar-benar ingin tahu seberapa besar masa hidup yang telah kau korbankan.” Lyan menggenggam erat tangan Yuna, wajah Yuna seketika memerah dan dengan cepat dia menundukkan kepalanya tidak berani menatap pemuda itu.
“Apa kau tetap tidak ingin memberitahuku?”
Lyan mengerutkan kening melihat Yuna hanya menundukkan kepala seperti tidak mendengarkannya.
“Yuna?”
“Halo, Yuna?”
“A-a-apa, Lyan?” Yuna yang baru tersadar dengan panggilan Lyan menjawab dengan gugup.
Lyan menghela napas. “Ada apa denganmu, Yuna?”
Yuna menggeleng kepalanya. “Ti-Tidak ada. Aku baik-baik saja.”
“Hm, sepertinya kau tetap tidak ingin memberitahuku.” Lyan kembali menghela napas. “Baiklah, aku tidak akan mempermasalahkannya jika kau tetap ingin merahasiakannya. Lagipula aku percaya kau tidak akan melakukan hal bodoh sampai mengorbankan masa hidupmu hingga tersisa di bawah 1.000 tahun.”
“Me-Memangnya kenapa, Lyan?” tanya Yuna sambil melirik ke bawah.
Alis Lyan terangkat mendengar pertanyaan Yuna. “Itu jelas berbahaya, Yuna. Ini adalah hal dasar yang diketahui semua orang yang telah menjadi pertapa. Bagaimana mungkin kau tidak mengetahuinya? ”
“Ber-berbahaya? Apa?! Sebaiknya kau singkirkan tanganmu terlebih dahulu, Lyan!” Yuna merasa tidak bisa fokus mendengar selama Lyan menggenggam erat tangannya.
__ADS_1