Legend Of Lyan 2

Legend Of Lyan 2
Sepuluh Menit


__ADS_3

Mata Lilith membesar dua kali dari biasanya disaat Lyan selesai meningkatkan kekuatan sampai pada puncaknya. Tidak hanya memiliki dimensi yang sama dengan dewa yang tidak asing bagi Lilith, Lyan juga telah mengeluarkan aura emas bercahaya yang sama dengan milik dewa tersebut.


‘Tidak mungkin … kenapa dia bisa memiliki kekuatan dewa itu? Mustahil dia pernah bertemu dengan dewa itu karena...’


“Ada apa denganmu, Lilith?”


Suara Lyan membuyarkan lamunan Lilith.


“Darimana kau mendapatkan kekuatan itu?” Lilith bertanya dengan raut serius.


“Apa kau pikir aku akan menjawab pertanyaanmu?”


“Jawab aku.”


“Aku tidak mau.”


Lilith mengepal keras tangannya karena Lyan terus menolak untuk menjawab. Ia merasa harus mendapatkan informasi mengenai sumber kekuatan Lyan sebab dirasa sangat penting karena berhubungan dengan salah satu dewa.


Lyan tersenyum tipis karena sadar Lilith sangat ingin mengetahui informasi mengenai kekuatannya. Karena Lilith terlalu angkuh dan selalu meremehkan dirinya, Lyan merasa harus memberinya pelajaran.


“Lilith, bagaimana kalau kita bertaruh? Jika dalam 10 menit aku tidak dapat melukaimu, aku akan mengaku kalah dan memberitahukannya padamu. Tapi jika hal sebaliknya terjadi, kau harus menuruti permintaanku.”


Mendengar perkataan itu membuat Lilith tertawa pelan. “Apa kau pikir kau sanggup melakukannya?”


“Maka dari itu, terimalah taruhan ini jika kau yakin tidak akan kalah.”


Lilith menyeringai melihat pemuda itu terlalu percaya diri. “Baiklah, kalau begitu …” Dua cawan kecil tiba-tiba muncul di hadapan Lilith dan Lyan. “Agar tidak ada di antara kita yang ingkar, taruhan ini harus dilakukan dengan sumpah darah. Teteskan darahmu di sana. Jika kau kalah dan memberikan informasi palsu padaku, maka kau akan langsung terkena kutukan yang akan merengut nyawamu. Hal itu juga akan terjadi padaku jika aku kalah dan tidak menuruti permintaanmu.”


Mendengar ucapan Lilith membuat Lyan menghela napas. Ia tidak menyangka iblis wanita itu bahkan harus berbuat sejauh itu. ‘Ya, bagus juga, sih. Dengan ini dia tidak mungkin menolak permintaanku.’


Tanpa berpikir lagi Lyan segera meneteskan darahnya begitu saja ke cawan tersebut, membuat Lilith kembali menyeringai karena senang. “Kau benar-benar percaya diri,” kata Lilith yang ikut meneteskan darah yang keluar dari jempolnya. “Apa kau pikir Xora puncak Matahari Emas sepertimu sanggup melukaiku?”


Saat cawan yang ada di hadapan mereka berdua baru menghilang, Lyan langsung melesat menyerang Lilith. “Jangan banyak bicara.”


Lyan melepas serangkaian pukulan cepat, namun Lilith bisa menghindari semuanya seakan telah memprediksi semua arah serangannya. Meskipun hanya mengenai udara kosong, pukulan Lyan sanggup membuat ledakan ruang hampa sekitar mereka.


BOOOM!


BOOOM!


BOOOM!

__ADS_1


Lilith merasa bosan menghindari serangan secara terus menerus, ia akhirnya balas menyerang dengan serangan tapak yang membuat Lyan terseret mundur belasan meter di udara.


“Waktumu hanya tersisa 7 menit.” Lilith menyeringai.


Tanpa menghiraukan ucapan Lilith, Lyan segera mengangkat tangan kanannya ke atas, kelopak bunga putih yang menggunung di daratan tiba-tiba terbang ke atasnya, membentuk bunga lotus raksasa. Dari pusat bunga raksasa itu sesaat tampak mengeluarkan cahaya menyilaukan sebelum menembakkan sinar putih.


“LOTUS CANON!”


Lilith menepis serangan itu hingga berbelok ke arah lain.


KABOOOM!


Tiba-tiba sebuah bola hitam muncul menutupi Lilith. Bola hitam tersebut perlahan semakin membesar sebelum menciptakan ledakan maha dahsyat.


“CATASTROPHE!”


KABOOOM!


Lilith yang berada dalam kepulan asap tertawa pelan karena serangan itu tidak dapat melukainya sama sekali. Tidak lama kemudian dia melihat puluhan naga api menerobos masuk ke dalam asap, melesat ke arahnya.


“NUCLEAR PUNCH!”


KABOOOM!


KABOOOM!


KABOOOM!


Semakin lama Lilith merasa ada yang tidak beres karena Lyan menyerangnya dengan jurus yang semakin lemah. Dari Deadly Strike, Halilintar Mengguncang Semesta, Teknik Tubuh Bayangan, hingga ….


“Tinju Kristal Petir!”


DUAAAR!


“Pukulan Tujuh Halilintar!”


BOOOM!


BOOOM!


BOOOM!

__ADS_1


Semua serangan itu tidak ada satu pun yang berhasil melukai Lilith, bahkan tidak membuatnya bergeser dari tempatnya sama sekali.


“Waktumu hanya tersisa 2 menit. Apa yang sedang kau lakukan sebenarnya?” Lilith bisa merasakan dari sorot mata pemuda itu tidak terlihat sama sekali seperti orang yang sudah pasrah sehingga menyerang asal-asalan, membuat Lilith dipenuhi tanda tanya.


Lyan tersenyum tipis melihat raut Lilith yang menunjukkan ekspresi kebingungan.


“Lilith, sudah kukatakan padamu aku dapat melukaimu. Apa kau pikir aku hanya bicara sembarangan?” Lyan merentangkan kedua tangannya.


Lilith tersenyum mengejek. “Omong kosong. Kau hanya bisa melakukannya dalam mimpi. Ingatlah, waktumu hanya tersisa 1 menit sekarang.”


Lilith menyadari tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena mau bagaimanapun tingkat perbedaan kekuatan mereka masih terpaut jauh. Dengan satu menit berlalu nanti, sudah pasti dia yang akan memenangkan taruhan ini.


Lyan membalasnya dengan tersenyum tipis kembali sebelum berkata, “Mimpiku akan segera jadi kenyataan, Lilith.” Tubuh Lyan perlahan terkelupas menjadi kelopak bunga putih. “Aku ingin lihat kau masih bisa sombong atau tidak setelah terkena jurus pamungkasku. Bersiaplah karena semua jurus maupun seranganku yang gagal melukaimu barusan, seluruh kekuatannya telah terakumulasi dalam jurus ini.”


Mata Lilith membesar mendengar perkataan Lyan. Saat dia melihat tubuh Lyan berubah menjadi kelopak putih sepenuhnya, seberkas cahaya emas muncul menyilaukan seluruh area. Tekanan besar dirasakan Lilith, ia tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya karena pada saat itu juga tubuhnya mendadak tidak dapat digerakkan. ‘Mustahil … Manusia ini ….’


“EVERLASTING MERCY!”


KABOOOOM!


Ledakan maha dashyat itu sempat membuat Lotus World mengalami getaran hebat. Selang beberapa saat setelah kepulan asap menipis, terlihat Lilith masih berdiri kokoh dengan darah tampak mengalir dari sudut bibirnya.


“Aku memenangkan taruhan ini, Lilith.” Lyan menyeringai. “Kau harus menuruti permintaanku sekarang.”


Lilith menatap Lyan tajam karena merasa kesal. Ia menyesal telah meremehkan pemuda itu sehingga lengah dan berakhir dengan kekalahan seperti ini. Kekalahan ini telah membuat harapannya untuk mengetahui asal kekuatan Lyan pupus begitu saja.


Lilith mengatur napas agar dapat meredakan emosinya. Ia berpikir masih ada kesempatan untuk mengetahui asal kekuatan pemuda itu dengan mencari tahunya sendiri secara diam-diam. Untuk saat ini dia harus memikirkan permintaan Lyan terlebih dahulu dan harus menepatinya karena sudah terikat dengan sumpah darah.


“Katakan apa permintaanmu,” ucap Lilith dengan dingin.


“Kau masih bisa bersikap seperti itu padaku?” Lyan tertawa pelan. “Kau benar-benar menyebalkan, Lilith.”


“Itu bukan urusanmu. Katakan permintaanmu sekarang.”


“Sebentar. Aku masih bingung karena ada banyak permintaan yang ingin kuajukan padamu.”


“Hei?! Apa maksu...”


Mata Lilith membesar saat melihat Lyan menyeringai. Ia tersadar kalau Lyan hanya menyebutkan permintaan, tanpa menyebut berapa jumlah permintaannya. “Kau!”


“Ini bukan salahku. Siapa suruh kau terlalu angkuh dan menyetujuinya begitu saja.” Lyan tertawa pelan. “Baiklah. Aku akan mengemas semua permintaanku menjadi satu agar tidak merepotkan. Mulai sekarang kau harus menjadi budakku, Lilith. Kau harus jadi budak yang patuh dan tidak boleh melanggar satu pun perintahku.”

__ADS_1


__ADS_2