Legend Of Lyan 2

Legend Of Lyan 2
Menuju Benua Terang


__ADS_3

Sementara Raysmith dan Ursula telah menceritakan pada Lyan beberapa hari lalu mengenai gelagat aneh kaisar belakangan ini saat mereka mengunjungi istana kerajaan. Karena masih ingat perkataan Jenderal Iblis dan Komandan Elang yang tidak mengingat apapun yang terjadi saat kaisar menaklukkan mereka, Ursula dan Raysmith memutuskan untuk tetap berada di Benua Gelap agar dapat menyelidiki apa yang disembunyikan oleh sang kaisar.


Master Gyo sendiri sejak pagi sudah menghilang saat Lyan hendak menemuinya pagi tadi. Lyan bisa mendeteksi keberadaan gurunya itu sekarang, namun ia rasa tidak dapat menemaninya kini sebab ada urusan yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Maka dari itu ia meminta Light untuk menemaninya.


“Kami akan berangkat sekarang,” ucap Lyan.


Light mengangguk pelan. “Hati-hati.”


Raysmith dan Ursula melambaikan tangannya saat Lyan dan rekan-rekannya terbang meninggalkan mereka. “Jaga diri baik-baik.”


Lyan membawa mereka terbang ke Bukit Angin. Yuna, Carera, White dan Snow sedikit bingung kenapa Lyan malah membawa mereka berhenti di sana.


“Ada apa, Lyan?” tanya Yuna. “Bukankah kau bilang kita harus cepat pergi ke Benua Terang?”


“Ah, iya, sebentar lagi kita akan segera ke sana.”


White yang berwujud kucing kecil sekarang melompat ke atas kepala Lyan. “Apa yang akan kau lakukan di sini, Lyan?”


“Aku ingin memanggil seseorang yang akan membawa kita tiba di Benua Terang lebih cepat,” sahut Lyan.


“Siapa memangnya? Bagaimana orang itu bisa mengantar kita lebih cepat ke sana?” tanya Snow yang baru berada di pundak Lyan.


Lyan tersenyum tipis pada Snow sebelum memandang ke langit. “Lilith, keluarlah.”


Pada saat itu juga dari ruang kosong muncul seorang wanita cantik yang memiliki dua sayap hitam. Aura yang dipancarkan sungguh luar biasa kuat, membuat Carera, White dan Snow terkejut secara serempak.


Yuna tidak kalah kaget karena dia tahu itu adalah iblis yang membantu mereka melepas kutukan Astaroth di Benua Cahaya. “I-Iblis waktu itu?!”


“Dia iblis yang ada di Benua Cahaya?” tebak Carera ya yang ada di samping Yuna. Ia ingat Lyan pernah menceritakan tentang iblis yang telah membantu mereka melepaskan kutukan yang telah mengikat Penduduk Benua Cahaya.


Yuna mengangguk pelan dengan wajah cemas. “Iya,’ jawabnya sebelum memandang ke arah Lyan. “Ba-Bagaimana dia bisa ada di sini, Lyan?”


Entah kenapa setelah melihat kemunculan Lilith di hadapan mereka sekarang, Yuna merasa tidak nyaman. Ia berharap iblis wanita itu tidak memiliki niat buruk pada mereka.

__ADS_1


Lyan terdiam beberapa saat. Semula ia ingin memberi penjelasan, namun karena tidak tahu harus memulai darimana, ia pun mengurungkan niatnya. Mungkin sebaiknya nanti ia ceritakan pelan-pelan selagi berada di Benua Terang.


“Tidak perlu khawatir. Lilith sekarang berada dipihak kita.” Lyan memutuskan untuk menjawab demikian sebelum memandang ke arah iblis wanita itu. “Antar kami pergi ke Benua Terang sekarang juga, Lilith.”


“Baik, Tu-Tuan,” sahut Lilith sambil menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat.


‘Tu-Tuan?’ Yuna dan lainnya membatin serempak dengan ekspresi terkejut saat mendengar Lilith memanggil Lyan dengan sebutan tuan. Bagaimana mungkin seorang iblis yang kuat seperti Lilith bisa memanggil Lyan dengan sebutan seperti itu? Pikir mereka demikian.


Lilith lalu menciptakan gelembung transparan besar yang menutupi mereka semua. “Tutup mata kalian. Karena ini pengalaman pertama kalian melakukan teleportasi instan … Mungkin akan sedikit terasa pusing dan mual,” ucap Lilith dengan ekspresi dingin pada rekan-rekan Lyan.


Saat matanya tertuju pada Lyan, ekspresinya sedikit berubah. “Tu-Tuan, agar tidak mengalami hal demikian. Mungkin kau bisa ….”


Ia sengaja memberi jeda, ingin melihat reaksi Lyan terlebih dahulu.


“Bisa apa, Lilith?” Lyan mengerutkan dahinya.


Ia pun melanjutkan kata-katanya yang sempat terjeda. “Kau bisa melingkarkan tanganmu di pinggangku, Tu-Tuan.”


Lyan segera mendekap pinggang Lilith tanpa memikirkan hal aneh apapun. “Begini?”


Dekapan hangat pemuda itu membuat jantung Lilith berdetak kencang. Ia segera melarikan pandangan ke bawah untuk menutupi wajahnya yang mulai merona.


Sebenarnya gejala pusing atau mual itu hanya akan terjadi pada rekan-rekan Lyan. Namun gejala itu tidak akan berlaku bagi Lyan yang telah menjadi seorang Xora.


Lilith sengaja meminta Lyan mendekapnya hanya untuk keinginan pribadinya. Entah kenapa sejak mendengar Lyan berkata akan melindunginya kemarin, ia jadi terus memikirkan pemuda itu. Melihat Lyan hari ini saja sebenarnya sudah membuat Lilith senang. Namun ia ingin mendapatkan perasaan yang lebih dari ini. Berhubung ada kesempatan, ia coba-coba memanfaatkan situasi ini agar dapat lebih dekat dengan Lyan. Siapa sangka akan berjalan sesuai dengan rencana, ia benar-benar sangat bahagia sekarang.


Sedangkan melihat Lyan terlalu menempel dengan Lilith membuat Yuna menggigit bibirnya kesal. Ia merasa ada yang tidak beres dan yakin kalau apa yang dikatakan iblis itu semuanya bohong. Ia merasa tidak dapat membiarkannya meskipun tahu wanita itu adalah seorang iblis.


Saat Lilith ingin coba-coba melingkarkan tangannya di leher Lyan, Yuna tiba-tiba saja mendekap pemuda itu dengan erat dari belakang. “Kalau aku begini, aku juga tidak akan mengalami gejala pusing atau mual, kan?” tanya Yuna sambil menatap Lilith tajam.


Lilith mengurungkan niatnya untuk membalas dekapan Lyan. Kebahagiaannya runtuh saat itu juga melihat Yuna dengan beraninya memeluk erat pemuda itu. Ia merasa sangat marah dan membalas tatapan tajam Yuna. “Kau ini….”


“Aku juga kalau begitu!” Carera yang tidak memahami situasi langsung memeluk Lyan dan Yuna bersamaan dari samping.

__ADS_1


White dan Snow juga melakukan hal sama, mereka menempel erat di sekitar tubuh Lyan.


Lilith merapatkan giginya geram melihat mereka semua.


Sementara Lyan mengerutkan dahi, bingung dengan ekspresi Lilith. “Ada apa, Lilith?”


Suara Lyan meredakan amarah Lilith. Ia kembali melarikan pandangannya ke bawah, tidak kuat bertatapan dengan wajah Lyan yang terlalu dekat dengannya. “Ti-Tidak apa, Tu-Tuan.”


“Ayo kita pergi sekarang, Lilith.” Lyan mengeratkan dekapannya, membuat Lilith merinding dan jantungnya kembali berdebar-debar saat itu juga.


“Ba-Ba-Baik, Tu-Tuan.”


Lilith memandang semua rekan-rekan Lyan dengan tatapan tidak senang. “Tutup mata kalian!” suaranya terdengar tinggi seperti orang membentak.


Mereka pun menurutinya dengan heran sebab kenapa iblis itu seperti sedang memarahi mereka.


Sementara Yuna yang ikut menutup mata tersenyum karena tahu Lilith marah karena mereka telah mengganggu kesenangannya.


Lalu ekspresinya berubah secara drastis saat tatapannya beralih pada Lyan. “Tu-Tutup matamu, Tu-Tuan.”


Lyan mengangguk pelan dan segera menutup matanya.


Saat melihat mereka semua sudah menutup mata, Lilith kemudian menjentikkan jarinya, mereka semua secara perlahan menghilang dari sana.


*****



Ilustrasi : White



Ilustrasi : Snow

__ADS_1



Ilustrasi : Carera


__ADS_2