
Sebelum Lilith bertemu dengan Lyan, ia datang ke Benua Terang terlebih dahulu. Tepatnya di ujung lautan Benua Terang yang membatasi benua itu dengan Benua Cahaya, Lilith melayang di sana.
Dengan wajah dingin, ia menjulurkan tangannya ke depan. Sebuah bola transparan muncul di telapak tangannya, didalam bola itu tampak berisi serbuk putih berkilau. Ia kemudian merapal mantera untuk melenyapkan bola transparan yang sejatinya merupakan sebuah segel. Ketika bola transparan menghilang, serbuk berkilau yang semula berada di dalamnya bertaburan di telapak tangan Lilith.
Lilith memandang serbuk itu sambil tersenyum dingin, ia lalu menebarnya ke laut. Tampak sesaat lautan mengeluarkan cahaya berkilau.
‘Dengan ini Adola akan lahir.’
Lilith menyeringai, tidak lama kemudian ia pergi meninggalkan tempat tersebut.
Selang beberapa saat setelah kepergian Lilith, serbuk putih yang tersebar di lautan itu tiba-tiba bergerak dan berkumpul kembali menjadi satu. Seakan hidup, kumpulan serbuk itu bergerak di dalam laut, melewati ratusan ribu kepompong yang berisi monster di dalamnya.
Kumpulan serbuk putih terus bergerak turun di dalam laut hingga akhirnya menempel pada salah satu kepompong yang ukurannya lebih kecil dari yang lain. Kepompong itu tiba-tiba mengeluarkan cahaya putih, suara gema terdengar saat cahaya yang menyinari kepompong itu meredup.
“A … do … la ….”
*****
Setelah beberapa hari terus bergerak menumpas monster laut, Jenderal Besar Oliver akhirnya berhasil menumpas semua monster di wilayah utara hingga sampai di ujung benua. Para pasukan yang telah mengikutinya berhari-hari menghela napas lega dan masing-masing menjatuhkan diri ke permukaan tanah, sebab selama mengikuti Jenderal Besar Oliver mereka hanya beristirahat sebentar saja.
Meskipun telah menumpas semua monster, Jenderal Besar Oliver masih merasa khawatir. Sebab mereka masih belum menemukan sumber penyebab kemunculan monster, bisa saja nanti monster-monster itu akan muncul kembali dan merepotkan mereka semua.
Jenderal Besar Oliver bertopang dagu sambil memandang ke arah laut. Terpikirkan olehnya untuk memeriksa ke dalam sana.
“Veve, istirahatlah bersama mereka. Kau juga pasti lelah akibat mengikutiku selama beberapa hari ini.” Jenderal Besar Oliver bisa melihat panda bertaringnya, Veve, yang sedang menggendong kucing hitam itu napasnya tidak beraturan. Meskipun lebih kuat dari para prajurit, Veve adalah hewan buas iblis yang kerjaannya kebanyakan makan dan bermalas-malasan. Jenderal Besar Oliver tidak heran kalau fisiknya cepat terkuras saat mengikutinya saat ini.
Veve menggeleng kepala, lalu melompat-lompat.
“Kau yakin ingin tetap mengikutiku? Rencananya aku akan menyelam ke dalam laut sekarang.”
__ADS_1
Veve menggaruk pipinya dengan mulut sedikit terbuka. Tidak lama kemudian ia menunjuk-nunjuk Young, kucing hitam yang ada dalam pelukannya.
Jenderal Besar Oliver tersenyum tipis. “Iya, aku sudah bilang kau istirahat saja sambil menjaga Young.”
Veve mengangkat-angkat pundaknya.
“Tidak perlu khawatir, aku hanya ingin memeriksa keadaan di dalam sana.”
Veve mengangguk pelan sebelum berlari pelan menuju ke tempat para prajurit.
Jenderal Besar Oliver lalu menyelam ke dalam laut. Ketika ia melesat turun lebih dalam, ia sedikit terkejut ketika menemukan banyak kepompong yang kondisinya robek dan berlubang.
‘Monster-monster itu … Semuanya berasal dari kepompong? Darimana datangnya semua kepompong ini?’
Jenderal Besar Oliver turun lebih dalam lagi. Kali ini iya menemukan banyak kepompong yang keadaannya masih utuh. Ia bisa menduga dalam setiap kepompong berisi monster lau, membuktikan kekhawatirannya benar kalau mereka belum menumpas semua monster.
‘Aku harus membersihkan semuanya.’
Jenderal Besar Oliver menembakkan cahaya putih dari telapak tangannya, alangkah terkejutnya ia saat melihat serangannya lenyap saat menyentuh kepompong. Padahal saat ia gunakan serangannya itu saat menghadapi monster laut di daratan tadi, ia dapat membunuh ratusan monster sekaligus.
Jenderal Besar Oliver merasa buruk. Ia berpikir jangan-jangan monster yang masih berada dalam kepompong itu berada di level yang mengerikan dan sulit dikalahkan. Akan sangat berbahaya andai mereka berhasil keluar dari sana. Ia pun mengerahkan serangan yang lebih kuat.
Serangannya kali ini berhasil menghancurkan banyak kepompong, monster-monster di dalamnya tampak berjatuhan dengan bentuk tubuh yang tidak sempurna.
Awalnya Jenderal Besar Oliver tidak merasa ada yang aneh. Ia terus menghancurkan setiap kepompong yang ia temukan.
Semakin turun ke dalam, jumlah kepompong yang tersisa semakin sedikit. Namun, ketenangan Jenderal Besar Oliver runtuh saat itu juga saat menemukan bangkai-bangkai monster yang terbunuh saat masih berada dalam kepompong tadi, semuanya menempel membentuk bola besar.
‘Apa-apaan ini….’
__ADS_1
Jenderal Besar Oliver merasakan firasat buruk. Dengan segera ia mengerahkan serangan kuat ke arah bola besar yang terbentuk dari bangkai para monster.
Serangannya berhasil membuat bangkai monster semakin hancur, namun mereka masih menempel di sana.
Sejak menumpas monster lautan Jenderal Besar Oliver sudah sadar serangan seperti ini tidak akan dapat melenyapkan monster itu hingga tersisa. Ia selama ini menahan kekuatannya karena berpikir jumlah monster begitu banyak dan tidak tahu apa yang akan menunggunya di depan sana. Sekarang ia merasa sudah saatnya untuk mengerahkan seluruh kekuatan yang dapat melenyapkan kumpulan bangkai yang membentuk bola raksasa itu.
Tubuh Jenderal Besar Oliver mulai mengeluarkan percikan listrik. Saat tangan kanannya yang terkepal terangkat ke atas, kepalan tangan petir yang ukurannya lebih besar dari bola raksasa itu muncul di atasnya.
“Tinju Dewa Petir!”
Kepalan tinju itu melesat cepat ke arah bola raksasa saat Jenderal Besar Oliver mengayunkan tangannya ke bawah, menghantam bola raksasa dengan telak.
Akhirnya semua bangkai itu menjadi gumpalan daging dan terpisah, tetapi itu tidak membuat Jenderal Besar Oliver merasa lega, sebab setelah gumpalan daging itu terpisah, ia melihat satu kepompong putih yang memberikan perasaan buruk di sana. Sebab ia bisa melihat jelas kalau gumpalan daging yang berserakan di dekat kepompong itu terhisap masuk ke dalamnya.
“A … do … la….”
Jenderal Besar Oliver tersentak saat mendengar suara keluar dari dalam kepompong. Ia segera menyilangkan kedua tangannya. Selain tubuhnya yang kembali memercikkan listrik, kali ini matanya berubah menjadi biru penuh.
Tidak lama berselang sosok raksasa yang seluruh tubuhnya dibaluti listrik muncul di belakangnya.
“Tahap Kuasa, Amukan Iblis Petir!”
Sosok itu melesat maju ke tempat kepompong dan menghantam kepompong itu dengan kedua tapaknya.
BLAAAR!
Napas Jenderal Besar Oliver sedikit tertahan saat melihat serangannya barusan hanya berhasil membuat kepompong itu retak. Perasaannya semakin memburuk sebab setelah kepompong itu retak, ribuan gumpalan daging yang berserakan di lautan dengan cepat terhisap ke dalamnya. Hanya dalam hitungan detik saja, ribuan gumpalan daging itu terhisap semuanya.
KRAAAK!
__ADS_1
Kepompong itu mulai mengeluarkan bunyi, retakannya semakin besar. Lalu mulai terlihat satu tangan putih melambai keluar dari kepompong.
“A … do … la!”