
Lyan terhenti di samping Jenderal Felline yang sedang duduk. Ia mengatur napas sejenak untuk mengurangi rasa tegangnya.
“Em, Jenderal Felline,” panggil Lyan.
Jenderal Felline tersadar dari lamunan sembari menoleh ke arah pemuda itu. “Ah, Lyan ….”
“Boleh aku bergabung denganmu?”
Jenderal Felline sedikit gugup. “Bo-Boleh.”
Lyan pun segera duduk di sampingnya.
Jenderal Felline bertanya-tanya dalam hati apa sebaiknya ia tanyakan saja mengenai hubungan pemuda itu dengan Yuna? Hanya saja rasa gugupnya semakin besar saat menatap wajah pemuda itu sehingga ia tidak sanggup melakukannya.
“Anu …” Lyan memandang ke arah wanita itu. “Aku ingin minta maaf padamu, Jenderal.”
Jenderal Felline balas menatapnya. “Minta maaf?”
“Em, maksudku … Bulan malam ini bersinar dengan indah, ya! Kenapa kau tidak mengajakku menikmatinya bersamamu, Jenderal?” Lyan menggaruk kepalanya sembari tertawa.
“Ma-Maaf, aku tidak tahu kalau kau juga menyukainya.”
“Tidak apa-apa, kau tidak perlu minta maaf, Jenderal,” ucap Lyan sambil melambai-lambaikan tangannya. “Omong-omong, daripada hanya menghabiskan malam ini dengan menyaksikan bulan saja, bagaimana kalau kita juga melakukan sebuah permainan?”
“Permainan?”
Lyan menggaruk pipinya. “Ya, permainan seperti tebak-tebakan mungkin?”
Jenderal Felline menggangguk pelan sembari tersenyum. “Boleh.”
“Nah, baiklah, karena kau sudah setuju, akan kumulai dengan pertanyaan pertama,” ucap Lyan dengan raut serius. “Kenapa matahari bisa tenggelam?”
Jenderal Felline bertopang dagu, berpikir keras untuk menjawabnya. Selang beberapa saat ia menghela napas panjang sebab tidak dapat menemukan jawaban dari pertanyaan tersebut. “Aku menyerah.”
“Kau ingin tahu jawabannya?”
Jenderal Felline menggangguk cepat.
__ADS_1
“Karena matahari tidak bisa berenang. Hahaha!” Lyan tertawa lepas.
Sementara Jenderal Felline hanya menggaruk-garuk keningnya, sebab ia tidak dapat menemukan hal lucu dari jawaban tersebut.
“Ada apa denganmu, Jenderal? Bukankah itu lucu?”
“Ah, iya! Itu sangat lucu.” Jenderal Felline memaksakan diri untuk tertawa.
Usai puas tertawa, Lyan Kembali mengajukan pertanyaan berikutnya. “Baiklah, yang berikutnya … Kenapa air laut rasanya asin?”
Jenderal Felline Kembali berpikir keras namun lagi-lagi iya tidak dapat menemukan jawabannya. “Aku tidak tahu.”
“Karena ikan-ikannya pada keringatan. Hahaha!” Lyan Kembali tertawa terbahak-bahak.
Jenderal Felline hanya melongo. Ia benar-benar tidak paham kenapa pemuda itu bisa tertawa sampai terpingkal-pingkal hanya karena tebak-tebakan yang tidak lucu sama sekali menurutnya.
Akan tetapi saat pandangan Lyan terarah padanya, ia kembali memaksakan diri untuk tertawa.
“Nah, untuk pertanyaan terakhir … Yang ditembak udara, tetapi yang kena hidung. Menurutmu apa itu, Jenderal?”
Jenderal Felline memijat kepalanya, ia mulai merasa pusing karena lagi-lagi tidak dapat menemukan jawaban dari pertanyaan Lyan.
Lyan tersenyum melihat tingkah Jenderal Felline. “Bagaimana, Jenderal? Apa kau ingin menyerah saja seperti sebelumnya?”
“Tidak, beri aku waktu lima menit lagi.”
Setelah lima menit berlalu, Lyan bisa melihat Jenderal Felline menghela napas panjang. “Waktunya habis, Jenderal. Sepertinya kau tetap tidak bisa menemukan jawabannya.”
Jenderal Felline hanya menggangguk pelan dengan ekspresi lesu. Ia merasa kecewa pada dirinya sendiri yang tetap tidak bisa menebak pertanyaan terakhir Lyan.
“Kalau begitu aku akan memberitahukan jawabannya padamu. Yang ditembak udara, tetapi yang kena hidung itu sebenarnya adalah kentut! Hahaha!”
Jenderal Felline kali ini hanya menunjukkan ekspresi datar saja saat melihat pemuda itu kembali tertawa lepas. Tidak lama berselang ia mulai menyadari sebenarnya pemuda itu saat ini sedang berusaha menghibur dirinya dengan lelucon aneh. Akhirnya ia pun tertawa pelan.
“Terima kasih, Lyan. Aku merasa lebih baik sekarang.” Jenderal Felline tersenyum tipis.
“Baguslah. Aku senang mendengarnya.” Lyan membalas senyuman wanita itu.
__ADS_1
Jenderal Felline kemudian memandang bulan sambil menghirup udara segar. Rasa gugup yang semula ia rasakan kini telah lenyap sehingga ia dapat berbicara santai dengan Lyan sekarang.
“Omong-omong … Ada yang ingin kutanyakan padamu. Apa kau bersedia menjawabnya?”
Lyan mengangguk pelan. “Tentu saja.”
“Apa Yuna benar-benar calon istrimu?”
“Bukan, Yuna bukan calon istriku,” jawab Lyan. “Aku semula juga tidak menyangka dia akan mengatakan itu di depan umum, tetapi aku baru sadar dia sengaja melakukannya untuk menghentikan kesalahpahaman yang terus berlanjut.”
“Kesalahpahaman?”
Lyan segera berdiri lalu membungkukkan badan di hadapan Jenderal Felline.
“Eh? Apa yang kau lakukan?” Jenderal Felline terkejut dan segera berdiri.
“Sebelumnya aku ingin minta maaf sebesar-besarnya padamu, Jenderal,” ucap Lyan yang masih membungkukkan badannya. “Masalah aku membiarkan pasukanmu memanggilku kakak ipar serta aku yang juga memanggil mereka dengan sebutan adik ipar … Selama ini sebenarnya aku salah paham menangkap arti dari panggilan itu. Aku minta maaf karena kebodohanku, aku membuat semuanya jadi salah paham, termasuk dirimu, Jenderal.”
Jenderal Felline tersenyum pahit sebab ia tahu arti dari perkataan Lyan barusan sama saja dengan menolak pernyataan cintanya. Hatinya terasa perih namun ia berusaha untuk menyembunyikannya.
“Kau tidak salah sepenuhnya, Lyan. Aku juga bersalah karena tidak memastikan perasaanmu kepadaku terlebih dulu.”
Lyan mengangkat kepalanya, memandang wanita itu. “Tidak, bagaimana mungkin kau bisa memastikannya? Semua kesalahpahaman ini jelas akan membuat semua orang mengira kalau aku menaruh perasaan pada….”
“Itu bukan masalah besar.” Jenderal Felline dengan cepat menyela, ”Aku rasa kau tidak perlu terlalu memikirkannya sehingga jadi terus merasa bersalah padaku, Lyan.” Ia tersenyum tipis. “Jika kau terus seperti itu … Aku juga akan merasa semakin bersalah padamu.”
“Dan sejujurnya aku malah merasa harus berterima kasih padamu karena telah memberikan kejelasan seperti ini. Mengenai hubunganmu dengan Yuna … Mengenai bagaimana perasaanmu terhadapku … Sebenarnya semua itu adalah hal yang ingin aku ketahui darimu. Perasaanku jadi lega setelah mendengar semuanya. Aku juga merasa baik-baik saja sekarang … Jadi aku harap kau segera melupakan masalah ini.”
Jenderal Felline tersenyum lebar, sementara Lyan hanya menatapnya dengan ekspresi datar.
“Em, sebaiknya kau segera istirahat karena esok kita harus mengurus monster laut, Lyan. Aku juga ingin istirahat agar bisa bangun lebih awal. Jadi … Kita harus mengakhiri pembicaraan ini sekarang. Selamat malam, Lyan,” ucap Jenderal Felline sambil melambaikan tangannya.
Sebelum Jenderal Felline beranjak pergi meninggalkan tempat, Lyan segera menarik pergelangan tangan wanita itu. “Jangan berbohong padaku, Jenderal. Katakan sejujurnya apa yang sebenarnya ingin kau ucapkan padaku sekarang. Jika kau tidak melakukannya, maka aku tidak akan membiarkanmu pergi sebelum kau mengutarakan semua isi hatimu padaku.”
*****
Sorry baru bisa update. Kuusahakan akan ada update lagi nanti.
__ADS_1