
Setelah keluar dari bumi, pada saat itu juga Lyan terlepas dari Hukum Gaia yang telah mengekangnya selama ini. Alhasil, ia memperoleh kekuatan sejatinya serta membangkitkan Kesadaran Keduanya kembali.
Saat Kesadaran Kedua Lyan bangkit, dalam kepalanya tiba-tiba muncul tulisan-tulisan asing yang tak terhitung jumlahnya. Itu berjalan dengan sangat cepat. Dan, saat Kesadaran Kedua berhasil menyerap semua tulisan itu, ia pun memperoleh pencerahan tertinggi.
Setelah itu, dari dalam diri Lyan, Kesadaran Kedua bisa merasakan kekuatan Adola sangat besar, bahkan melampaui kekuatan Lyan saat ini.
Meskipun begitu, Kesadaran Kedua tak merasa gentar sedikitpun. Dengan pencerahan yang telah ia peroleh, ia yakin dengan bekerja sama dengan Lyan, mereka dapat mengalahkan sosok seperti Adola.
Sama dengan apa yang dirasakan Kesadaran Kedua, Lyan tak merasa Adola menakutkan seperti saat menghadapinya di bumi. Ia pun mengikuti saran Kesadaran Keduanya untuk mengatasi Adola seorang diri.
Dan saat Lyan melesat maju sambil melepas satu pukulan. Dari dalam diri Lyan, Kesadaran Kedua mengerahkan kemampuannya yang ia peroleh barusan untuk mengembangkan potensi Lyan. Dan hasilnya...
BLAAAR!
Secara mengejutkan pukulan Luan berhasil melubangi tubuh Adola. Bahkan gelombang energinya membuat alam semesta bergetar sesaat.
Lilith yang menyaksikan tidak dapat menahan keterkejutannya. Adola memang dalam masa beradaptasi dengan alam semesta, tetapi bukan berarti seseorang dapat melubangi tubuhnya dengan mudah.
“ADOLAAA!”
Seruan Adola membuat Lyan terseret cukup jauh. Tidak lama kemudian Lyan melihat serpihan-serpihan planet yang hancur di sekitarnya melaju dengan cepat ke arah Adola. Serpihan-serpihan itu berkumpul di atas tangan Adola yang terangkat, berputar dengan cepat dan membentuk sebuah planet yang sangat besar hingga Adola dan Lyan terlihat seperti butiran debu.
“ADOLAAA!”
Adola melempar planet itu ke arah Lyan. Lyan dengan cepat menahan dengan kedua tangannya. Meskipun berhasil menahan, Lyan terseret dengan cepat di angkasa.
‘Bertahanlah sebentar. Aku akan pergi ke Ruang Kesunyian untuk mempelajari semua pemahaman yang kuperoleh saat aku bangkit barusan. Kuyakin ini akan sangat membantu kita untuk mengalahkan makhluk ini!’ Kesadaran Kedua berbicara pada Lyan.
‘Baiklah! Aku percayakan padamu!’ sahut Lyan.
“GRAAARGH!”
__ADS_1
Dengan sekuat tenaga Lyan mengerahkan kemampuannya untuk menahan laju planet itu, alhasil ia berhasil menghentikannya.
Belum sempat mengambil napas, Adola kembali menciptakan satu planet dari serpihan-serpihan itu. Ukurannya bahkan jauh lebih besar dari sebelumnya.
“ADOLAAAA!”
BLAAASH!
Planet yang baru saja dilempar Adola membentur planet yang baru saja ditahan oleh Lyan, menghasilkan dorongan yang lebih kuat sehingga Lyan kembali terseret dengan cepat.
Lyan merapatkan giginya, tangan kanannya yang terkepal ia ayunkan sekuat tenaga menghantam planet yang mendorongnya. Dan hasilnya...
BLAAAR!
Dalam sekejap ia berhasil melubangi dua planet yang terus mendorongnya itu sebelum berubah kembali menjadi serpihan.
Di tengah kepulan asap di hadapannya, Adola tiba-tiba saja melesat keluar sambil menyeringai.
“ADOLAAA!”
Ini lebih berbahaya daripada serangan sebelumnya. Serangan yang tak bisa dihindari. Jika menahannya, maka berpotensi terluka parah.
Akhirnya Lyan memutuskan untuk membalas serangan tersebut.
“GRAAARGH!’
BLAAAR!
BLAAAR!
BLAAAR!
__ADS_1
Kedua tinju mereka yang bertemu itu menghasilkan gelombang kejut maha dahsyat, membuat beberapa planet di sekitar mereka kembali hancur. Alam semesta sekali lagi bergetar akibat benturan dua kekuatan dahsyat itu.
Awalnya kekuatan mereka seimbang. Namun itu hanya bertahan beberapa saat sebelum sekumpulan serpihan planet yang hancur melesat masuk ke punggung Adola.
Dan, tubuh Adola tiba-tiba mengeluarkan cahaya yang menyilaukan sebelum disusul ledakan maha dahsyat.
BLAAAR!
Ledakan dahsyat itu membuat Lyan terpental hingga menabrak belasan planet. Saat Lyan mendapatkan kembali keseimbangannya, ia segera melaju ke tempat Adola berada.
Kepulan asap yang menyelimuti Adola menipis, Lyan bisa melihat sosok gelap dengan sorot mata ungu menyeringai secara mengerikan.
‘Si-Sial... Ini buruk. Adola telah berhasil beradaptasi dengan alam semesta sepenuhnya.’ Lilith membatin dengan cemas. ‘Rasanya sulit untuk mengalahkannya sekarang meskipun aku ikut membantu.’
Lalu Lilith mengarahkan pandangannya pada Lyan. Ia bisa melihat raut wajah pemuda itu tetap tenang meskipun kekuatan Adola telah meningkat begitu pesat. ‘Aku tidak tahu berasal dari mana kepercayaan dirinya. Tapi berkat itu aku jadi merasa ia dapat mengatasi Adola.’
Lilith menghela napas sebelum tersenyum tipis. ‘Sepertinya aku harus coba mempercayakan semua ini padanya.’
Saat sosok itu, Adola, membuka kedua matanya lebih besar, Lyan merasa dirinya seolah terhisap ke dalamnya.
‘Hei, sadarlah! Aku sudah kembali dari Ruang Kesunyian.’
Mendengar teriakan Kesadaran Kedua, Lyan segera memukul kedua pipinya agar terlepas dari tekanan yang berasal dari tatapan Adola.
‘Bagus! Kau berhasil di saat yang tepat. Sekarang berikan semua pemahaman yang telah kau pelajari padaku.’
‘Tentu, akan kuberikan sekarang!’
__ADS_1
Kesadaran Kedua berbagi semua pemahaman yang ia peroleh pada Lyan sehingga dalam kepala pemuda itu mulai dihujani tulisan demi tulisan asing yang tak terhitung jumlahnya, membuat jiwanya bergelora. Seluruh tubuhnya diselimuti oleh cahaya yang amat menyilaukan hingga membuat alam semesta yang semula gelap menjadi terang sesaat. Sensasi dahsyat itu juga membuat dirinya tak dapat menahan diri untuk berseru dengan keras. Menghasilkan tekanan luar biasa yang membuat Lilith terkejut bukan main.
“GRAAARGH!”