
Sementara Lilith yang menyaksikan dari balik dimensi terkejut bukan main saat melihat Endless terluka parah. ‘Seorang manusia dapat membuat Endless seperti itu?!’
Lilith merasa takjub karena Lyan yang telah dia remehkan sebelumnya ternyata dapat menghajar Endless hingga babak belur. Tidak terbayangkan olehnya kalau pemuda itu begitu kuat hingga dapat melakukan hal luar biasa semacam itu.
‘Manusia itu tidak terluka parah tetapi kondisinya seperti kehilangan kekuatan. Endless pasti menyalurkan kekuatan pada Dewa Iblis Atem sehingga dia dapat menggunakan Great Blessing-nya.’
Melihat Lyan berusaha bangkit dengan susah payah, Lilith yakin pemuda itu bukan kalah dari Endless, tetapi karena Laxus mengganggu di tengah pertarungan. Semua itu jelas terlihat dari Laxus yang rohnya hanya tersisa bagian atas saja. ‘Menggunakan Great Blessing dalam wujud roh lemah seperti itu … ternyata bayarannya cukup besar.’
Lilith tersenyum dingin melihat roh Laxus terus terkelupas secara perlahan. Ia merasa harus segera menghabisi Laxus dan Endless sekarang selagi ada kesempatan.
Saat Lilith ingin menggunakan telepati untuk meminta izin Lyan, ia mendengar Laxus seperti berbicara dengan seseorang.
“Sampai kapan kau mau terus melihat?”
Suara seseorang mulai terdengar menggema.
“Iblis wanita itu masih memilih untuk terus mengawasi, Dewa Iblis. Aku berencana keluar saat dia menunjukkan dirinya.” Suara tawa sosok itu terdengar menggema.
Lilith yang sejak semula tidak merasakan aura kehadiran siapapun menahan napasnya. Sudah jelas iblis wanita yang dimaksud oleh sosok itu adalah dirinya. ‘Siapa itu?!’
Lyan merapatkan giginya. Ia tidak menyangka ada sosok lain yang diam-diam mengawasi mereka sejak tadi. Jika ada sosok lain yang terlibat sekarang akan membuat semuanya menjadi semakin rumit sebab kekuatannya hingga saat ini belum juga kembali. ‘Sial … sampai kapan kondisi tubuhku akan terus begini?!’
Laxus tersenyum dingin. “Bukan saatnya bermain-main sekarang. Keluarlah. Jika perlu bunuh iblis itu kalau dia berani mengganggu.”
__ADS_1
Sosok yang ditutupi kabut hitam muncul di samping Laxus. Lyan dan Lilith tidak bisa menebak siapa itu, tetapi melihatnya memiliki kemampuan menutupi diri dalam kabut dan memancarkan cahaya agung, mereka bisa menebak sosok itu adalah salah satu Iblis Dosa.
‘Ba-Bagaimana mungkin Iblis Dosa terlibat dalam masalah ini?!’ Napas Lilith kembali tertahan. Ia benar-benar tidak menyangka ada Iblis Dosa yang berada dipihak Dewa Iblis Atem.
Semua Iblis Dosa memancarkan aura yang sama, sehingga Lilith benar-benar tidak dapat menebak siapa Iblis Dosa yang menutupi dirinya dengan kabut itu.
Sosok itu kembali berbicara, menjawab perkataan Laxus. “Ah, baiklah, aku akan segera membunuh—”
“Jangan!” seru Lyan. “Dia tidak ada urusannya dengan masalah ini!”
Sosok yang tertutupi kabut itu tertawa pelan. “Bagaimana, Dewa Iblis? Apa aku harus menurutimu atau mendengarkan perkataan manusia ini?”
“Aku hanya memintamu untuk membunuhnya jika dia berani mengganggu. Biarkan saja kalau dia hanya mengamati.”
“Tapi jika dia melaporkan masalah ini pada Iblis Dosa lain, maka kita akan repot ke depannya.”
Lyan cepat-cepat menyela, “Aku berjanji tidak akan membiarkannya buka mulut dalam masalah ini! Jadi jangan sangkut pautkan dia dalam urusan kita!”
Laxus menyeringai melihat Lyan terus bersikeras menyelamatkan Lilith. “Lyan, apa kau tidak sadar dengan posisimu sekarang? Kau pikir aku akan mendengarkanmu?”
“Aku mohon, Sesepuh….” Lyan berjalan sempoyongan sebelum bersujud di hadapan Laxus. “Aku mohon … jangan libatkan orang lain dalam urusan kita.”
Lilith yang menyaksikannya merasa marah. Ia tidak mau melihat Lyan berlutut memohon demi dirinya. Ia segera mengirim telepati pada Lyan. ‘Apa yang sedang kau lakukan?! Apa kau pikir aku….’
__ADS_1
‘Diam! Dan jangan lakukan apapun!’
Lilith merapatkan giginya geram. Ia hanya bisa menahan kekesalannya melihat seorang manusia memohon agar iblis sepertinya dibiarkan hidup. Lucifer yang selama ini dia layani saja tidak pernah melakukan hal seperti itu untuk dirinya.
Melihat Lyan sampai berlutut memohon agar mereka tidak membunuh Lilith, Laxus yang semula menatap dingin akhirnya tertawa lepas.
“Baiklah, Lyan. Karena iblis itu sepertinya cukup penting bagimu, maka aku akan membiarkannya kali ini. Aku berencana untuk meminta iblis yang mengikutimu melakukan sumpah darah, tetapi kurasa akan lebih menarik jika kau yang melakukan sumpah darah itu. Jadi, jika iblis itu melaporkan masalah ini pada Iblis Dosa lain … kau akan segera mati, Lyan. Apa kau setuju?” Laxus menyeringai sambil memberi isyarat pada sosok yang berada dalam kabut. Beberapa saat kemudian sebuah cawan kecil muncul di hadapan Lyan.
Lilith tersenyum dingin. Ia berpikir Lyan tidak mungkin sudi melakukan sumpah darah yang tidak menguntungkan dirinya sama sekali. Ia juga merasa cukup lega karena tidak perlu merasa berhutang budi pada manusia itu jadinya. Namun, di luar perkiraaannya, Lyan malah meneteskan darahnya di atas cawan itu. ‘A-Apa….’
Laxus kembali tertawa lepas. Iblis Dosa yang bersembunyi di balik kabut juga ikut tertawa karena melihat ada manusia yang rela melakukan sumpah darah untuk seorang iblis.
“Ini baru menyenangkan! Aku jadi merasa tidak sia-sia membiarkanmu hidup, Lyan! Aku akan menikmati perjalananmu dengan iblis itu ke depannya karena penasaran apa dia akan mengkhianatimu atau tidak. Ah, aku sungguh ingin mengetahui hasil akhirnya.” Roh Laxus yang terus terkelupas hingga menyisakan tangan dan kepala saja itu tersenyum lebar.
Tidak lama kemudian dari tangannya keluar sebuah bola putih yang perlahan bergerak ke hadapan Lyan yang masih bersujud.
“Saat aku bangkit nanti, aku ingin kau menjadi salah satu yang dapat menghiburku selain Gaia. Gunakan pemahaman itu dan pelajari dengan baik. Itu adalah pemahaman transformasi tahap tertinggi. Berbeda dengan semua transformasi yang telah kau gunakan, transformasi ini akan membawamu ke level tertinggi. Kau hanya dapat menguasainya jika berhasil menyerap semua partikel dewa dan iblis dalam dirimu. Itu adalah hadiah terakhir yang bisa kuberikan padamu dan sekaligus menjadi akhir hubungan guru dan murid di antara kita.”
Kabut hitam yang menutupi sosok Iblis Dosa tiba-tiba membesar, menutupi tubuh Laxus dan Endless.
“Aku harap pertemuan kita berikutnya … kau telah berhasil mempelajarinya, Lyan. Jika kau tidak berhasil menguasainya saat aku bangkit, maka kau sendiri tahu apa yang akan terjadi pada dunia ini.” Suara tawa Laxus mulai tak terdengar saat kabut hitam yang menutupi mereka hilang tanpa jejak.
Setelah kepergian Laxus, Endless dan Iblis Dosa itu, Lyan baru bisa merasakan dirinya kembali bertenaga. Ia sebenarnya sedikit bingung kenapa Laxus masih membiarkannya hidup serta memberikannya pemahaman mengenai transformasi baru. Ia juga tidak merasakan adanya bahaya pada bola putih tersebut.
__ADS_1
‘Aku tidak tahu apa yang dia rencanakan. Karena aku gagal menghentikannya, aku harus menerima ini dan mempelajarinya secepat mungkin.’ Lyan mengepal keras tangannya. ‘Aku harus bisa menghentikan sesepuh sebelum dia berhasil bangkit sepenuhnya.’
Setelah beberapa saat menatap bola putih itu. Lyan tiba-tiba tersenyum pahit. Entah sedih atau senang, ia tidak tahu perasaan apa yang kini ia rasakan saat memandang bola putih yang mengambang di hadapannya itu, yang menjadi hadiah perpisahan dari Laxus, yang sekaligus menjadi akhir dari hubungan guru dan murid di antara mereka.