Legend Of Lyan 2

Legend Of Lyan 2
Beban Pikiran


__ADS_3

Setelah cahaya itu meredup, Lyan bisa merasakan aura kehidupan makhluk hidup benua ini yang sebelumnya hampir padam kembali menyala dan berkobar besar. Menandakan penduduk benua ini telah terlepas dari kutukan Astaroth.


Pemimpin suku papu yang sudah pasrah akan kematiannya tiba-tiba saja dikagetkan saat dirinya melihat setiap pasukan suku purba di depannya kini tubuh mereka secara perlahan kembali berbentuk. Dengan mulut terbuka lebar dia juga merasa seluruh bagian tubuhnya yang hilang telah kembali.


“Hah?! Apa ini, papu?!” Saking tidak percayanya dia mulai meraba wajah serta tubuhnya untuk memastikan kalau ini bukan mimpi.


Begitu pula dengan pasukan suku purba. Setelah memastikan semua itu dan yakin mereka tidak sedang tidak bermimpi, semuanya berseru bahagia sambil meneteskan air mata.


Hal yang sama juga dialami Venom. Dengan ekspresi terkejut, dia memperhatikan bagian tubuhnya sendiri yang telah kembali utuh. Dia tidak menyangka bagaimana tubuhnya yang tadi hanya tersisa separuh kepala saja bisa kembali utuh dengan ajaib seperti ini.


Sisi Gelap tersenyum lebar melihat Venom yang menurutnya bereaksi terlalu berlebihan. “Tidak perlu terkejut seperti itu. Aku sudah tahu kau serta penduduk benua ini tidak akan mati karena tuanku tidak akan membiarkan hal seperti itu terjadi.”


Sementara Hex yang sedang menutup matanya karena sudah pasrah masih tidak sadar mengenai situasi ini.


‘Kenapa aku belum mati-mati juga, ya?’ Dalam hati dia merasa bingung karena masih bisa merasakan dirinya masih ada di dunia. Padahal sebelum menutup mata, bagian tubuhnya hanya tersisa kepala saja. ‘Kenapa lama sekali, sih? Kapan aku matinya?’


“Buka matamu, bodoh!” Master Gyo memukul kepala Hex dengan keras, membuat pria itu langsung membuka matanya.


Dia terkejut mendapati Master Gyo yang matanya tampak membengkak berada di hadapannya. Ia juga menemukan Light ada di belakang Master Gyo.


“Guru Kedua, Guru Ketiga, kenapa ada di sini? Apa kalian bunuh diri demi menyusul muridmu ke sini?” Mata Hex berkaca-kaca, terharu karena mengira kedua gurunya rela membuang nyawanya demi dapat bertemu dengan dirinya lagi.


Light hanya mengerutkan dahi sementara Master Gyo kembali memukulnya.

__ADS_1


“Apa yang kau katakan, bodoh!” seru Master Gyo. “Kau belum mati! Lihatlah dirimu sendiri sekarang!”


Hex terkejut mendengarnya lalu segera memeriksa tubuhnya sendiri. “Bagimana mungkin ini bisa terjadi?!”


“Tentu saja semua ini berkat kakak pertamamu!” seru Master Gyo dengan yakin karena menurutnya tidak ada orang lain lagi yang dapat melakukan ini.


“Kakak pertama benar-benar hebat!” Hex segera memeluk Master Gyo dengan erat, membuat Master Gyo sesak napas. “Aku harus berterima kasih padanya nanti! Berkatnya aku masih dapat bertemu dengan kalian! Aku sangat senang!”


Hex melepas pelukannya lalu berlari ke arah Light, Light terkejut dan segera terbang untuk menghindari pria itu.


*****


Lyan tersenyum lega setelah merasakan aura kehidupan makhluk hidup benua ini kembali menyala. Tapi ekspresinya seketika berubah dingin setelah bertemu tatap dengan Lilith.


Kepala Astaroth tiba-tiba muncul di hadapan Lilith. “Ya, aku akan segera pergi. Kelak kita akan bertemu kembali, Manusia.”


“Aku tidak mengharapkan itu terjadi,” balas Lyan.


Lilith hanya menyeringai sebelum dirinya menghilang bersama kepala Astaroth.


Setelah kepergian Lilith dan nyawa penduduk benua ini terselamatkan, Lyan akhirnya dapat bernapas lega. Namun masih ada yang mengganggu pikirannya.


‘Sial, kenapa mereka menyelamatkan Astaroth? Bukankah katanya Astaroth adalah Iblis Buangan? Aku berharap mereka tidak memulihkan kondisinya...,’ batin Lyan dengan perasaan cemas. ‘Dan untuk syarat kedua aku masih tidak mengerti. Iblis sialan itu terang-terangan mengatakan kalau mereka menyukai penderitaan manusia … tetapi kenapa mereka memintaku untuk menyelamatkan Benua Terang? Dan kenapa setelah mengatasi para monster, mereka akan mengundangku ke menara iblis? Apa mau mereka sebenarnya?!’

__ADS_1


Lyan memijat kepalanya merasa pusing karena setelah masalah di Benua Cahaya terselesaikan, masalah baru kembali muncul.


‘Sial, padahal ada masalah yang harus kuatasi di Benua Gelap … kenapa masalah terus saja berdatangan ….’


Lyan memandang ke arah langit, menarik napasnya dalam-dalam untuk menenangkan perasaannya.


‘Masalah di Benua Gelap … aku butuh waktu yang cukup lama untuk menyelesaikannya karena ini berat bagiku. Karena iblis sialan menambah pekerjaanku, aku jadi tidak tahu harus bagaimana aku bertindak ke depannya.’


‘Apa aku dapat menyelesaikannya masalah di Benua Gelap lebih cepat agar dapat pergi ke Benua Terang? Apa aku mampu melakukannya? Atau aku biarkan saja masalah yang terjadi pada Benua Terang? Lagipula, aku tidak tahu apa yang sedang direncanakan para iblis itu. Persetan dengan persyaratan!’


Lyan kembali memijat kepalanya. ‘ Sial, apa yang baru saja kupikirkan?! Ah, ini benar-benar membuatku hampir gila...’


“Lyan! Lyan!”


Di tengah rasa frustasinya, Lyan mendengar teriakan Yuna.


Lyan lalu berbalik dan melihat wanita itu terbang menuju ke tempatnya dengan wajah bahagia.


Selama beberapa hari belakangan ini mereka selalu menemukan jalan buntu untuk menyelamatkan Penduduk Benua Cahaya. Setelah berulang kali mengalami putus asa dan merasa tidak ada harapan lagi, dengan datangnya keajaiban ini membuat Yuna tidak dapat menahan kebahagiaannya lagi dan meluapkan semua perasaannya dengan memeluk Lyan seerat-eratnya.


“Kita berhasil, Lyan! Kita berhasil!” Air mata kebahagiaannya tidak dapat terbendung lagi dan menetes begitu saja melalui matanya. “Kita berhasil…”


Pelukan hangat wanita itu membuat beban pikiran Lyan hilang dalam sekejap. Lyan tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi dan tidak mau tahu. Tiba-tiba saja dia tidak ingin memikirkan masalah yang membebani pikirannya lagi untuk saat ini, sebab kehangatan seperti inilah yang sedang dia butuhkan sekarang.

__ADS_1


Lyan tersenyum sambil mengusap rambut wanita itu dengan lembut. “Terima kasih, Yuna.”


__ADS_2