Legend Of Lyan 2

Legend Of Lyan 2
Bantuan Yuna


__ADS_3

Kaisar tersenyum sumringah sambil mengusap keringat yang bercucuran dari dahinya. Akhirnya setelah melalui pertarungan sengit menghadapi iblis dalam hati, ia berhasil mengalahkan iblis itu sekali lagi.


Setelah menghela napas lega beberapa kali, ia pun tersadar kalau tingkahnya barusan jelas membuat semua orang terkejut.


“Ah, maafkan aku. Biasanya jika aku sedang tidak enak badan, aku akan seperti itu. Mohon dimaklumi.” Kaisar berusaha memekarkan senyum dari bibirnya. Ia sebenarnya cukup malu telah memperlihatkan tingkah anehnya di hadapan semua orang.


Ia pun tidak berani menatap Lyan lagi. Ternyata selain kuat, pemuda itu juga dapat membangkitkan iblis hati seseorang. Kaisar merasa harus berhati-hati pada Lyan sebab baru bertemu sebentar saja pemuda itu telah membuat iblis dalam hatinya muncul berkali-kali.


“Aku mengucapkan terima kasih karena kalian ingin membantu kami mengatasi masalah yang sedang menimpa Benua Terang sekarang,” ucap kaisar. “Besok aku akan meminta orangku untuk menunjukkan setiap wilayah yang diserang oleh monster laut. Sekarang, kalian para tamu terhormat bisa beristirahat karena hari sudah malam.” Kaisar kemudian mengarahkan pandangan pada Jenderal Felline. “Jenderal Felline, tolong antar tamu kehormatan kita ke ruang istirahat. Sediakan kamar terbaik agar mereka merasa nyaman.”


“Baik, Kaisar,” ucap Jenderal Felline sambil memberi hormat.


Setelah Lyan dan rekan-rekannya pergi, kaisar menghela napas lega. Entah kenapa ia jadi takut bertemu dengan pemuda itu lagi. Ia sampai berpikir sebaiknya lain kali mengirim perwakilan saja jika pemuda itu ingin menemui dirinya sebab ia tidak ingin lagi bertarung dengan iblis hati yang akan kembali mempermalukan dirinya sendiri di hadapan semua orang.


Jenderal Felline yang sudah membawa mereka ke ruang istirahat, menunjukkan mereka tiga kamar yang ukurannya luas. Satu kamar ditempati oleh Yuna, satunya lagi oleh Carera, sedangkan Lyan, White dan Snow berada dalam kamar yang sama.


Jenderal Felline tampak masih berdiri di depan pintu kamar Lyan. Ia masih ingin tahu apakah benar kalau sebenarnya Yuna merupakan calon istrinya? Namun iya tidak berani menanyakan. Sebab ia takut mendengar jika jawabannya adalah benar. Hanya akan membuat hatinya terasa semakin perih.


“Apa ada yang ingin kau bicarakan, Jenderal Felline?” tanya Lyan yang melihat Jenderal Felline masih termenung di depan pintu.


Jenderal Felline menggeleng pelan. “Aku hanya ingin mengucapkan selamat beristirahat, Lyan.”


Lyan tersenyum tipis. “Terima kasih, Jenderal Felline.”


Jenderal Felline kemudian menundukkan kepalanya sebelum beranjak meninggalkan tempat.

__ADS_1


Saat melihat Jenderal Felline sudah menghilang dari sana, Lyan berniat menutup pintu kamar tetapi tangan seseorang menghadangnya.


“Lyan, ada yang ingin kubicarakan denganmu,” ucap orang yang menghadang pintu itu yang tidak lain adalah Yuna.


“Ada apa, Yuna?”


Yuna tiba-tiba mengirimkan telepati. ‘Apa Lilith sedang bersamamu? Kalau iya, minta dia untuk tidak mengawasimu sekarang.’


Lyan mengerutkan dahi. Namun iya menuruti perkataan Yuna dengan mengirim telepati pada Lilith untuk tidak mengikutinya lagi malam ini. Lilith yang penasaran kenapa tiba-tiba Lyan mengusirnya saat Yuna datang sedikit curiga. Namun ia tidak bisa melakukan apapun selain menuruti Lyan untuk pergi dari sana.


‘Dia sudah pergi.’


‘Bagus.’ Yuna menengok ke dalam kamar, ia melihat White dan Snow sudah tertidur pulas di kasur. ‘Ayo ikuti aku.’ Ia menarik tangan Lyan dan membawanya ke sebuah lorong yang sepi.


“Ada apa sebenarnya, Yuna?”


Lyan menggaruk pipinya. “Maksudnya? Apa aku ada berbuat salah padamu?”


Yuna menghela napas. “Kau benar-benar bodoh, Lyan! Bagaimana pria sepertimu tidak menyadari kalau seorang wanita telah menunjukkan perasaannya padamu?!”


Lyan memahami maksud perkataan Yuna. “Oh, Jenderal Felline maksudnya? Kau salah paham, Yuna. Sebenarnya itu hanya kode rahasia yang digu—”


Yuna mendorong kepala Lyan dengan telunjuknya. “Kode rahasia kepalamu! Mana ada yang seperti itu! Hei, sadarlah! Karena kau membiarkan orang-orang memanggilmu kakak ipar, dan kau memanggil mereka adik ipar … Wanita bernama Jenderal Felline itu jadi salah paham! Jelas sekali terlihat kalau dia menyukaimu, Lyan!”


“A-Apa?!” Lyan terkejut mendengarnya. Ia tidak mengira Yuna akan mengatakan kalau sebutan kakak-adik ipar itu ternyata bukanlah sebuah kode rahasia. “Yang benar saja, Yuna?”

__ADS_1


Yuna lebih terkejut lagi sebab tidak menyangka pemuda di hadapannya ini benar-benar tidak tahu dirinya telah membuat orang-orang salah paham.


“Kau pikir ada untungnya aku membohongi dirimu dalam hal seperti ini? Yuna menghela napas. “Sadarlah, Lyan! Kau sudah menyakiti hati Jenderal Felline! Kau harus minta maaf padanya!”


Lyan terdiam sejenak. Ia mulai teringat saat itu bahkan Jenderal Felline sampai menyatakan perasaan padanya. Jika ini bukan kode rahasia seperti yang dikatakan Yuna, tentu Jenderal Felline akan sakit hati karena ia telah mengabaikannya.


“Jangan diam saja! Aku hanya dapat membantumu sampai di sini! Berikutnya kau yang harus selesaikan sendiri karena kau yang telah menimbulkan kesalahpahaman ini. Sekarang pergilah menemuinya! Lakukan apapun semampumu untuk menghiburnya! Ingat, sebagai seorang pria! Kau harus memandangnya sebagai seorang wanita agar kau mengerti bagaimana cara menghiburnya!”


Yuna mendorong Lyan dan melambai-lambaikan tangannya memberi isyarat agar Lyan segera menemui Jenderal Felline. Lyan kembali terdiam sejenak sebelum akhirnya beranjak meninggalkan tempat, mencari keberadaan Jenderal Felline.


Dalam perjalanan ia terus berpikir bagaimana caranya bertindak sebagai seorang pria seperti yang dikatakan Yuna. Ia bahkan sudah lupa bagaimana melihat seseorang sebagai wanita. Tetapi ia tidak menyerah, karena merasa bersalah telah menyakiti hati Jenderal Felline, ia berusaha mengingat kenangannya bersama wanita yang pernah mengisi hatinya dulu. Ia berharap dari ingatannya itu ada yang bisa dia pelajari agar dapat menghibur Jenderal Felline nanti.


Terbesit wajah seseorang dalam benaknya. Ia adalah Cleo yang merupakan cinta pertamanya.


Lyan ingat betul dulu ketika mengingat Cleo, ia akan terus-terusan sedih hingga susah tidur. Tapi sekarang, mengingat semua kenangannya saat bersama Cleo tidak membuatnya merasakan apapun.


‘Ada apa denganku sebenarnya?’


Lyan tidak tahu apa lagi yang salah dengannya. Ia pun tidak sadar sejak kapan dirinya berubah seperti sekarang, seperti orang yang sudah mati rasa pada lawan jenis.


Tanpa disadari ia telah berada di teras. Ia menemukan Jenderal Felline sedang duduk di kursi sambil memandangi bulan seorang diri.


Lyan segera menghentikan langkahnya. Ia sedikit takut sebab tidak tahu bagaimana caranya menghibur Jenderal Felline.


‘Aku harus bagaimana ini?.’ Lyan membatin kebingungan.

__ADS_1


Ia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa kali ini. Rasanya ingin kembali meminta bantuan Yuna, tetapi ketika dirinya memandang Jenderal Felline sekali lagi, ia bisa merasakan raut wanita itu memancarkan kesedihan yang dalam, membuat hatinya tergerak dan menyadari seberapa besar kesalahan ini.


‘Semua ini karena kebodohanku.’ Lyan menghela napas panjang. ‘Dan, karena Yuna sudah membantu dengan menyadarkanku, aku tidak boleh kembali dan meminta pertolongannya lagi. Seperti kata Yuna, aku harus dapat menyelesaikan masalah ini seorang diri karena ini bermula dari kesalahanku sendiri.’ Lyan memantapkan hatinya sambil melangkah ke tempat Jenderal Felline berada.


__ADS_2