Legenda Ninja Angin

Legenda Ninja Angin
16


__ADS_3

" Maaf, jika kami mengganggu senior, kami sudah berminggu-minggu belum keluar dari sini, kalau tidak ada apa apa bolehh kami pergi!"


" Kau pikir, aku juga punya banyak waktu mengurus kalian!" Kesatria tua tersebut menaikan volume suaranya.


" Kakek, maaf kan kami, kalo begitu kami pamit dari hadapan kakek!" Sakuta melangkah keluar sambil menggandeng tangan Tomoe, dia berbicara sambil tersenyum lembut padanya, wajah Tomoe tidak jelas terlihat, hanya kedua bola matanya saja yang terbuka, dia sudah menutup setengah wajahnya dengan dengan jubah yang di berikan sakuta.


" Tunggu! Kalo kalian mau lewat, Serahkan semua Permata iblis dan barang berharga milik kalian, juga tinggalkan wanita itu." Kesatria tersebut tersenyum menjijikan beserta orang-orangnya.


Tomoe menatap dingin kearah kesatria tua itu. Sakuta tersenyum canggung. Tomoe merasa dirinya di hina, Shigen menepuk keningnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, dia berpikir kesatria tua itu salah menyinggung seseorang.


Aura dingin Tomoe keluar, Sakuta melepaskan genggamannya.


" Kau pikir, kau hebat rubah tua." aura Tomoe, membuat mereka mundur selangkah ekspresi wajah kesatria tua itu berubah. Hanya melangkah satu kali ke arah rubah tua itu, seketika lantai Dongeon yang di hadapan Tomoe di selimuti es.

__ADS_1


" Ini membutuhkan mana yang begitu besar! dia bukan Hunter biasa." Seru salah satu bawahan kesatria tua.


Sakuta kembali menarik Tomoe, Tomoe yang terkejut dirinya tiba-tiba langsung di tarik dia sedikit kesal terhadap Sakuta.


" Hahahaha.. Kau pikir aku takut kepada kalian berdua?" Ucapan keras kesatria itu. Sakuta memahami tubuh Tomoe dan Shigen masih belum pulih, dan masih belum saat yang pas untuk bertarung, Sakuta maju kehadapannya.


" Kakek, Kami tidak memiliki benda apa pun tolong kakek jangan mempersulit kami." Sakuta yang mulai melihat kontradiksi di hadapanya langsung berusaha menenangkan kesatria tersebut.


Merasa dirinya di remehkan, seakan yang di ucapkan Sakuta adalah untuk tidak mencari masalah kepada kedua sahabatnya, kesatria tersebut kesal sebenarnya dia sudah tahu dan bisa merasakan tubuh Sakuta, Tubuh Sakuta tak memiliki mana. dia beranggapan Sakuta hanyalah seorang Porter atau pembawa barang.


" Bocah sialan, Kau tau apa? dengan kekuatan ku! aku juga bisa merasakan tubuhmu yang tak memiliki mana itu! jangan sampai aku mengulitimu!?"


Sakuta tersenyum tipis, dia tidak membalas omongan kesatria tua di hadapanya karena memang tidak ada niatan untuknya berdebat dengan kesatria itu. Menurutnya percuma kalau pun dia tahu siapa yang menang dan siapa yang kalah walaupun dirinya tak memiliki mana.

__ADS_1


" Saat aku, masih seusiamu aku mampu menghancurkan batu besar dengan seperempat kekuatanku, Apa kau mampu?" Sambil tersenyum bermaksud menghina, kesatria tersebut malah terus memancing kemarahan Sakuta dan mencoba terus mempermalukanya padahal Sakuta sudah diam.


" Sudah lah, senior, kami masih lelah setelah menyelesaikan misi!" Shigen menengahi dan menghentikan kritikan pedas kesatria tua itu.


" Apa yang salah dengan apa yangku ucapkan? orang tuanya pun pasti menyesal telah melahirkan dia, pasti mereka tidak menyangka memiliki anak yang tidak berguna!"


Senyuman menghilang dari wajah Sakuta, perubahan itu sangat nampak jelas terlukis di wajahnya. " Kakek, Tarik kata-katamu itu."


Kesatria Tua itu mengerutkan dahinya, Shigen terkejut dengan ekspresi wajah Sakuta.


" Kau boleh menghinaku, Tetapi jika kau menghina kedua orang tuaku! Maka aku tidak akan tinggal diam, Tarik kata-katamu itu atau?!"


" Atau apa.. ?" dengan wajah masih menghina, kesatria tua itu tidak berhenti, karena menurutnya Sakuta bukanlah sebuah ancaman.

__ADS_1


Sakuta menghembuskan nafasnya dengan berat," Kalau kau mampu mengalahkan ku dengan kebanggaan mu itu! silahkan serang aku sesukamu."


Merasa dirinya di kasih kesempatan untuk membunuh dia tertawa lantang, Sakuta memberi isyarat untuk Shigen dan Tomoe mundur dan memberi mereka berdua ruang.


__ADS_2