
Shigen dengan tergesa-gesa menenangkan Laura yang saat ini wajahnya menggambarkan kalau dia tidak senang.
" Laura.. Tunggu, kami tidak sedang kau tau lah sendiri." Laura mendekatkan wajahnya ke wajah Shigen.
" Maksud mu apa? " Laura mencoba kembali untuk mendesak Shigen dengan pertanyaan yang sedikit sulit untuk di jawab.
' Kalau aku jawab, kami hanya berbincang biasa!? Pasti dia akan bilang ( Kalau biasa kenapa kelihatan lama sekali ) Itu akan berbahaya bagiku.. Kalau aku bilang kami sedang membahas Shio pasti dia akan marah kenapa tidak membicarakan denganya terlebih dahulu.. ' Shigen menggaruk-garuk kepalanya karena bingung.
Laura masih menatapnya seolah sedang mengintimidasinya, Helena yang melihat tatapan Laura kini berubah melihatnya membuatnya sedikit marah.
" Nona Laura, Kami hanya berbincang biasa.. Kalau kau cemburu kepada kami, kau salah menelai kami. Aku sudah menyukai seseorang.." perkataan Helena membuatnya sedikit tenang.
Dengan wajah yang malu-malu Laura mencoba mendekati Helena. " Ma-maaf kan aku.. Nona Helena aku cuma.. Aku cuma... "
SSsssttttt...
" Aku mengerti maksud mu kenapa? Sudha lah kita lebih baik segera masuk dan merawat warga desa yang terluka.
Senyum di wajah Laura kembali berseri di wajahnya, dia tersenyum sambil mengangguk.
" EMMMM.. Terima kasih Nona Helena." Helena membalas senyuman Laura dengan lembut.
" Ngee... Lebih baik kau memanggilku dengan sebutan kakak sajalah. Kalau kau memanggilku Nona rasanya tidak pantas." Helena mencoba membahas hal lain agar lebih akrab dengan Laura.
" Oh.. Baiklah Kak Helena.. " Laura kembali tersenyum dengan senyuman manis ala elf miliknya.
' Sial.. Imutnya.' Batin Shigen dalam hati. "Oh.. Akhirnya aku punya adik yang imut.. Sini mendekatkan ke kakakmu ini."
Laura tertawa sambil mendekati Helena dengan terkekeh-kekeh, mereka berpelukan di hadapan Shigen layaknya seorang Kakak dan Adik yang sudah lama tidak saling temu dan sapa.
" Heii... " Dari dalam gua tempat mereka bernaung terdengar suara seorang gadis yang menegur mereka bertiga. " Gadis-Gadis di sini ada anak kecil... Laura sebaiknya kau jangan selalu baik terhadap wanita gila itu."
Tomoe berkata demikian sambil menggendong Shio yang setengah mengantuk. Wajah Helena langsung berubah saat Tomoe selesai berkata demikian.
" Siapa yang kau panggil wanita gila.. Dasar Monster Dada." Helena mengumpati Tomoe dengan terang-terangan di hadapanya.
__ADS_1
" Huh... Itulah kenapa, wanita dengan tubuh pas-pasan selalu menghinaku!? Mereka semua iri dengan bentuk tubuhku."
" Hei.. Dada mu terlalu berlebihan percuma saja, kalau cuma mengandalkan ukurannya yang tidak penting.."
" Moo.. Sudah lah." Seru Laura mencoba memisahkan mereka berdua, wajah imutnya membuat jantung Tomoe dan Helena terkejut.
' Imutnya... ' Bersamaan mengatakan hal itu Shio tiba-tiba menangis karena dia seperti di kucilkan.
Tomoe menggoyang-goyangkan tubuhnya dan mencoba untuk menenangkannya, Helena bersama Laura tertawa bersama-sama.
" Kita bertiga sepertinya cocok.. " Seru Helena sambil tersenyum. " Hemmm... Bukan bertiga tapi ber empat." seru Shio kecil berkata sambil terus menempel di pelukan Tomoe.
Shigen yang di kacangi hanya mendesah pelan karena dia sebenarnya juga bersyukur, akhirnya dia tidak kena semprot mulut Laura malam ini.
Laura segera mengajak teman-temanya kembali masuk dan juga berkumpul dengan para warga desa lainya.
Para warga tengah membakar empat Rusa dan dua puluh ayam hutan yang mereka tangkap, bau Bakaran Rusa senta Ayam tersebut membuat perut mereka yang lapar menjadi sangat lapar.
Untung saja mereka juga berhasil menyelamatkan arak yang mereka telah buat bersama sebelum penyerangan putra-putra Tokugawa itu.
Setelah panggangan Rusa serta Ayam hutan itu selesai. Mereka segera membaginya dan menyantap bersama-sama makanan mereka tersebut.
Shio Kecil yang sudah lelah tertidur di dekat api unggun yang sengaja mereka buat untuk menghangatkan tubuh mereka.
" Bagaimana dengan Sakuta.. " tanya Tomoe yang tiba-tiba menghampiri Shigen dalam ke adaan setengah mabuk.
" Hemmm.. Dia sedang ingin sendiri di hutan hek.. hek.. " Shigen masih terhuyung-huyung untuk menjawab pertanyaan Tomoe.
Helena yang melihat kekhawatiran di wajah Tomoe, segera menghampirinya dengan membawa satu ayam bakar.
" Segeralah temani Sakuat... Dia pasti juga membutuhkan seorang teman." Tomoe sebenarnya terkejut tapi saat memastikan raut wajah Helena dengan cepat dia mengambil ayam bakar tersebut dan segera berlari keluar gua untuk mencari Sakuta.
***
Sakuta tengah menatapi bintang-bintang yang seakan berkelip-kelip menyapanya. " Apakah aku tidak berdosa kepada adik-adikku yang sudah tiada.. Kalau saja kekuatan ini sudah dari dulu aku miliki mungkin nasib adik-adiku pun tidak akan seperti dulu."
__ADS_1
Saat Sakuta tengah larut dalam lamunanya, suara langkah kaki seseorang yang mendekatinya membuatnya kembali terjaga dari lamunanya.
" Sakuta.. Apakah kau ada disini? " Suara yang tidak asing di telinga Sakuta membuatnya sedikit terkejut. ' Kenapa Tomoe mau mencariku.. Ahh.. Lebih baik aku tetap di sini dan berpura-pura tidur.'
Sakuta langsung mengunci matanya agar ketika Tomoe menemukanya di tidak curiga atau marah.
" Sakuta.. " Tomoe terus memanggil.
KRAAKKK...
" Ehh rupanya ada di sini." Tomoe tiba-tiba merasa kesal karena dia sadar Sakuta tengah berpura-pura tidur darinya. " Wahh.. sudah tidur tohh.. Padahal aku bawain Ayam bakar yang baru matang nih!? Aku apain yahh enaknya mungkin buang aja deh aku kan udah kenyang."
Mendengar hal tersebut Sakuta menjadi serba salah. Perutnya tidak bisa berbohong di hadapan Tomoe karena bau yang enak dan rasa lapar yang lumayan lama iya tahan.
Perut Sakuta langsung bersuara keras dan mengejutkan Sakuta sendiri. Dia lekas segera mengambil Ayam bakar tersebut dari tangan Tomoe.
Tapi dengan cepat Tomoe langsung menghindarinya, " Mau berpura-pura tidur lagi?! Lebih baik Aku membuang Ayam bakar lezat ini."
Sakuta menjilati bibirnya yang mulai kering. "Baiklah aku salah.. Aku minta maaf aku janji tidak akan mengulanginya lagi."
Tomoe menyipitkan matanya mencoba mencari keyakinan dari balik pandangan matanya, " Kau pasti akan membohongiku lagi.."
" Tidak aku Jan.. ji " Sakuta akhirnya berhasil menangkap Ayam bakar itu dari tangan Tomoe.
" Karena kau janji, besok kalau kita keluar hutan.. Belikan aku sebuah baju serta tusuk rambut untuk rambutku ini."
Sakuta tidak menghiraukan perkataan Tomoe sehingga membuatnya sedikit kesal, " Kau mendengarkan. Tadi apa yang ku ucapkan."
Dengan perasaan Takut dan terkejut dia dengan malas terpaksa menjawabnya. " Iya.. Aku akan memberikanmu baju dan membelikanmu Tusuk rambut. Kalau bisa entar aku yang makein deh!? "
Mendengar ucapan Sakuta wajah Tomoe menjadi memerah dengan cepat.. " Dasar kau mesum.. " Tomoe berteriak sambil membekukan tubuh Sakuta tanpa ia sengaja.
" Sakuta.. Kau tidak apa-apa? "
SA.. KU.. TA....
__ADS_1
___
DUKUNG NOVEL INI DENGAN VOTE KALIAN..