Legenda Ninja Angin

Legenda Ninja Angin
Ch. 29 Sebuah Surat


__ADS_3

Helena bersama Huan kembali ke istana dengan luka-luka kecil di tubuh mereka. Sakuta dan semua orang yag menunggu kabar baik darinya, memiliki seribu pertanyaan di benak mereka sambil menghawatirkan kondisi Helena dan Huan.


Helena memberikan sebuah surat kepada Shigen, Helena mulai menceritakan kejadian yang baru di alami mereka.


Dia mengatakan orang-orang yang telah menculik Kaisar sekitar empat orang, Helena dan Huan berkata kekuatan kelompok tersebut setara dengan mereka dan juga lebih berbahaya karena senjata rahasia mereka. Itulah kenapa mereka gagal, mereka hanya mampu beradapan imbang dengan satu orang, karena kalah jumbelah jadi mereka terpaksa mundur.


Huan terkena salah satu senjata rahasia tersebut, kalau Huan tak memiliki kekuatan yang hebat mungkin tubuhnya sudah tak mampu dia gerakan, ketika mereka mencoba bergerak mundur salah satu dari mereka melemparkan sebuah surat tersebut.


Shigen langsung memeriksa kondisi Huan, wajah Shigen menjadi panik setelah memeriksanya.


" Senjata Rahasia mereka! Memiliki Racun yang berbahaya, racun ini mampu menghancurkan Syaraf aliran mana, orang yang terkena racun tersebut!? "


Orang yang berada di ruangan tersebut mengerutkan dahi mereka. Mereka tidak membayangkan masa depan Huan kedepan-nya kalau tidak menemukan obat dari racun tersebut.


Aliran mana seorang Kesatria atau Pendekar yang lumpuh atau di hancurkan, sama saja dengan dia menghancurkan praktik milik pendekar tersebut.

__ADS_1


Pandangan mata Huan berubah menjadi suram, dia juga memahami konsekuensi tersebut. Dengan berat hati dia harus rela menjadi orang biasa yang tak memiliki mana.


Sakuta yang terlihat oleh Tomoe nampak kebingungan mencerna situasi, langsung Tomoe dekati dan membisikkan-nya ketelingat Sakuta.


Sakuta yang terkejut dan langsung bereaksi, dia dengan tegas mengatakan bahwa dirinya mampu menyembuhkan dan menghilangkan racun tersebut.


Pandangan semua orang jadi berubah dan menatap ke arah Sakuta, Helena langsung bersujud kepada Sakuta dan memohon untuk segera menyembuhkan-nya. Melihat kakak angkatnya sampai rela bersujud di hadapan orang lain, Huan juga melakukan hal yang sama di depan Sakuta.


Sakuta yang terkejut oleh tingkah kakak beradik tersebut, langsung mengangkat tubuh mereka untuk berdiri. Dia menggaruk kepalanya yang memang sedikit gatal.


Sakuta menyayat lengan kanan-nya dengan sebuah Syuriken kecil, senjata jarak jauh miliknya. Dia menyuruh Huan untuk membuka mulutnya dan Sakuta langsung mengucurkan darahnya ke mulut Huan.


Helena yang masih menatap Huan dengan cemas, dia berdoa dalam hatinya untuk kesembuhan adik angkatnya.


Mereka yang berada di ruangan tersebut di kejutkan, dengan teriakan Huan setelah menelan darah segar milik Sakuta, Huan merasakan tubuhnya terbakar dan rasa sakit di setiap inci tulangnya.

__ADS_1


Huan berdiri dan menengadahkan kepalanya ke atas, Wajahnya menggambar sebuah kesakitan yang teramat sakit. Helena langsung mengarah pandanganya ke Sakuta dan bertanya apa yang akan terjadi dengan adiknya.


Sebelum Sakuta menjawab keterkejutan Helena, Huan terdengar mengambil nafas berat dan ketika dia menghembuskan tarikan nafasnya, aura mana yang besar keluar dari tubuhnya dan langsung menyebar ke seluruh ruangan tersebut.


Semua orang terkejut, karena aura mana yang besar keluar dari tubuh Huan, begitu pula Sakuta yang menyembuhkan-nya.


" Terima kasih, Tuan Sakuta, Aku dapat merasakan aliran mana ku lagi." Sambil tersenyum bahagia, dia berlari ke arah Sakuta.


Dan langsung merangkul tubuhnya kemudian mencium pipi kirinya sebagai ungkapan terimakasihnya. Helena beserta Tomoe melihatnya dengan wajah terkejut.


Mereka tidak percaya dengan tindakan Huan yang tak tahu malu sebagai seorang gadis. Helena kemudian berpura-pura pingsan dan Sakuta dengan reflek menangkap tubuh ramping Helena.


Orang-orang yang menyaksikan kejadian tersebut, menggelengkan kepala mereka karena tingkah laku semua wanita yang di dekat sakuta.


Shigen langsung menenangkan mereka semua, termasuk Tomoe yang mulai terlihat kesal.

__ADS_1


" Aku akan membacakan, surat ini!? "


__ADS_2