
Sakuta terbangun dan mendapati dirinya sedang di pangku oleh Helena, dia terbangun karena mendengar suara Tomoe dan Helena tengah berdebat cukup serius.
" Hei... Kalian berdua ini selalu bertengakar itu kenapa? " Melihat Sakuta telah terbangun membuat Tomoe dan Helena menghentikan berdebatan mereka.
Sakuta menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. " Kalian tau kita di mana sekarang? "
" Sakuta, menurut pengamatan ku kita sekarang berada di hutan perbatasan antara Benua Bukit dan Benua Badai."
Saat mereka tengah berbincang, tiba-tiba mereka bertiga merasakan kekuatan yang sangat besar yang lokasinya cukup dekat dengan mereka.
" Aura Qi ini sangat aku kenal.. " Seru Tomoe.
" Kau benar.. Ini milik."
SHIGEN..
Dengan sepontan Tomoe dan Helena mengatakan hal tersebut bersamaan. " Kalau begitu lebih baik kita segera menyusulnya.. Mungkin dia sedang mendapati masalah."
" Kau benar Sakuta... Ayo... " Sakuta, Tomoe dan Helena langsung lekas beranjak pergi dengan terburu-buru.
***
" Ternyata masih ada saja seseorang yang menjengkelkan di sini.. " Seru Kiba dengan tersenyum sinis.
__ADS_1
Shigen mencoba untuk segera berdiri tapi tubuhnya sudah tidak bisa ia gerakkan, ' Sial... Ayolah bergerak.'
Laura segera menghilangkan keberadaanya kemudian berlari sambil membidik Kiba. "Kena kau.. "
Kiba sedikit terkejut ternyata masih ada orang lain selain Shigen yang cukup menyulitkannya, apa lagi tiba-tiba keberadaanya bisa menghilang seketika dengan mudah.
" Cukup menar.. " Belum ia selesai berkata demikian tiba-tiba ada anak panah yang melesat ke arahnya.
" Jangan meremehkan ku.. " Kiba langsung mengibaskan Kipas daun miliknya. Seketika itu juga angin besar menghempaskan anak panah tersebut.
" Mencoba membunuh ku dengan menyerang titik lemahku.. " Kiba langsung berlari sambil menebak arah yang akan Laura lalui.
Dengan instingnya meski Laura keberadaanya tidak bisa ia rasakan Kiba bersahil menyerangnya dengan pusaka Kecapi miliknya.
Karena puluhan panah yang hampir di lesatkan seluruh bawahan Kiba, Laura akhirnya terkena panah tersebut dan tepat mengenai kakinya.
Kiba langsung menendang perut Laura dengan keras sambil membuatnya terpental cukup jauh, Kiba tersenyum sambil menyered kaki Laura dengan tangan kananya.
Sambil tertawa dia kemudian melempar tubuh Laura di hadapan Shigen, wajah Shigen langsung berubah serius karena melihat kaki Laura yang terkena sebuah anak panah.
" Sial... " Shigen mencoba melawan racun tersebut dengan menyerap Qi yang ada di sekitarnya.
Melihat Shigen yang mencoba melawan racun yang ada di dalam tubuhnya, Kiba dengan kesal menyerangnya menggunakan pusaka Kecapi miliknya.
__ADS_1
" Tidaakkk... " Laura yang tiba-tiba mencoba melindungi Shigen, akhirnya dia yang terkena pusaka Kecapi tersebut.
Jubah yang menutupi wajahnya langsung terbuka dan tanpa di inginkanya identitasnya tersebut langsung membuat semua orang yang melihatnya menjadi terkejut apalagi Kiba.
Paras cantik yang di miliki elf atau Laura membuat semua orang tertegun dan takjub akan kecantikan Laura tersebut.
Kiba langsung terkekeh karena dia tidak menduga orang yang menyerangnya salah satunya merupakan seorang wanita yang sangat cantik.
Dengan wajah seperti binatang Kiba mendekati Laura dengan tidak sabar. " Jauh kan tangan motormu darinya."
Shigen berteriak dengan keras mencoba menghentikan Kiba, Kiba yang seharusnya menjauhi Laura dia malah merobek baju Laura dengan paksa dan kemudian mencoba menyerangnya.
TIDAAKK..
TIDAAKKKK..
Saat Laura berteriak dengan keras, tiba-tiba hempasan angin yang cukup kuat berhasil melempar tubuh Kiba bersama bawahanya.
Laura yang kini hampir setengah telanjang, langsung di peluk oleh seseorang dan berhasil mengejutkannya.
Seorang laki-laki berdiri di hadapan Shigen mencoba untuk melindunginya.
" Tuan Shigen.. Sepertinya kau terkena racun minumlah pil ini." seru Helena dengan jelas.
__ADS_1