
" Putri, kita sekarang berada di kota Emey! kita sudah dekat dengan Sekte Anggrek Emas."
Puluhan prajurit kerajaan mengawal dua tandu, mereka mencoba pergi ke Sekte Anggrek Emas.
***
Di dalam keramaian pasar dan kota, Sakuta hanya bisa menuruti ketika dirinya harus memakai setiap pakaian yang di pilih Tomoe.
" Tomoe, apakah kau mau membelikanku semua pakaian yang kau pilih ini? " Dengan wajah masam Sakuta mencoba bertanya malas.
" Yup... " Jawab Tomoe singkat, sudah hampir delapan setel pakaian yang dia pilih untuk Sakuta, dia sengaja membeli banyak agar Sakuta tidak malas untuk mengganti baju yang dia pakai, Ketika Sakuta mencoba pakaian yang ke delapan dia di dorong sekelompok pasukan dati belakang.
" Awas kau, minggir! kau menghalangi jalan kami, kami pasukan kerajaan sedang membawa putri angkat kaisar beri kami jalan!? "
Sakuta memang terkejut dan sedikit marah, tapi dia malas berurusan dengan pasukan kerajaan, baru saja namanya sudah di bersihkan kalau akan memperburuk keadaan-nya lagi! mungkin akan berbahaya baginya.
Tapi Tomoe yang mengerutkan dahinya dia jengkel melihat temanya tersungkur.
" Hei Tuan prajurit.. Apakah kami harus selalu memberi para kaisar dan pasukanya jalan? sedangkan jalanan sebegitu banyaknya? kalau kalian mau cepat berjalan dan tak mau berbagi, cari jalanan yang lebih sepi dan besar."
__ADS_1
Tomoe mengeluarkan pandangan seakan dia merendahkan para pasukan kekaisaran tersebut.
" Anak kecil yang kurang di beri pendidikan dari orang tuanya, memang tidak mengenali arti kedudukan atau pangkat jadi mereka tidak memiliki sopan santun. Aku sarankan sekali lagi minggir sebelum kau menyesalinya."
" Anak kecil? pendidikan? Sopan Santun? Kalian sendiri yang tak pernah belajar bahkan arti berbagi pun tak kalian mengerti, mungkin anak kecil lebih pintar dari pada kalian." Sakuta tiba-tiba menarik tangan Tomoe.
" Maaf kan kami, kami tidak bermaksud mengganggu perjalanan kalian! sebaiknya cepat kalian pergi." Sambil menatap tajam.
Para pasukan kerajaan yang mendengar ucapan Sakuta mengerutkan dahi mereka, sebenarnya para pasukan kerajaan tersebut geram, karena seakan-akan ucapan Sakuta mengatakan jangan berurusan denganya.
Tapi seorang wanita yang berada di dalam tandu menyuruh untuk cepat segera pergi, jadi mereka terpaksa mengabaikan-nya sambil menatap tajam ke arah sakuta.
Sakuta masih menggenggam tangan Tomoe erat, setelah puluhan pasukan kaisar tersebut mulai menjauh dari pandangan mereka berdua.
" Bu, ada orang pacaran." Anak kecil yang lewat dengan di gandeng ibunya bersuara ketika melihat tingkah Tomoe dan Sakuta. "Diam, Jangan ganggu orang lain." bisik ibunya.
Wajah Tomoe berubah merah tomat setelah mendengarkan-nya, dia langsung menaeik genggaman tangan Sakuta.
" Kenapa? apa kah kau marah sama mereka? sudah lah lebih baik kita tidak berurusan dengan mereka." Kata Sakuta.
__ADS_1
Tomoe menatap wajah Sakuta seram. " Diam, kau Sakuta Bodoh! "
Sakuta menggaruk kepalanya karena pusing memikirkan kesalahan baru yang dia tidak sadari lagi. Dia mengingat ucapan Shigen tentang wanita kalau dia mencaci mu tiba-tiba berarti sang pria bersalah tanpa dia sadari.
" Baiklah, aku minta maaf.. " ucap Sakuta ringan, " Ngomong-ngomong! kau bawa uang? untuk pakaian sebanyak ini? "
" Memangnya! aku mengajakmu kesini! tidak memiliki uang? "
" Tidak, maksud ku bukan seperti itu! "
" Hemm.. Sudah diam saja kau Sakuta Bodoh." Tomoe membuang wajahnya ke arah kiri dari hadapan Sakuta.
Sakuta mengeluarkan nafas berat dengan pelan.
" Nah, cepat ganti pakaian mu, memakai baju ini." Sambil melemparkan baju yang baru dia beli ke arah Sakuta.
" Baik, Nyonya.. " Dengan membungkuk seakan memberinya hormat. Sakuta berlalu dari hadapan Tomoe dia menuju ruang ganti, Sakuta melepaskan seluruh pakaian lamanya dan memakai pakaian yang baru.
Tapi di pikirannya dia mengingat wajah-wajah pasukan kerajaan yang berhasil mengganggunya.
__ADS_1