Legenda Ninja Angin

Legenda Ninja Angin
24


__ADS_3

" Nona, Tubuh mu sangat indah! Seindah salju."


Tomoe hanya diam seribu kata, dia sebenarnya sedang asik dengan fikiran dan lamunanya. Dia melulur dan memijat lembut seluruh tubuhnya, Helena yang merasa tidak di hirau kan mencoba mencari kelebihan yang dia miliki.


Merasa ada satu hal yang membuatnya kesal, dia mengerutkan dahi.


" Ehem.. Nona Tomoe sepertinya! mm.. kau kurang olah raga.. lihat saja ukuran Daging yang besar itu! Mungkin terisi banyak lemak, pasti itu menganggu-mu."


Tomoe yang mendengarkan, pernyataan Helena langsung menengok dan menatap dingin ke arah Helena. Setelah mengerti kekurangan Helena, dia justru menghembus kan nafasnya berat, dengan ekspresinya seakan kasihan.


" Hei... kenapa wajahmu pasang muka seperti mengasihani ku?.. " Sambil berteriak keras dan menunjuk.


" Ntah... lah."


" Dasar.. monster oppai!? "


" Hah.. Dada Melon!? "


Mereka saling ejek dan membalas sampai puas berendam.


Di dalam kota yang ramai penduduk, lima kilo meter jauh dari kerajaan Kota Light. Ada pasar yang terkenal dengan barang-barang yang murah, Sakuta yang merasa bosan tidur dan makan terus, dia sempatkan dirinya menikmati suasana perkotaan.


Ada banyak sekali pedagang baju dan barang-barang antik di situ, Sakuta berjalan santai dan sesekali berhenti menyaksikan hiburan akrobatik jalanan.

__ADS_1


Ketika dia asik menyaksikan atraksi topeng monyet, Tiba-tiba dia di tabrak seseorang yang memakai Topeng. Dia seperti buru-buru sambil mengejek orang-orang yang di tabraknya.


" Hei, kembalikan telur itu.. perempuan tengik."


Sakuta yang terdorong, oleh seseorang yang sedang mengejar orang yang memakai topeng tadi menjadi geram.


" Memangnya? dia berhutang berapa banyak? sehingga kalian mengganggu orang-orang yang lagi lewat."


Merasa terkejut dengan seseorang yang tiba-tiba menepuk pundaknya, pedagang itu langsung menjawab secara reflek.


Sakuta memahami apa yang terjadi. " Oh, ini aku ganti, biar aku tangkap maling kecil tadi."


Sakuta lompat ke atas atap, dia melihat sekeliling orang-orang yang yang sedang berbelanja. merasa tidak asing dengan salah satu warna pakaian seseorang yang sedang berlari, dia langsung melaju berusaha menyusul.


" Apa, Kalian akan mencambuk ku lagi? nih aku udah siap, kalian tahu aku belum dapat uang entar aku bayar seperti biasa."


Sakuta, yang malah seakan di perintah itu. Mematung, bukan karena gadis itu tiba-tiba menyuruhnya untuk menghukum dirinya. Tapi dia terkejut melihat banyak anak-anak yang nampak kurang makan, di antara mereka ada yang terbujur sakit.


" Jadi, Kau mencuri telur itu, untuk merawat adik-adik mu." Mimik suara Sakuta berbicara berubah.


" Yah, kau benar, sepertinya? tuan orang baru di sini."


Sakuta langsung mengusap kepala pencuri bertopeng itu. " Siapa Namamu?"

__ADS_1


Nampak keraguan di wajahnya, tapi kemudian langsung dia jawab. " Namaku Li Huan... "


" Kalo umur mu? "


" Umur ku 18 thn." Dia merasa aneh dengan mulutnya sendiri, sebenarnya dia tak mau menjawab tapi dia merasa aneh saat di tanya langsung oleh Sakuta.


" Kau udah berjuang keras, untuk adik-adik mu! Terima kasih, Sekarang aku mau kau yang beristi rahat."


Ketika itu Air matanya tiba-tiba keluar, Tanpa bisa dia bendung. Dia merasakan perasaan nyaman dan hatinya merasakan sesak tapi dia sangat rindu akan sakit seperti ini, Seperti sudah lama dia berada dalam penderitaan.


Dan baru kali ini, ada orang asing yang mengerti posisinya, Sakuta tiba-tiba keluar sambil berlari. Setelah beberapa detik dia kembali lagi membawa bunga Tangan yang banyak di setiap sisi tangannya.


" Kalian, makanlah sepuasnya! Aku ingin hari ini, Kalian semua senang... "


Mereka tanpa malu, saling membagi dan mengucapkan Terima kasih kepada Sakuta. Sakuta membeli banyak kain yang tebal dan makanan kering, entah kenapa mereka seakan nyaman di dekat Sakuta.


Apa lagi pencuri bertopeng itu, dia nampak lebih dewasa dari anak-anak yang lain.


" Li Huan? bukanya namamu seperti wanita?." Anak-anak yang mendengar pernyataan Sakuta, membuat mereka tertawa semua.


" Tuan, Aku ini memang perempuan! Aku menutupi wajah ku, karena takut orang lain melihat wajah ku yang hancur karena racun."


Sakuta mengerutkan dahinya, dia baru pertama kali mendengar muka seseorang bisa hancur karena racun, Dia sedikit curiga tapi tidak menghiraukan pikiran kecil di kepalanya.

__ADS_1


' Memang kenapa bisa, seperti itu? aku baru pertama kali dengar? ' Batin Sakuta..


__ADS_2