
Haida tersenyum canggung dan segera menarik tekanan Kekuatanya terhadap tangan Kanan Tokugawa tersebut.
" Maaf kan aku Tuan Tokugawa.. Tapi!? " Tokugawa tidak meladeni pernyataan yang di sampaikan Haida tersebut.
Dia segera mendekati Chenghua dan membatunya untuk segera berdiri. " Apa yang ingin kau katakan!? " Tokugawa memberikan kesempatan Chenghua untuk berbicara.
" Ada seorang pria yang menyerang tempat kita saat ini."
DEEGGGG....
Jantung Haida tiba-tiba berdetak sangat kuat, dia sangat terkejut dengan kedatangan seseorang yang tidakk di undangnya saat ini. 'Apa mungkin mereka gagal lagi? ' Batin Haida
Tanpa di sadari Haida, Tokugawa juga merasakan ketakutan yang sama. Setelah mendengar penjelasan dari putra kesangyanganya tersebut.
Kiba mengatakan Orang Orang yang terprovokasinya itu memiliki kekuatan yang aneh. Setiap serangan senjata pusaka tingkat Dewanya itu tidak mampu melukai atau menyudutkan orang-orang tersebut.
__ADS_1
Tokugawa menjadi semakin gelisah, pantas saja Pusaka Baju Zirah Perangnya menjadi terdapat sebuah penyokan Zirah emasnya tersebut, selalu melindunginya di Medan perang bahkan saat-saat dia bertarung dengan Makhluk yang entah dari mana dia berasal.
Dia berhasil mengalahkan Mahluk aneh tersebut karena bantuan dua pusaka tingkat Dewanya, dan juga dengan bantuan pusaka baju Zirah perang Emasnya yang selalu melindunginya.
' Apa dia mencari ku.' Batin Tokugawa, dia sedikit bingung harus berbuat apa. " Kita sebaiknya segera menyambutnya." denga sedikit perasaan takut Tokugawa menyuruh Chenghua menunjukan lokasinya.
Tokugawa segera pergi keluar untuk menyusul seseorang yang tengah membuat kekacauan tersebut.
Melihat hal ini Haida menajadi lebih tenang, dia senang karena di sisinya ada Tokugawa yang bersamaya awalnya dia sangat terkejut mendengar kedatangan seorang pengganggu di pertemuanya tersebut.
Tapi saat mengingat sekuat apa orang-orang yang ia kirim, dia takut dia justru akan kalah apabila dia menghadapinya seorang diri ia juga takut akan berakhir mengenaskan.
" Ayaahhh.. Ayah.. " Saat Tokugawa dan Haida keluar dari tempat pertemuan mereka. Mereka di kejutkan dengan keadaan putra Haida yang sudah terluka parah dan kedua taganya sudah terpotong dari tubuhnya.
" Putra Ku.. " wajah Haida berubah seketika menjadi sangat geram. " Berani-Benianya kau melukai anakku sampai seperti ini.. Apa kau sudah bosan untuk hidup?! "
__ADS_1
Sakuta yang sedari tadi menoleh kebelakang, karena sudah sangat lama menunggu. Dia segera berbalik dan menatap Tokugawa dan Haida degan sinis.
Tokugawa mengamati sosok Sakuta yang ada di hadapanya tersebut, dia sungguh tak merasakan Mana atau Qi sama sekali dari tubuh Sakuta.
Dia mengingat betul Kiba mengatakan dia di kalahkan oleh seseorang yang tidak memiliki Qi atau Mana sama sekali dan memiliki kekuatan yang aneh, diam-diam Hati Tokugawa menjadi sangat terkejut dan takut saat sosok yang kini telah berdiri di hadapannya itu adalah orang yang dengan mudah mengalahkan ketiga Pusaka kesayanganya tersebut.
" Sepertinya pemuda itu ingin mencari mu dan mempunyai masalah dengan mu?! " Seru Tokugawa mengejutkan.
Sakuta mendengar dengan jelas ucapan Tokugawa, dia menatap ke arah Tokugawa sambil tersenyum.
" Hei.. Pak tua, jika kau juga ingin aku berurusan dengan mu aku tidak menolak ko!? justru makin banyak musuh makin menarik kan!? " Pernyataan Sakuta membuat semua orang terkejut, apalagi seakan dia menantang orang yang sangat di takuti di Benua Bukit ini.
" Haha.. Tidak Tidak anak muda, karena kau tidak memiliki kepentingan dengan ku lebih baik kau cukup berurusan denganya saja." Peryataan Tokugawa juga berhasil membuat jantung Haida sempat berhenti.
Dia belum pernah melihat Tokugawa yang angkuh itu seperti berhati-hati terhadap seseorang, Tokugawa yang selalu dia kenal adalah seseorang yang tidak terima kalau dia di singgung sedikitpun oleh seseorang.
__ADS_1
Tapi kali ini dia melihat Tokugawa seperti sedang berhati-hati dan seakan menghormati pria asing tersebut, Haida mengepalkan tanganya kuat karena merasa sangat kesal.
" Hei.. Jadi kau orang tua bodoh dari anak ini!? " Tokugawa menatap Haida dengan tersenyum dan seakan memiliki tatapan penuh arti.