
Laura segera mengenalkan diri di hadapan Sakuta, Helena dan Tomoe. Dia sangat kesulitan berkata-kata sehingga membuatnya terlihat lucu dan canggung.
Sakuta terus tertawa terbahak-bahak sehingga rasa canggung Laura semakin menjadi-jadi.
" Sakutaaa... " Seru Tomoe dengan geram. Sakuta langsung menegak-kan tubuhnya seakan seorang prajurit yang sudah siap melaksanaka tugas yang ia akan terima.
Melihat pertikaian dan perkelahian kecil yang sering terjadi antara Sakuta dan semua temanya. Membuat Laura tertawa, Sakuta bersama dengan yang lainya menjadi terkejut saat tau Laura bisa tertawa seperti itu.
" Ohhh... Tidak para penduduk desa!? Di mana mereka bersembunyi? " Seru Shigen dengan panik, sehingga membuat teman-teman yang lainya juga terkejut.
" Sudah tenang saja, mereka semua aman kok. Mari ikuti aku." Laura segera memandu teman-temanya menuju tempat persembunyian para warga atau penduduk di hutan ini.
Saat mereka sudah berada di depan mulut gua, tiba-tiba suara langkah anak kecil yang tengah berlari keluar dengan jelas terdengar jelas di telinga mereka.
" Lauranee-Chan.. Hiks.. Hiks.. Hiks.. " Shio berlari ke arah Laura dan segera memeluknya, melihat tangis yang mengharukan tersebut Tomoe beserta Helena langsung sepontan juga ikut memeluk Shio.
" Sudah lah jangan menangis terus.. Lihatlah banyak kakak yang akan selalu menjagamu." Helena beserta Tomoe melambai-lambaikan tanganya agar Shio kecil menjadi tenang.
AAA... AA.... HIKS.. HIKS..
Melihat tangis dan kesedihan Shio kecil membuat Shigen tidak bisa menahan air matanya dan terpaksa merembes keluar tanpa perintah atau keinginan Shigen sendiri.
Para penduduk juga ikut keluar dari dalam tempat persembunyian mereka, mereka hanya bisa tertunduk dalam melihat ke adaan Shio saat ini.
" Sakuta... Lebih baik Shio kecil ini kita bawa saja untuk perjalanan kita saat ini." Mendengar hal tersebut Sakuta tidak dapat membalas pernyataan Helena dan Tomoe.
" Bukanya aku tidak punya hati.. Tapi perjalanan kita akan lebih sagat berbahaya dari pada tadi." Semua orang terkejut mendengar pernyataan Sakuta, mereka mengerti maksud Sakuta tapi bagaimana dengan Shio kedepanya kalau dia tidak membawanya ikut bersamanya.
" Shio bisa membantu kok... Shio seorang Alkemis hebat, Kata kakek Shio selalu di butuhkan orang-orang." dengan tanpa di duga pernyataan Shio membuat Sakuta terkejut.
" Maksudmu apa? Nona kecil.. " Sakuta mencoba bertanya dengan pelan. Tapi karena Aura Sakuta sebagai seorang pendekar yang sangat hebat.
Membuat Shio menjadi sedih dan menangis karena takut, pandangan membunuh terarah pada Sakuta.
__ADS_1
" Apa? Kenapa? " Pertanyaan Sakuta tidak di jawab satu pun orang.. " Oh... oke baiklah.. Aku yang akan menjadi penjhat kali ini." Sakuta langsung membuang muka dan pergi.
Shigen yang melihat tingkah bodoh Sakuta membuatnya sedikit sakit kepala, " Sudah.. Biar aku yang akan mengurus pria bodoh itu."
Helena dan Tomoe mengangguk, Laura masih memeluki tubuh Shio agar dia tetap tenang. Laura mengerti bagaimana perasaan sedih seseorang saat meninggalkan atau di tinggalkan orang yang di cintai ya.
***
Sakuta berjalan sambil terus memanyunkan bibirnya karena kesal.
" Kau marah karena takut anak kecil itu akan terluka kan.. !? " Sakuta terkejut, hampir saja dia hendak melukai Shigen.
Sakuta menghempaskan nafasnya pelan. "Yah kau juga mengertikan, bagaimana rasa bersalah kalau kita tidak bisa melindungi seseorang yang meminta bantuan kepada kita untuk melindunginya."
Shigen mengangguk, dia mengisyaratkan bahwa dia memahami maksud Sakuta. " Aku pernah mengasuh seorang anak yang telah di tinggal mati oleh ledua orang tuanya.. Kami dapat hidup bahagia dalam beberapa hari, dengan anak-anak lain yang pernah aku tolong.
Tapi, Aku bersalah karena aku tidak memperhatikan setiap masalahnya karena banyaknya adik-adik angkat aku.
Dia memiliki kondisi tubuh yang sangat lemah, dia juga mengidap seatu penyakit yang sedari kecil terus menggerogoti tubuhnya.
Setelah aku bersama adik-adikku terus merawatnya dan terus berusaha mengobatinya. Anak itu kemudian mati.
Aku sangat menyesali setiap langkah dan hidupku. Aku yang mencoba untuk melindunginya, tapi malah aku yang seakan membuatnya terbunuh karena penyakitnya."
Mendengar cerita Sakuta, Shigen tiba-tiba menyerangnya dan memukulnya dengan keras.
" Apa kau bodoh.. Kalau aku anak itu aku pasti akan senang!? " Mendengar perkataan Shigen membuat Sakuta mengerutkan dahinya. Sakuta langsung membalas pukulan Shigen dengan keras juga.
" Senang bagaimana, gara-gara aku tidak memperhatikannya dia mati gara-gara aku.." Teriak Sakuta lantang.
Shigen tertawa sambil menutupi wajahnya dengan telapak tanganya. " Kau tau!? Kenapa dia tidak memberitahumu tentang penyakitnya."
Wajah Sakuta menjadi sangat serius.
__ADS_1
" Dia sengaja tidak ingin memberitahukanmu karena tidak ingin membebanimu, melihat bagaimana kau menyayangi anak-anak lain dia mencoba membantumu dengan cara anak itu sendiri."
Sakuta terduduk sampai berlutut di hadapan Shigen. Dia berteriak dengan keras karena tidak menyadari hal tersebut.
" Maafkan aku.. Maafkan aku.. " Sakuta berteriak sejadi-jadinya sampai air matanya merembes keluar karena menangis.
Hujan tiba-tiba turun dan membasahi semua makhluk hidup yang ada di muka bumi ini. Sakuta membiarkan dirinya terhujani air-air itu.
Shigen menatapinya untuk beberapa saat, dia kemudian menghilang menggunakan tehnik teleportasinya kembali menuju tempat Laura dan yang lain berada.
WUSHSHH...
Angin kencang terdengar oleh semua orang yang ada di dalam gua untuk berlindung dari hujan. " Siapa itu?! " Helena langsung beranjak keluar untuk mengecek sumber suara yang ada di luar Gua.
Saat dia berjalan perlahan sedikit demi sedikit, dia tiba-tiba langsung di kejutkan oleh seseorang yang muncul di depanya tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.
Tubuh yang tinggi besar dengan pakaian yang basah kuyup, lagsung muncul di hadapanya tiba-tiba.
Saat Helena hendak berteriak dan meneriaki orang misterius tersebut, laki-laki itu langsung membungkam mulutnya dengan cepat.
Helena yang sedikit merasa kesal karena tangan orang misterius tersebut menyentuh wajahnya, dia langsung menghempaskannya cukup jauh menggunakan tenaga dalamnya.
" Hei.. Tunggu kenapa kau mau membunuhku!? " Suara dari orang misterius tersebut membut Helena terkejut.
Dia sangat mengenali suara itu, " Shigen... " Helena mencoba menyakinkan pertanyaan di dalam kepalanya dengan memanggil nama Shigen.
" Kau sudah sadar akhirnya... Kenapa kau seperti mau membunuhku?! "
" He.. He.. He.. Maaf kan aku.. Aku hanya terbawa suasana saja." Helena menguelus elus ke palanya karena sedikit malu.
" Oh iya.. Dimana orang bodoh itu?! " tanya Helena tiba-tiba.
" Kau melupakan kesalahanmu, dan berpura-pura menanyakan seseorang.." Shigen sedikit kesal.
__ADS_1
" Ayolah.. Tuan Shigen kau jangan seperti anak kecil." Seru Helena dengan wajah risi.
" Kalian berdua sangat Akrab yahh... " Laura tiba-tiba mencul dari belakang Helena dan mengejutkan mereka berdua.