
Setelah kejadian itu Charlot tidak berani menyinggung sedikit pun perasaan Sakuta. Dia mengadakan pertemuan yang sagat rahasia dengan seluruh pemuka warga desanya untuk membahas hal yang baru dia alami.
Setelah pertemuan itu akhirnya dalam kurun waktu hanya beberapa jam, nama Sakuta menjadi banyak di bicarakan oleh penduduk dan orang-orang desa sekitar, di karena kan mereka semua seorang gadis.
Mereka semua berlomba-lomba ingin melihat sosok Sakuta seperti apa, jadi mereka rela menunggu di luar istana Charlot demi Sakuta keluar meski hanya untuk menyambut mereka semua saja.
Helena yang lebih dahulu melihat kerumunan gadis-gadis yang berada di luar istana itu, segera memberitahukan prihal tersebut kepada Tomoe yang baru sadar dan pulih dari lukanya.
" Dia.. Laki-laki yang sangat beruntung ya.. " Sambil meremas selimutnya yang tadi dia pakai, wajah Tomoe langsung berubah menyeramkan dan membuat merinding Helena yang melihatnya.
" Sekarang, dia sedang apa? " tanya Tomoe kembali, Helena yang masih belum melihat sosok Sakuta sampai pagi hari ini sedikit kebingungan harus menjawab apa.
" Pasti dia sedang enak-enakan meladeni gadis-gadis itu!? " Seru Tomoe sambil memayunkan mulutnya. Wajah Helena langsung ikut berubah saat Tomoe berkata demikian.
" Kalau memang dia seperti itu, aku tidak akan tinggal diam aku pasti membunuhnya. " Seru Helena.
" Hei.. kenapa kau juga ikutan marah? " Tanya Tomoe terkejut.
" Hei... Dia masih bukan milik siapa-siapa apa kau tau!? "
__ADS_1
" Hooo... Okey, jadi kau menantang ku memperebutkan dia."
" Ha.. ha.. ha.. ha.. ha.. Baiklah siapa yang takut."
Helena langsung membuang wajahnya dari pandangan Tomoe sehingga itu berhasil membuat urat-urat di kepala Tomoe keluar karena emosi.
KYAAAHH...
KYAAAHHH...
KYAAAHHHHH....
Helena dan Tomoe berbarengan keluar dari tempat mereka, saat ini mereka berdua berjalan dengan mengeluarkan aura pembunuh mereka di setiap langkahnya.
***
Sakuta yang baru terbangun dan hendak mau membuka jendela kamarnya langsung panik karena saat dia baru membuka jendela kamarnya tersebut, puluhan wanita sudah berkumpul dan berhisteris saat melihat wajahnya saat ini.
" Apa-apa an ini.. " dengan cepat Sakuta langsung menutup jendela kamarnya tersebut.
__ADS_1
Sakuta mengusap keringat yang baru keluar dari keningnya, dia mengeluarkan nafasnya dengan lega saat keterkejutannya itu selesai teratasi.
Tapi tiba-tiba terdengar pintu kamarnya yang terbuka dengan di banting oleh seseorang, Sakuta langsung terkejut tapi tubuhnya tiba-tiba merasakan aura yang sungguh mengerikan saat suara langkah kaki memasuki kamarnya.
Langkah kaki itu semakin mendekatinya dengan perlahan-lahan, Sakuta sempat menelan ludahnya dan mundur sedikit demi sedikit kebelakang sampai terpojok ke arah dinding.
Saat dia tau siapa pemilik langkah kaki tersebut, dia sedikit tenang tapi ternyata langkah kaki bersama dengan aura yang menyeramkan itu, di miliki dua orang wanita yang tidak lain adalah Tomoe dan Helena.
Wajah mereka saat ini begitu sangat marah dan emosi.
" Tunggu.. Apa salahku? " tanya Sakuta gugup.
" Apa kau sudah memberi salam ke para gadis-gadis itu? " Tomoe dan Helena berbarengan berbicara.
" Aku tidak meladeni mereka.. Sungguh.. " Sakuta terus menjauh sedikit demi sedikit menyamping untuk menghindari aura mengerikan milik Tomoe dan Helena.
" Hooo.. Tadi teriakan apa? " Seru Tomoe..
" Ara.. Ara.. Pagi-pagi kalian bertiga sudah bersemangat."
__ADS_1