Legenda Ninja Angin

Legenda Ninja Angin
Permintaan Charlot.


__ADS_3

Charlot tersenyum kepada Sakuta, Tomoe dan Helena sambil melambai-lambaikan tanganya. " Apa aku mengganggu kalian semua? "


" Tidak.. Kau tidak mengganggu.. Lebih baik kau jelaskan kepada mereka berdua kenapa gadis-gadis itu seakan menungguku di luar." Seru Sakuta terburu-buru.


" Tunggu.. Berarti kalian berdua.. mm..." Tomoe dan Helena langsung menutup mulut Charlot dengan paksa.


" Kau sebaiknya tunggu di sini!? " Helena menatap sakuta dengan tajam.


" Baik.. " Sakuta terpaksa berdiri sambil mematung karena takut membuat marah Helena beserta Tomoe.


***


" Tunggu.. Kalian mau membawaku kemana?" seru Charlot.


" Diam... " Tomoe dan Helena bersamaan menyentaknya. " Kau tadi mau mengatakan apa? " Helena bersama Tomoe kompak mengancamnya bersamaan.


" Baiklah.. Aku mengerti maksud kalian." Charlot melepaskan tangan mereka berdua dari bajunya yang di genggam.


" Aku ingin membahas hal penting dengan kalian bertiga. Aku sudah menyiapkan ruangan khusus untuk kita."


" Baiklah.. Kami juga hendak mau membicarakan hal penting dengan dirimu."


***


Mereka berempat sudah berkumpul di dalam ruangan yang sengaja Charlot siapkan untuk mereka berempat.


Sakuta duduk dengan tubuh gemetar di antara dua wanita cantik di sampingnya.


" Ehem... meja ini sangat besar kenapa kalian bertiga berdesak-desakan? "


" Kau.. Ben.." sebelum menyelesaikan ucapannya pinggang Sakuta langsung di cubit dengan keras oleh Tomoe dan Helena.


" Kita, hanya mau menjaga seseorang agar tidak kabur!? Benarkan Tomoe." Tomoe menatap ke arah Helena sambil mengangguk.


" Baiklah.. Terserah kalian! Aku akan lebih serius." wajah Charlot langsung berubah. "Aku mau meminta kalian untuk tetap berada di sini!? Dan tidak mau membiarkan kalian untuk pergi."


Sakuta, Tomoe dan Helena langsung mengerutkan dahi mereka. " Kenapa kau berkata demikian.. Kami masih memiliki tempat yang harus kami tuju untuk saat ini."

__ADS_1


" Awalnya kami tidak tau kalau kalian memiliki kekuatan yang sehebat ini. Aku sebagai pemimpin di negri ini tidak akan membiarkan kalian pergi!? Aku sudah melihat sendiri bagaimana kekuatan musuh kalian.


Aku takut dengan tidak adanya kalian negri kami akan hancur setelah mereka datang kembali dan membalaskan dendam mereka justru ke sini." Seru Charlot sedikit gemetar.


Sakuta langsung berdiri dan menatap ke arah Charlot dengan tajam, " Justru kalau aku masih di sini kota dan kerajaan kalian mungkin akan hancur!? Kau tau mereka bisa kemari karena mereka sedang mencarimu, justru aku takut kalau aku masih di sini kalian juga akan mendapatkan imbasnya."


" Kami sudah menceritakan tentang organisasi berbahaya tersebut kepada kalian, apa kalian masih belum mengerti tentang krisis yang mungkin akan menjadi bahaya untuk umat manusia di muka bumi ini? " Bentak Helena karena tidak setuju.


Charlot menenangkan pikiranya untuk kembali membahas masalah ini, " Baiklah kalian berdua memang boleh pergi. Tapi untuk Sakuta kami tidak bisa membiarkanya pergi."


" Kenapa kau berbicara seperti itu. Sakutalah kunci keselamatan untuk dunia kita saat ini." Tomoe yang sering tidak bersuara ketika mereka berbincang dan membahas masalah penting kini tiba-tiba dia begitu sangat marah dan emosi.


Semua orang langsung terkejut ketika Tomoe berteriak tidak seperti biasanya, Tomoe langsung diam setelah berkata demikian dan langsung duduk dan merapikan pakaiannya.


Charlot mendengus pelan, " Tapi... negri kami hanya terdiri oleh para pempuan, kami semua tidak memiliki suami atau seorang laki-laki yang menjaga kami!? Kami takut kalau negri kami akan di serang kembali."


" Itu tidak mungkin, tujuan mereka saat itu mau mengujiku. Kalian jangan takut." Seru Sakuta.


Wajah Charlot langsung berubah tiba-tiba setelah Sakuta berkata demikian. " Baiklah aku akan membantu kalian kembali dan pergi!? Tapi.. Aku ingin tuan Sakuta membantu negri ini sekali lagi? "


" Aku ingin tuan Sakuta membuahi kami semua.. "


APAAAAHHHH..... ????


Teriak Tomoe dan Helena bersamaan. " Apa maksudmu berkata demikian.. ? " Seru Helena. " Kau mau bilang Sakuta boleh pergi asal dia mau menghamili para wanita yang hidup disini.. Apakah kau bodoh? "


Tomoe dan Helena yang lebih aktif membantah permintaan Charlot. Tapi Charlot tidak menghiraukan mereka berdua tapi lebih fokus menatap ke arah Sakuta yang kini wajahnya memerah.


" Ini bukan urusan kalian berdua.. Tapi ini khusus permintaan kami terhadap Tuan Sakuta!? Jadi bagaimana menurutmu tuan Sakuta." Charlot kembali menyakinkan ucapanya terhadap Sakuta.


" Kau boleh memilih wanita manapun di negri ini, mereka juga tidak mungkin menolakmu.. "


Kini Sakuta yang menjadi gugup dan gemetar, karena Tomoe dan Helena langsung menatap ke arahnya dengan melepaskan aura pembunuh mereka berdua, Sehingga membuat Sakuta sedikit kesulitan untuk harus menjawab seperti apa.


" Aku tidak berani menjawab atau menolak. Tapi karena aku sudah memiliki dua wanita cantik!? Jadi maaf kan aku." Sakuta berkata demikian sambil wajahnya memerah.


Tomoe beserta Helena pun juga ikut terkejut setelah Sakuta berkata demikian, wajah mereka berdua juga ikut memerah karena malu.

__ADS_1


" Tapi... " Charlot sudah kehilangan cara bagaimana harus membujuk Sakuta untuk tetap tinggal di negerinya tersebut.


" Baiklah.. Aku akan menghormati keputusan kalian bertiga, kami hanya bisa berdoa dan berterima kasih atas pertolongan kalian ketika menghadapi orang misterius tadi."


" Itu bukan masalah.. Aku juga ingin meminta maaf tidak bisa memenuhi keinginan para gadis di negri ini."


Charlot terkejut karena wajah Sakuta tiba-tiba terlihat lebih gagah dan tampan ketika berkata demikian.


DEGG...


DEGG...


DEGG...


Tomoe dan Helena langsung berada di samping Sakuta dengan cepat, " Heh... setelah kau menenangkan kami kini kau kembali membuat kami harus terus mengawasi mu ya.. Sakuta?? "


" Tidak... Aku hanya mau meminta maaf kepada putri Charlot."


" Hooo... Apa harus untuk membuatnya merasa malu? " Seru Tomoe.


" Itu.. Itu... Baiklah maaf kan aku."


Pertengkaran kecil mereka membuat Charlot tertawa dan melupakan permasalahanya tadi, Sakuta mempunyai sifat yang sedikit aneh sehingga membuat Charlot begitu terbahak-bahak menertawakan tingkah mereka bertiga.


" Kami memiliki sebuah tehnik leportasi khusus untuk memindahkan kalian bertiga."


" Kenapa kalian tidak pergi dari negri ini kalau kalian memiliki tehtik seperti itu? "


" Itu.. Karena kami ingin selalu menjaga kota ini.. meski kami pun tidak menolak atau mengungkiri bahwa kami membutuhkan seorang laki-laki di sini tapi kami lebih mencintai tanah kelahiran kami."


Perkataan Charlot membuat sedikit getaran di dada Sakuta, sehingga membuatnya tersenyum sambil melihatnya.


" Ehem.... " Helena kembali menarik telinga kiri Sakuta yang baru pulih dari kemerahannya akibat di tarik oleh Tomoe dan Helena tadi.


" Kami juga mau berterima kasih untuk tempat tinggal dan hal lainya saat kami berada di sini."


" Itu tidak masalah.. oh kami sudah menyiapkan sarapan untuk kita semua lebih baik kalian cepat membersihkan tubuh kalian. Dan segeralah datang di ruang makan istana ini untuk menyantap makanan yang sudah kami siapkan."

__ADS_1


__ADS_2