
Tomoe menolak usulan Charlot, yang hendak menaruh Sakuta untuk tidur di dalam penjara bawah tanahnya.
Kurungan bawah tanah itu yang memang sengaja di tunjukannya untuk mengurung Sakuta, tapi permintaan Charlot itu tidak di perkenankan oleh mereka berdua. Mereka berdua berpikir mungkin Sakuta akan lebih baik bersamanya yaitu Tomoe dan Helena.
Wajah Charlot sedikit kesal mendengar apa yang di ucapkan Tomoe dan Helena tadi, dia mengumpat terus Tomoe dan Helena. Sambil menatap lurus ke arah mereka berdua dengan tatapan tajam.
Setelah perdebatan kecil mereka, Sakuta akhirnya di bawa oleh Tomoe dan Helena untuk segera pergi kedalam kamar mereka agar mereka bisa segera tidur dan beristirahat kedalam kamar yang Tomoe dan Helena tempati itu.
Sakuta akhirnya merasakan kembali arti dari sebuah kebebasan, dia yang dari tadi menundukkan wajahnya di hadapan Charlot segera mengangkat kepalanya kembali.
Entah ada apa dengan Charlot atau mungkin yang aneh itu dirinya sendiri, tapi yang jelas insting kelelakianya mengatakan kalau dia harus menjauh dari Charlot dan berhati-hati terhadapnya.
Setelah sampai di depan sebuah pintu kamar, Sakuta tiba-tiba langsung berlari dengan bersemangat dan dia hendak membuka ampan pintu ruangan yang akan mereka bertiga tempati itu.
Tapi dia langsung di tahan oleh Helena sambil menarik kerah bajunya, " Eits, tunggu dulu! Siapa yang menyuruhmu masuk? kamar ini kamar kami berdua. Tapi karena ini demi untuk melindungimu kau boleh masuk dan tidur bersama kami."
__ADS_1
Mendengar hal itu Sakuta langsung tersenyum senang, tapi itu hanya berlaku untuk beberapa saat.
" Tapi, kalau kau berani berbuat hal bodoh terhadap kami." Helena mengepalkan tangannya dengan ekspresi wajah yang begitu kesal menatap ke arah Sakuta.
Seakan dia hendak mau memukul-mukul Sakuta layaknya seperti sebuah adonan kue, Tomoe yang dari tadi memang tidak menghiraukan tingkah kedua temanya tersebut.
Dia langsung masuk tanpa menghiraukan mereka berdua, Helena sebenarnya sedikit kesal dengan sikapnya Tomoe tersebut.
Karena dia seakan tidak peduli tentang status asli Sakuta, meski Tomoe sudah mengenalnya tapi tetap saja Sakuta adalah seorang laki-laki. Kalau seorang wanita tidak tegas dan berhati - hati terhadapnya itu juga mungkin akan membayakan mereka berdua, bahkan sepertinya mungkin Sakuta pun bisa menggila itulah yang di pikirkan oleh Helena.
Helena dan Sakuta kemudian menyusulnya masuk ke dalam kamar, ketika mereka semua telah masuk ke dalam kamar mereka. Helena segera melemparkan sebuah selimut dan bantal ke wajah Sakuta.
" Kau tidur, di depan pintu! Awas kalau kau berani berbuat macam-macam terhadap kami." Helena kembali mengancam Sakuta dengan wajah serius.
Dengan Wajah yang sedikit khawatir Sakuta hanya bisa mengiyakan apa yang di inginkan temanya tersebut.
__ADS_1
Beberapa jam kemudian. Telah berlalu, Sakuta menengok ke arah tempat tidur Helena dan Tomoe. Matanya seakan masih susah untuk di ajak tidur.
Dia melihat Tomoe dan Helena sudah tertidur dengan nyenyak di tempat tidur mereka, Sakuta kembali mengubah arah pandangannya ke arah atap kembali.
Dia meratapi kejadian akhir - akhir ini yang telah terjadi padanya, dia yang awalnya merupakan seorang Ninja biasa yang bahkan selalu gagal tapi kemudian mendapatkan sebuah hukuman karena kebodohanya.
Dan anehnya hukumannya tersebut justru itu telah mengubah hidupnya menjadi seratus delapan puluh derajat berubah, dia kini telah lupa bagaimana saat - saat dirinya berusaha untuk menjadi seorang Ninja yang lebih kuat dari orang lain.
Di tengah lamunanya dia kemudian tersenyum, sambil sedikit tertawa mengingat hal-hal dulu, tapi. Tawanya beserta senyumannya tersebut tiba-tiba langsung menghilang setelah merasakan kehadiran sepuluh orang yang memiliki kekuatan tidak biasa tengah mengelilingi kamar mereka tersebut.
' Mereka bukan pengawas ujian-kan?' Batin Sakuta dengan mengerutkan dahinya tersebut.
Dia kemudian berdiri..
____
__ADS_1
Bagi Vote, Like, dan tanda suka kalian Dong Agar Author enggak males Updetnya...