
" Tunggu, di mana baju yang ku pakai tadi? apakah kau yang telah menggantikanya? " Wajah Sakuta berubah panik dengan telinga yang memerah.
" Yah, aku yang emnggantikanya! Karena seluruh bajumu basah aku takut kau malah tambah sakit! Oh ya? Aku mau menanyakan sesuatu kepadamu, kenapa dadamu bisa begitu rata? aku belum pernah melihat orang dengan dada yang begitu rata seperti itu! dan benda apa yang mengamgantung di antara selangkanganmu itu? ku pikir itu mirip seperti jamur, jadi aku coba terus menariknya tadi.
Tapi jamur itu susah di cabut!? apa memang itu permanen? Bahkan jamur itu malah semakin membesar dan terus mengeras ketika ku pegang, setelah aku tarik jamur itu terus-menerus kayaknya jamur itu malah marah dia malah nyembur cairan putih panas yang baunya aneh ke wajahku."
Lucy itu kemudian malah menggoyang-goyangkan tangan kanannya, seakan mempraktikan bagaimana dia mencoba menarik benda yang di kiranya sangat aneh di tubuh Sakuta.
Wajah Sakuta berubah menjadi sangat serius dan panih, "Lebih baik, kau jangan menceritakan hal itu kepada orang lain." Sakuta berbicara sambil berwajah datar.
Lucy menyipitkan matanya sedikit curiga, "Baiklah, tidak masalah! Terus apa yang akan kamu lakukan sehabis ini?"
Sakuta kemudian diam dan seakan dia sedang berusaha berpikir, " Mungkin aku akan mencari teman-temanku dulu! Apakah kau mau membantuku? "
Lucy menghembuskan nafas pelan dan dengan ekspresi malas, " Baiklah mungkin aku akan membantumu! Oh, apakah ketiga pedang ini milikmu?" Sambil menyodorkan ketiga pedang yang di tanyainya tersebut.
__ADS_1
" Dua dari pedang itu, memang milikku tapi yang satunya milik temanku! Oh iya namamu Lucy kan aku berhutang banyak kepadamu Terima kasih! " Sakuta memberi hormat dan tersenyum.
Wajah Lucy tiba-tiba terkejut, sambil malu-malu dia menjawab, "Itu tidak masalah menurutku! " Lucy menggaruk-garuk kepalanya, dan tiba-tiba tanpa Lucy sadari air matanya keluar membasahi pelupuk matanya.
Sakuta terkejut, " Eh? Apakah aku berbuat salah padamu? Kalau begitu maafkan aku jika tanpa sadar aku telah menyinggungmu Lucy!"
" Hemm.. Sudah ku bilang aku tidak papa bodoh! " Lucy masih mengusap-usap sisa air mata di pipinya.
Tiba-tiba Sakuta terdiam sesaat sambil wajahnya terlihat sedang berpikir dengan serius.
" Memangnya ada apa? " Lucy masih kebingungan oleh sikap Sakuta yang sulit di tebaknya.
Lucy menunggu cukup lama jawaban Sakuta sampai keringat dingin keluar dari keningnya.
" Perutku begitu lapar.. Aku mau makan dulu boleh?" jawab Sakuta seakan ini memang darurat.
__ADS_1
Wajah Lucy berubah datar dan kelihatan jengkel, " Baiklah, kau memang harus makan dulu." Lucy sedikit mengumpati Sakuta dalam hatinya.
Lucy segera menyiapkan semua makanan yang dia punya di meja makanya, karena mungkin saking laparnya Sakuta, dia dengan lahapnya menyantap semua makanan yang telah di sandingkan Lucy.
Wajah Lucy seakan terkejut dengan pemandangan orang yang begitu rakus, memakan semua masakannya, " Pfffft, aku baru lihat orang makan sepertimu Sakuta."
" Yah, mau gimana lagi, akukan seorang pria jadi porsi makananku berbeda dari wanita wajar kau baru pertama kali lihat."
Wajah Lucy langsung berubah mendengar ucapan Sakuta, dia menggigit jari telunjuknya dengan wajah seakan berpikir serius.
" Sakuta? apa mungkin aku salah dengar! kau tadi bilang kau seorang pria?" Lucy bertanya dengan wajah yang serius, seakan memang mencari jawaban dari pertanyaannya tersebut.
Dengan mulut yang masih penuh dengan makanan Sakuta mencoba menjawab pertanyaan Lucy sambil makanan yang di kunyahnya menyembur keluar dari mulutnya.
Wajah Lucy langsung berubah seakan habis terintimidasi oleh Sakuta, "Lebih baik kau habiskan dulu makananmu! aku mungkin yang salah karena bertanya ketika kau sedang makan." setelah melihat tadi Lucy memegangi perutnya, karena dia seperti merasakan sesuatu yang tidak enak di perutnya.
__ADS_1